ASEAN Update: Tragedi Penembakan Filipina di Sekolah Tewaskan 3 Siswa, 20 Luka

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 23 Juni 2026 | 18:35 WIB
ASEAN Update: Tragedi Penembakan Filipina di Sekolah Tewaskan 3 Siswa, 20 Luka
ASEAN Update: Tragedi Penembakan Filipina di Sekolah Tewaskan 3 Siswa, 20 Luka [magnific]

astakom.com, Jakarta – Aksi penembakan mengguncang sebuah SMA di wilayah Filipina tengah pada Senin (22/06/2026) pagi. Pihak kepolisian melaporkan, insiden yang melibatkan 2 siswa sebagai pelaku bersenjata pistol ini mengakibatkan 3 pelajar tewas dan sedikitnya 20 orang lainnya mengalami luka luka.

​Menurut keterangan Kepala Kepolisian Regional, Brigjen Jason Capoy, kedua pelaku yang saat ini sudah diamankan polisi tersebut masih berusia 14 dan 15 tahun. Capoy menambahkan, insiden maut ini melibatkan sesama siswa, di mana pelaku dan seluruh korban tercatat sebagai pelajar di San Jose National High School, Kota Tacloban.

Melansir dari DW pada Selasa, (23/06/2026) pascakejadian, salah satu pelaku langsung ditangkap petugas di area sekolah. Sementara itu, pelaku lainnya sempat melarikan diri dan bersembunyi di permukiman warga sekitar, sebelum akhirnya berhasil ditemukan polisi berkat laporan dari masyarakat setempat.

Brigjen Jason Capoy mengungkapkan kalau mayoritas korban, baik yang meninggal dunia maupun luka-luka, merupakan siswi perempuan. Di lokasi kejadian, aparat kepolisian juga berhasil mengamankan sedikitnya 40 selongsong peluru sebagai barang bukti.

Tragedi di San Jose National High School

Berdasarkan rekaman video yang beredar secara daring, kepanikan luar biasa melanda seisi sekolah saat insiden terjadi. Sejumlah siswa terlihat menangis ketakutan dan bersembunyi di bawah meja dalam ruang kelas yang terkunci demi menghindari tembakan di luar, dengan sebagian di antaranya mencoba menelepon orang tua mereka. Video lainnya juga menunjukkan momen saat para pelajar berhamburan keluar dari area sekolah dalam kondisi ketakutan, di mana beberapa di antaranya tampak saling berpelukan untuk menenangkan diri.

Kepolisian menyatakan kalau 15 dari 20 korban luka dalam insiden ini murni akibat terkena tembakan, termasuk 1 pelajar yang masih dirawat intensif karena tertembak di kepala. Sementara itu, korban luka selebihnya terluka akibat insiden seperti berdesakan ditengah kepanikan dan melompat lewat jendela saat mencoba menyelamatkan diri.

Pasca-insiden tersebut, para korban segera dilarikan ke fasilitas medis terdekat untuk mendapatkan perawatan. Sebagai langkah antisipasi, pengamanan di area sekitar sekolah kini diperketat dengan pengerahan personel tambahan guna menjamin keselamatan seluruh siswa, staf, orang tua, maupun warga setempat.

Motif dan celah keamanan

Aparat kepolisian masih mendalami kasus ini untuk memastikan motif dari penembakan massal di sekolah berkapasitas di atas 1.500 siswa itu. Berdasarkan keterangan awal dari Capoy, kedua tersangka yang merupakan sahabat karib tersebut berdalih kalau tindakan nekat mereka didasari oleh rasa sakit hati akibat perundungan yang mereka alami sejak berada di kelas tujuh.

“Pada awalnya, motif kejahatan ini adalah dendam terkait perundungan di sekolah,” ucap juru bicara Kepolisian Nasional Filipina Allen Rae Co kepada wartawan dilansir dari DW pada Selasa, (23/06/2026).

Kedua pelaku dipastikan tidak memiliki riwayat kejahatan masa lalu. Terkait asal-usul senjata, polisi kini tengah memeriksa tante dari salah satu pelaku yang berstatus sebagai anggota polisi aktif, lantaran pistol 9 mm milik wanita tersebut digunakan keponakannya dalam serangan. Sementara itu, satu senjata lainnya yang digunakan dalam insiden ini diidentifikasi sebagai pistol revolver kaliber 38.

Capoy mengungkapkan, pistol revolver yang dibawa oleh salah satu tersangka merupakan aset terdaftar milik sebuah perusahaan keamanan di Kota Cebu.

Capoy juga mengungkapkan kalau minimnya personel keamanan membuat kedua tersangka dengan mudah membawa masuk senjata ke area sekolah. Menurutnya, sekolah tersebut hanya memiliki satu orang penjaga yang bertugas memantau seluruh akses keluar-masuk yang jumlahnya lebih dari satu.

"Pelaku menerobos masuk ke dua ruang kelas karena setelah penembakan di ruang pertama, para siswa berhamburan, dan para pelaku diduga mengejar beberapa korban ke ruang lain,” papar Capoy.

Respons tegas Presiden Marcos Jr.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. langsung mengambil tindakan tegas dengan menginstruksikan penyelidikan mendalam guna mengusut tuntas insiden tersebut. Wakil Menteri Komunikasi, Claire Castro, menyampaikan kalau presiden juga meminta aparat keamanan untuk memperketat pengawasan di area sekolah, lingkungan kerja, hingga berbagai ruang publik lainnya.

"Presiden sangat berduka atas insiden ini. Siapa pun, terutama orang tua korban, pasti merasa sedih dan ketakutan,” tutur Castro.

Hukum Anak dan senjata ilegal

Mengingat status mereka yang masih di bawah umur, kedua pelaku nantinya akan didelegasikan ke petugas kesejahteraan sosial pemerintah usai proses investigasi selesai. Berdasarkan undang-undang yang berlaku di Filipina sejak tahun 2006, tersangka yang berusia 14 tahun dipastikan lolos dari tuntutan pidana lantaran batas minimal usia pertanggungjawaban hukum adalah 15 tahun kecuali jika pengadilan berhasil membuktikan bahwa remaja tersebut sepenuhnya menyadari tindakan dan dampak nya.

Ketatnya aturan kepemilikan senjata di Filipina yang mencakup pengecekan latar belakang hingga evaluasi psikologi membuat kasus penembakan di sekolah sebenarnya jarang ditemui. Walau begitu, celah keamanan tetap ada karena peredaran senjata api ilegal hingga kini belum sepenuhnya bisa diberantas.

Tragedi ini kembali mengingatkan publik pada kejadian serupa yang terjadi pada Juli 2022 silam. Pada saat itu, aksi penembakan brutal melanda acara kelulusan Fakultas Hukum Universitas Ateneo de Manila di Kota Quezon. Peristiwa tersebut merenggut 3 korban jiwa, yang salah satunya merupakan mantan Wali Kota Lamitan, Rose Furigay. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

​Isu bullying di sekolah itu nyata dan dampaknya bisa se-ekstrem ini kalau kesehatan mental diabaikan. Tragedi di Filipina ini jadi huge wake-up call bahwa sistem keamanan sekolah masih longgar dan pengawasan kepemilikan senjata api wajib diperketat biar lingkungan belajar tetap aman dan bebas dari trauma.

Filipina Asean update Filipina Penembakan Penembakan

Infografis

Terkini