Lewat Federation of Asian Bishops’ Conferences, Indonesia Suarakan Pesan Damai dan Kerukunan!
astakom.com, Jakarta – Potret kerukunan hidup beragama di Indonesia bersiap menjadi pusat perhatian dunia, khususnya bagi para pemimpin Gereja Katolik se-Asia dalam perjumpaan Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) 2026 di Jakarta.
Menariknya, salah satu agenda utama yang paling dinantikan dalam konferensi ini adalah momen saat ratusan uskup dari berbagai negara melangkah bersama menyusuri Terowongan Silaturahmi dan mengunjungi Masjid Istiqlal.
Kunjungan tersebut bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah penegasan nyata atas hidupnya dialog dan hangatnya persaudaraan lintas iman yang selama ini tumbuh subur di Indonesia.
Modal sosial Indonesia
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan kalau Indonesia menyimpan rekam jejak panjang yang berharga dalam merawat harmoni di tengah kepungan perbedaan agama, budaya, hingga etnis. Menurutnya, modal sosial dan pengalaman autentik inilah yang perlu disebarluaskan ke panggung dunia, termasuk kepada para delegasi Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) 2026 yang akan berkumpul di Jakarta.
"Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat dalam merawat kerukunan. Kehadiran para uskup dari berbagai negara Asia menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian bersama," ucap Menag, Rabu (24/6/2026).
Menag menekankan kalau Masjid Istiqlal dan Terowongan Silaturahmi tidak boleh hanya dilihat sebagai bangunan fisik semata. Bagi Indonesia, kedua infrastruktur tersebut merupakan representasi hidup dari nilai-nilai kebangsaan yang menempatkan dialog terbuka dan sikap saling menghormati sebagai fondasi utama dalam merawat kehidupan beragama.
"Kita ingin para peserta tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan langsung bagaimana kerukunan hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia," sambungnya.
Hal ini disampaikan Menag di sela-sela pertemuannya dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) guna membahas agenda persiapan FABC 2026 mendatang.
Penutupan simbolis di Istiqlal
Sementara itu, Ketua KWI sekaligus Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunyamin, menjelaskan kalau agenda di Terowongan Silaturahmi dan Masjid Istiqlal tersebut sengaja ditempatkan sebagai bagian dari prosesi penutupan rangkaian acara FABC bagi para delegasi.
Mengingat skalanya yang internasional, agenda ini akan mempertemukan sekitar 110 uskup dari kawasan Asia, serta para utusan keuskupan dari benua Eropa, Amerika, Afrika, dan Oceania. Kekuatan delegasi Indonesia pun tidak kalah besar, dengan hadirnya sekitar 50 uskup perwakilan, termasuk mereka yang telah purnatugas atau emeritus. Seluruh delegasi tersebut dijadwalkan mendapat sambutan resmi langsung dari Menteri Agama yang juga bertindak selaku Imam Besar Masjid Istiqlal.
"Tadi dikonfirmasi bahwa pada acara penutupan FABC akan ada kunjungan ke Terowongan Silaturahmi. Bapak Menteri Agama akan menerima para uskup dan delegasi di Masjid Istiqlal," jelasnya.
Seluruh rangkaian FABC 2026 nantinya akan dipusatkan di Jakarta. Setelah merampungkan agenda utama berupa konferensi para uskup se-Asia, perayaan akbar ini bakal ditutup secara khidmat melalui perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Jakarta. Menariknya, usai ibadah tersebut, para peserta dijadwalkan berjalan kaki bersama menuju Masjid Istiqlal dengan melintasi Terowongan Silaturahmi.
Membangun jembatan dialog
Kardinal Ignatius Suharyo turut menyampaikan kalau tema besar yang diangkat dalam momentum penutupan FABC ini menggarisbawahi krusialnya merawat dialog di tengah pusaran perbedaan.
"Kita akan melihat hal-hal besar melalui perjumpaan dengan agama dan budaya lain. Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa akan ada hal yang lebih besar ketika kita membangun jembatan-jembatan dialog. Makanya kunjungan ke Terowongan Istiqlal ini menjadi simbol untuk menunjukkan cita-cita bangsa Indonesia dalam hidup rukun dan harmoni di tengah perbedaan," ucap Kardinal Suharyo.
FABC merupakan forum berkala para uskup se-Asia yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Pertemuan pada tahun 2026 ini menorehkan catatan sejarah tersendiri, karena untuk pertama kalinya ibu kota Jakarta dipercaya menjadi tuan rumah. Ini sekaligus menjadi kali kedua bagi Indonesia menyelenggarakan perhelatan akbar tersebut, setelah sebelumnya sempat digelar di Lembang, Jawa Barat, pada tahun 1990 silam.
Sorotan dunia Pasca-Paus
Di sisi lain, KWI melihat kalau penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah tidak bisa dipisahkan dari besarnya perhatian dunia terhadap potret nyata kerukunan beragama di tanah air.
Terlebih, dampak positif dari perjumpaan historis Paus Fransiskus beberapa waktu lalu terbukti sukses meninggalkan kesan mendalam yang membekas kuat di mata komunitas internasional.
Lewat FABC 2026, Indonesia tidak sekadar bertindak sebagai panggung pertemuan bagi para pemimpin Gereja Katolik se-Asia. Lebih dari itu, momentum emas ini menjadi ruang terbuka untuk memamerkan indahnya praktik dialog, nafas toleransi, dan tradisi hidup berdampingan yang selama ini kokoh menjadi fondasi sekaligus kekuatan utama bangsa. (nAD/aRsp)
Gen Z Takeaway
Terowongan Silaturahmi bukan cuma spot foto estetik yang menghubungkan dua tempat ibadah, tapi bukti nyata kalau toleransi di Indonesia itu 'action over words'. Event FABC 2026 ini jadi validasi internasional kalau keberagaman kita itu core value yang keren banget, membuktikan kalau beda keyakinan justru bisa bikin kita makin solid dan terkoneksi tanpa batas.








