Konflik Memanas, AS dan Iran Saling Melancarkan Serangan di Teluk
astakom.com, Jakarta – Insiden serangan terbaru di Timur Tengah pada Jumat lalu (05/06/2026) mengancam keberlangsungan gencatan senjata antara AS dan Iran yang kini tengah rapuh.
Kegagalan dicapai dalam pembicaraan intensif selama beberapa pekan yang terus dibayangi ancaman serta kekerasan. Dampaknya, perang tetap berlanjut dan Selat Hormuz rute utama distribusi energi global masih belum bisa beroperasi kembali.
Gencatan senjata resmi bubar
Gencatan senjata yang berjalan sejak 8 April 2026 ini menandai babak baru dari perang Timur Tengah. Konflik tersebut telah berlangsung hampir 100 hari, menyusul serangan udara AS dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran.
Namun, situasi kembali memanas pada Jumat setelah militer AS mengaku telah melancarkan serangan situs radar di Iran. Tindakan ini diambil pihak AS yang menembak jatuh sebuah drone yang tengah bergerak menuju selat tersebut.
Dilansir dari Dawn pada Minggu (07/06/2026), ketegangan dengan cepat menjalar ke sejumlah negara tetangga di Teluk, ketika sirene serangan udara mulai berbunyi di Kuwait dan Bahrain. Tak lama, ledakan keras terdengar oleh koresponden AFP yang berada di kedua negara mitra AS tersebut.
Hujan rudal sasar pangkalan AS
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan pada Sabtu pagi waktu setempat kalau mereka telah menggempur "pangkalan musuh di kawasan tersebut" menggunakan rudal. Aksi ini diklaim sebagai respons atas "invasi" yang dilakukan AS ke Pulau Sirik dan Qeshm.
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi kalau Iran telah menembakkan tujuh rudal balistik yang diarahkan menuju wilayah Kuwait dan Bahrain.
Centcom menyatakan kalau enam rudal berhasil dilumpuhkan di udara, sementara rudal ketujuh dilaporkan gagal mencapai target yang dituju.
“Saat ini tidak ada laporan mengenai kerugian yang menimpa personel AS, dan klaim Iran tentang kerusakan markas besar armada ke-5 AS di Bahrain adalah salah,” ucap komando tersebut pada sebuah pernyataan dikutip dari Dawn pada Minggu (07/06/2026).
Drama visa Piala Dunia
Eskalasi terbaru ini tetap terjadi meskipun Amerika Serikat sebelumnya memberikan lampu hijau bagi tim nasional sepak bola Iran untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA, yang digelar bersama Kanada dan Meksiko.
Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, memastikan kalau visa tersebut telah diterbitkan. Ia menegaskan kalau "olahraga melampaui batas negara, dan kami berharap dapat menyambut para atlet dan penggemar dari seluruh dunia”ucapnya.
Namun, laporan datang dari kantor berita Iran, Fars. Mereka menyebutkan kalau beberapa personel yang termasuk dalam "staf teknis dan eksekutif" tim justru belum mengantongi visa.
Sementara itu, seorang pejabat pemerintah AS yang meminta identitasnya dirahasiakan menyatakan:
"Kami tidak akan membiarkan tim Iran menyalahgunakan sistem ini untuk menyelundupkan teroris ke Amerika Serikat dengan kedok palsu.”ucapnya.
Perjalanan tim akan dimulai dari Turki menuju Spanyol pada Sabtu. Setelah itu, penerbangan akan langsung dilanjutkan menuju Meksiko dengan target kedatangan di markas mereka pada Minggu.
Pada Jumat pagi, Centcom menyatakan pasukannya telah melumpuhkan empat drone Iran yang bergerak ke arah Selat Hormuz. Tindakan tersebut dilakukan sesaat sebelum mereka menggempur instalasi radar pantai milik Iran di Goruk dan Pulau Qeshm.
“Drone serang tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional, sementara serangan terhadap instalasi radar bertujuan untuk mencegah serangan lebih lanjut,” ucap pernyataan tersebut.
Menurut laporan media pemerintah Iran IRIB pada Sabtu pagi, serangkaian ledakan dilaporkan terdengar di kawasan Sirik, Iran selatan. Insiden tersebut terjadi Jumat silam sekitar pukul 02.30 waktu setempat (23.00 GMT.
"Setelah invasi tentara AS yang membunuh anak-anak dan teroris ke Pulau Sirik dan Qeshm, pangkalan musuh di wilayah tersebut dihantam oleh rudal udara,” demikian laporan IRIB.
Menyusul tragedi serangan bandara internasional yang menewaskan satu orang dan melukai puluhan warga beberapa hari lalu, militer Kuwait kini bersiap menghadapi ancaman baru. Pada Sabtu pagi, pihak militer mengonfirmasi telah merespons serangan rudal serta drone yang dikategorikan sebagai tindakan "bermusuhan".
"Sistem pertahanan udara Kuwait saat ini sedang menanggapi serangan rudal dan pesawat tak berawak musuh,” demikian pernyataan militer di X, tanpa menyebutkan asal serangan tersebut.
Blunder estimasi militer Trump
Donald Trump menyatakan kepada NBC News pada Jumat lalu, kalau Iran masih menguasai sekitar "21 hingga 22 persen" dari total persediaan rudalnya.
Pernyataan ini berbanding terbalik dengan klaim berulang dari sejumlah pejabat AS yang menyebut kapasitas militer Teheran telah sepenuhnya lumpuh.
Angka terbaru ini terbilang lebih tinggi jika disandingkan dengan estimasi sebesar 18 persen yang dirilis Trump pada bulan Mei. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Gencatan senjata yang baru seumur jagung resmi bubar jalan setelah AS dan Iran baku hantam lagi di Selat Hormuz. Mulai dari drama drone yang ditembak jatuh, hujan rudal yang bikin Kuwait dan Bahrain ikutan siaga satu, sampai plot twist urusan visa Timnas Iran buat Piala Dunia yang dicurigai bawa penumpang gelap. Intinya, jalur perdagangan energi dunia makin kritis dan situasi di sana lagi chaos parah!








