Jaga Stabilitas Kawasan, Indonesia dan Vietnam Tegaskan Komitmen Sentralitas ASEAN!
astakom.com, Jakarta – Kepastian jaminan keamanan jalur dagang maritim, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta kemudahan akses mobilitas antardestinasi di Asia Tenggara menjadi sorotan utama publik seiring langkah konkret Indonesia dan Vietnam yang sepakat mempererat kemitraan strategis guna menjaga stabilitas kawasan.
Komitmen dua negara dengan kekuatan ekonomi paling dinamis ini secara langsung menyentuh kepentingan masyarakat luas, mulai dari kepastian iklim usaha yang aman hingga pembukaan peluang pariwisata lintas negara yang lebih terjangkau.
"Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia dan Vietnam adalah dua kekuatan ekonomi paling dinamis di Asia Tenggara dengan potensi luar biasa untuk berkontribusi pada pertumbuhan dan ketahanan kawasan yang berkelanjutan" tutur Menlu Sugiono dalam agenda Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) ke-6 di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, Selasa (14/07/2026).
Sinergi ekonomi
Dalam forum JCBC tersebut, Menlu Sugiono menekankan kalau di tengah ketidakpastian situasi geopolitik dunia, masa depan hubungan bilateral antara Indonesia dan Vietnam tidak boleh terjebak dalam arus persaingan regional.
"Dengan memanfaatkan kekuatan kita yang saling melengkapi, kita akan mendorong inovasi, memperdalam kerja sama, dan memajukan kemakmuran bersama demi kemaslahatan kedua bangsa." jelas Sugiono.
Selain memperkuat kerja sama bilateral, kedua menteri luar negeri memanfaatkan pertemuan ini untuk bertukar pandangan mengenai dinamika keamanan regional dan global.
"Selain itu, kami juga bertukar pandangan mengenai perkembangan regional dan global, serta menegaskan kembali pentingnya sentralitas dan kesatuan ASEAN untuk menciptakan kawasan yang stabil dan damai sebagai prasyarat bagi masa depan yang makmur" ungkap Sugiono.
"Selain itu, kita akan bekerja sama secara erat di forum-forum regional dan global demi kepentingan kedua negara, serta demi perdamaian, stabilitas, dan kerja sama di kawasan maupun di dunia." jelas Menlu Vietnam Lê Hoài Trung.
Fokus ASEAN
Indonesia dan Vietnam secara konsisten menyuarakan pentingnya menjaga kesatuan serta sentralitas ASEAN. Bagi kedua negara, ASEAN yang solid merupakan prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar untuk menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara.
"Sebagai sesama anggota ASEAN, kita juga berbagi visi yang sama untuk memajukan kawasan yang damai, stabil, tangguh, dan makmur. Kami sangat meyakini bahwa masa depan hubungan bilateral kita tidak terletak pada persaingan, melainkan pada kemitraan" ungkap Sugiono.
Akses wisata
Implementasi kemitraan strategis ini telah membawa dampak real pada sektor pariwisata dan konektivitas udara.
Melalui pembukaan rute penerbangan langsung baru yang menghubungkan kota-kota besar di Vietnam seperti Hanoi, Kota Ho Chi Minh, dan Da Nang dengan wilayah utama di Indonesia termasuk Jakarta, Bali, Medan, dan Surabaya.
"Lebih banyak rute penerbangan telah dibuka, menghubungkan kota-kota besar di Vietnam seperti ibu kota Hanoi, Kota Ho Chi Minh, dan Kota Da Nang, dengan wilayah-wilayah utama di Indonesia. Sekarang kita memiliki penerbangan langsung ke Jakarta, Bali, Medan, dan Surabaya" papar Menlu Vietnam Lê Hoài Trung.
Menlu Vietnam mengungkapkan kalau jumlah wisatawan asal Indonesia ke Vietnam meroket hingga 30 persen pada empat bulan pertama tahun 2026.
"Sebagai hasilnya, jumlah wisatawan dari Indonesia melonjak sebesar 30% pada empat bulan pertama tahun 2026" jelas Lê Hoài Trung.
Laut China Selatan
Salah satu isu krusial yang dibahas adalah komitmen tegas kedua belah pihak dalam menjaga keamanan navigasi laut, serta perdamaian di wilayah Laut Timur atau yang dikenal secara internasional sebagai Laut China Selatan.
"Sebagai contoh, mengenai perlunya menjaga keamanan bisnis, stabilitas, dan kerja sama di Laut Timur (Laut China Selatan), serta kesepakatan penting yang kita miliki bersama di Laut Timur" papar Menlu Vietnam Trung.
Menlu Vietnam berharap kerja sama di wilayah perairan strategis tersebut dapat segera diimplementasikan secara optimal berdasarkan kerangka kerja Kemitraan Strategis Komprehensif dan Rencana Aksi (Plan of Action) yang disepakati.
"Kami sangat berharap dan menantikan implementasi dari kesepakatan-kesepakatan antara kedua negara, khususnya mengenai kesepakatan antara para pemimpin kita mengenai kerangka kerja Kemitraan Strategis Komprehensif dan Rencana Aksi yang kita miliki hari ini" ungkapnya.
Sebagai penutup, Menlu Sugiono mengisyaratkan bahwa koordinasi bilateral tidak akan berhenti pada forum formal JCBC saja, melainkan akan terus diintensifkan melalui kunjungan kerja non-formal ke Vietnam guna mempercepat realisasi seluruh kesepakatan demi kemaslahatan kedua bangsa.
"Saya sangat menantikan JCBC ke-7 kita, dan tentu saja tidak hanya melalui pertemuan tersebut, saya juga menantikan kunjungan ke Vietnam dalam kapasitas saya sebagai menteri luar negeri di berbagai acara lainnya" jelas Sugiono.
"Kunjungan tersebut tidak harus berupa kunjungan formal, Yang Mulia, karena seperti yang kita ketahui, kita telah berbicara dengan sangat luas mengenai potensi kerja sama yang dapat dimiliki oleh kedua negara kita, dan saya ingin memperdalam potensi tersebut. Tentu saja harus ada banyak pertukaran di antara kita di luar pertemuan formal JCBC" tutupnya. (nAD/aNs)









