Sempat Berjualan Ikan Keliling, Risky Siswa SMP Sekolah Rakyat Kini Tumbuh jadi Remaja Berpendidikan
astakom.com, Jakarta — Setahun yang lalu ia sempat putus sekolah, Muhammad Risky Pratama (12) harus menghabiskan hari-harinya dengan mengayuh sepeda puluhan kilometer. Di atas pedalnya, anak sulung dari empat bersaudara ini menjajakan ikan segar hasil tangkapan laut di kawasan Bagan Deli, Kota Medan, demi menyambung hidup keluarga.
Namun kini, di era Pemerintahan Presiden Prabowo, melalui program Sekolah Rakyat, garis takdir membawanya ke arah yang jauh berbeda.
Program Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan—sebuah program pendidikan gagasan Presiden Prabowo Subianto—Risky tidak hanya kembali ke bangku sekolah, tetapi juga menemukan fondasi kuat untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang prajurit TNI.
Titik Balik dari Kemiskinan yang Menghimpit
Tumbuh dalam keluarga yang serba kekurangan, Risky sejak kelas 4 SD dirawat oleh kakeknya, Salamuddin (63), dan neneknya, Masitah (55). Sang ibu harus merantau ke luar daerah demi mencari nafkah, sementara ayahnya telah membina lembaran hidup baru di tempat yang jauh.
Untuk menghidupi 13 anggota keluarga dalam satu atap, sang kakek hanya mengandalkan pendapatan dari mencari kerang di laut dengan penghasilan tak menentu, berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari. Tergerak oleh kondisi tersebut, Risky berinisiatif membantu berjualan ikan sejak kelas 6 SD.
"Kadang sehari dapat Rp30 ribu, paling banyak Rp90 ribu kalau habis semua. Hasil jualan dibagi ke nenek untuk beli beras dan pampers adik," kenang Risky saat berbagi kisah di Medan, Sumatera Utara, Selasa (23/6/2026), dikutip dari laman Kemensos.
Tangis Bahagia Sang Nenek dan Perubahan Karakter
Hadirnya program Sekolah Rakyat menjadi jawaban atas doa-doa panjang keluarga ini. Masitah, sang nenek, tak kuasa menahan air mata haru saat menceritakan bagaimana program ini menyelamatkan masa depan cucunya yang hampir putus asa.
"Dulu saya menangis karena tidak mampu menyekolahkan dia. Dia pernah tanya, 'Apa bisa awak sekolah, Nek?' itu yang buat saya menangis dada ini sesak. Tapi kalau sekarang saya menangis karena bahagia," tutur Masitah dengan suara bergetar.
Sejak mengenyam pendidikan berasrama di Sekolah Rakyat, perubahan drastis terlihat pada pribadi Risky. Ia tumbuh menjadi anak yang mandiri, percaya diri, dan taat beribadah. Kakeknya, Salamuddin, menegaskan bahwa meski tenaga Risky sangat membantu ekonomi keluarga, pendidikan tetap menjadi prioritas utama agar cucunya bisa "menjadi orang" di masa depan.
"Dulu saya enggak pandai baca, diajarin sama guru, wali asuh, dan wali asrama di sini. Sekarang sudah pandai niat salat dan wudu," ungkap Risky bangga mengenai fasilitas asrama yang ia terima.
Kerinduan dan Pesan Menyentuh untuk Sang Ibu
Di balik ketangguhan mentalnya, Risky tetaplah seorang anak yang menyimpan kerinduan mendalam. Ia mengaku sudah tidak bertemu langsung dengan ibunya sejak kelas 4 SD, dan komunikasi lewat telepon seluler pun tergolong sangat jarang.
Menutup perbincangan, dengan mata yang berkaca-kaca, anak tangguh ini menitipkan pesan menyentuh agar sang ibu fokus bekerja di perantauan tanpa harus mencemaskan dirinya yang kini sudah berada di tempat terbaik.
"Mamak biar bagus-bagus kerjanya, jangan terpikir kami dulu, supaya Mamak bisa konsentrasi bekerja. Terima kasih Mamak sudah menjaga kami dari kecil," pungkas Risky sembari terus mengayuh mimpinya di Sekolah Rakyat.(ACwan/aRsp)
Gen Z Takeaway
From zero to hero! hidup Muhammad Risky Pratama (12) dari Medan ini bener-bener bikin merinding sekaligus terharu. Dulu dia harus gowes puluhan kilo buat jualan ikan keliling demi bantu kakek-neneknya hidupi 13 orang di rumah. Sekarang, berkat program Sekolah Rakyat, Risky gak cuma bisa sekolah gratis tapi juga berubah jadi pribadi yang religius, mandiri, dan siap kejar cita-cita jadi Tentara. Pesan rindu buat mamanya di perantauan sukses bikin ikutan mewek. Sukses terus, Risky!









