Comeback Setelah 4 Tahun! Tulus Rilis ‘Teh Hijau’, Lagu Baru yang Ajak Pendengar Berdamai dengan Luka
astakom.com, Jakarta – Setelah sekitar empat tahun tidak merilis karya solo baru, musisi sekaligus penulis lagu Tulus akhirnya kembali menyapa para pendengarnya lewat single terbaru berjudul "Teh Hijau". Lagu yang resmi dirilis pada 30 Juni 2026 ini langsung mencuri perhatian publik dan menjadi perbincangan di media sosial, sekaligus menandai babak baru perjalanan musik pelantun Monokrom tersebut.
Kembalinya Tulus disambut antusias oleh para penggemar yang telah lama menantikan karya terbaru dari penyanyi bernama lengkap Muhammad Tulus Rusydi itu. Menjelang perilisan, ia sempat mengunggah teaser bernuansa hijau bertuliskan "Sudah garis jalannya, esok 30 Juni 2026," yang sukses memancing rasa penasaran warganet.
Melansir kanal resmi YouTube Tulus, "Teh Hijau" resmi dirilis pada 30 Juni 2026 dan telah tersedia di berbagai platform musik digital. Lagu ini ditulis langsung oleh Tulus, baik dari sisi lirik maupun komposisi melodi, sementara proses produksi dan aransemen musik kembali dipercayakan kepada Yoseph Sitompul. Video resmi yang diunggah di kanal YouTube Tulus juga memuat kredit lengkap para musisi dan tim produksi yang terlibat dalam penggarapan lagu tersebut.
"Teh Hijau" jadi cerita tentang proses pulih
Di balik judulnya yang sederhana, "Teh Hijau" membawa pesan emosional yang cukup dalam. Lagu ini bukan sekadar menceritakan kisah patah hati, melainkan perjalanan seseorang yang sedang kehilangan kemampuan untuk merasakan cinta maupun kebahagiaan.
Berdasarkan ulasan media nasional, Tulus menarasikan fase ketika seseorang merasa hatinya perlahan tertutup dan emosinya menjadi dingin. Namun, alih-alih menawarkan penyelesaian yang instan, lagu ini justru mengajak pendengar menerima bahwa setiap orang memiliki waktu masing-masing untuk memulihkan diri.
Masih melansir media tersebut, simbol "teh hijau" dimaknai sebagai representasi ketenangan, kesederhanaan, serta harapan untuk menemukan kembali keseimbangan batin. Pesan yang ingin disampaikan bukan tentang memaksa diri untuk segera bangkit, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri agar dapat pulih secara alami.
Ditulis oleh Tulus, diproduseri Yoseph Sitompul
Seperti banyak karya sebelumnya, Tulus kembali terlibat penuh dalam proses kreatif lagu ini. Berdasarkan keterangan resmi pada video yang diunggah di kanal YouTube Tulus, ia menulis sendiri lirik sekaligus komposisi melodi "Teh Hijau".
Sementara itu, Yoseph Sitompul kembali dipercaya sebagai produser dan arranger. Kolaborasi keduanya menghasilkan aransemen musik yang terdengar ringan dan hangat, namun tetap mampu menyampaikan emosi yang kuat melalui setiap bait lagu.
Tak lama setelah dirilis, video resmi "Teh Hijau" juga masuk jajaran Trending Musik YouTube Indonesia, menandai tingginya antusiasme publik terhadap comeback Tulus setelah vakum merilis karya solo selama sekitar empat tahun.
Lirik puitis yang dekat dengan banyak orang
Salah satu kekuatan utama "Teh Hijau" terletak pada penulisan liriknya. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh metafora, Tulus kembali menghadirkan karya yang mudah dipahami sekaligus membuka ruang interpretasi bagi setiap pendengar.
Melansir dari unggahan youtube resmi Tulus, Lirik Lagu Teh Hijau
Hari-hari berulang
Misteri lenyap senang
Ada saran kudengar
Lebih sering keluar ke alam
Saran lain kudengar
Cari hal asing yang menantang
Keluar dari benteng
Dari tempatmu yang sekarang
Tak ada yang hilang dariku belakangan
Sedang tak mudah bertemu rasa senang
Sedang kucari yang jadi pencetusnya
Mungkin hilangnya atau siklus hidupku
Mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Dan mungkin aku memang sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Woah-oh, woah-oh-oh (Apapun, siapapun)
Tambah gerak tubuhmu
Baca buku yang baru
Ragam saran brilian
Yang belum kunjung jadi penawar
Untuk yang hilang dariku belakangan
Sedang kucoba memahami alurnya
S'moga segera kutemukan jawaban
Tapi kini kurayakan hampa ini, oh
Mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Dan mungkin aku memang sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Kulihat mana di kendaliku
Teh hijau ini yang di tanganku
Di tengah seram sedih yang menghantamku, uh
Lepaskan, lepas kemurunganku
Hijau kembali jiwa gersangku
Ambillah sayang sebanyak waktu yang kau perlu
Mungkin (Aku sedang tak bisa), aku sedang tak bisa
(Tak bisa jatuh cinta) Tak bisa jatuh cinta
(Membuka hati 'tuk apapun, siapapun) Uuh
Dan mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
(Membuka hati 'tuk apapun, siapapun) Aah
Tanpa itu, tanpanya
Apapun yang mungkin hilang itu (Sabar, sayang)
Mungkin ini siklusnya
Sudah garis jalannya
Esok, esok akan lebih elok
Dan mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Dan mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati 'tuk apapun, siapapun
Dan mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta (Apapun, siapapun)
Alih-alih menggunakan ungkapan yang dramatis, lagu ini lebih banyak menggambarkan proses menerima kekosongan, memahami diri sendiri, hingga perlahan menemukan harapan baru. Pendekatan tersebut membuat "Teh Hijau" terasa relevan bagi banyak orang yang tengah menghadapi fase kehilangan arah, kelelahan emosional, maupun proses penyembuhan setelah pengalaman yang tidak menyenangkan.
Bagi pendengar yang ingin menikmati sekaligus memahami makna di balik setiap baitnya, lirik resmi "Teh Hijau" dapat didengarkan melalui video resmi yang telah diunggah di kanal YouTube Tulus maupun melalui berbagai layanan streaming musik digital. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Di era ketika media sosial sering menuntut semua orang terlihat baik-baik saja, "Teh Hijau" justru mengingatkan bahwa tidak apa-apa jika kita sedang tidak baik-baik saja. Lagu ini tidak mengajarkan untuk buru-buru melupakan luka, tetapi mengajak menerima bahwa proses pulih memang membutuhkan waktu. Pesan tersebut terasa dekat dengan pengalaman banyak Gen Z yang kini semakin terbuka membicarakan kesehatan mental, self healing, dan pentingnya berdamai dengan diri sendiri. Terkadang, langkah paling berani bukanlah segera bangkit, melainkan memberi diri sendiri izin untuk beristirahat, memulihkan hati, dan percaya bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk kembali merasa utuh.








