Di Tengah Serangan Drone, Trump Sebut Dialog AS-Iran Berjalan Baik
astakom.com, Jakarta – Presiden AS Donald Trump menyatakan kalau Amerika Serikat dan Iran lagi dalam tahap perundingan yang baik. Menurutnya, ada peluang buat mencapai kesepakatan damai atas konflik mereka. Tapi ia juga kasih warning kalau serangan AS bakal lanjut lagi kalau negosiasi ini berujung gagal.
Trump optimis, Iran tetap gas
Di balik rasa optimistis Trump, Teheran malah terkesan langsung menguji jeda kampanye militer AS tersebut. Buktinya, Arab Saudi, Yordania, dan Irak melaporkan adanya serangan pesawat tak berawak drone pada hari Senin waktu setempat.
Secara mengejutkan, pihak Washington mendadak menangguhkan kampanye serangan udara selama 2 minggunya ke Iran pada hari Sabtu lalu. Ini jadi perubahan strategi terbaru Trump dalam konflik yang udah berjalan selama 5 bulan terakhir.
"Kami sedang melakukan pembicaraan yang baik," tutur Trump dilansir dari ABC News pada Selasa, (28/07/2026).
"Saya rasa ada kemungkinan besar sesuatu akan terjadi, dan jika terjadi, bagus, jika tidak, kita akan kembali melakukan apa yang kita lakukan dua hari yang lalu."ungkapnya.
Saat hadir di rapat umum kampanye di Michigan pada hari yang sama, Trump sempat menyinggung soal Iran.
"Anda tidak bisa menyuap mereka. Anda harus mengalahkan mereka, dan kita akan mengalahkan mereka habis-habisan. Tapi kita lihat saja bagaimana hasilnya. Saat ini, negosiasi yang sangat ramah sedang berlangsung." tegasnya.
Beda narasi soal diplomasi
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan kalau pesan pesan masih terus disampaikan antara kedua belah pihak lewat mediator. Ia menyebut Iran nggak pernah meninggalkan jalur diplomasi, tapi ada laporan yang mengklaim kalau Iran mengemis negosiasi adalah suatu hal yang buatan.
"Ini bukan bagian dari DNA kami," ucapnya.
Seorang pejabat senior Iran pada hari Minggu lalu sempat menyampaikan kalau Iran bakal menahan serangannya sendiri selama gencatan senjata yang diumumkan Trump masih berlanjut, berdasarkan laporan dari Reuters.
Namun pada Senin malam, Komando Militer Pusat Iran malah balik menuduh AS mengancam kapal-kapal dan tanker minyak di perairan teritorialnya. Mereka menyebut AS berusaha menerapkan blokade maritim ilegal, yang dipandang merupakan peningkatan konflik di kawasan tersebut.
Arab Saudi mengonfirmasi sudah menembak jatuh drone yang mengincar sektor perminyakan mereka, termasuk di wilayah Riyadh. Pihak Saudi mengklaim drone tersebut diluncurkan dari Irak oleh kelompok bersenjata yang didukung Iran, dan menegaskan punya hak penuh untuk membalas.
Nggak cuma itu, sekutu Houthi asal Yaman juga mengaku telah menargetkan Pipa Timur-Barat yang mengangkut minyak ke pelabuhan utama Laut Merah Arab Saudi di Yanbu sebagai balasan atas serangan drone dari Arab Saudi.
Teheran juga menegaskan kalau mereka tetap memegang kendali atas Selat Hormuz, jalur air utama bagi pasokan energi global. Padahal, Trump menuntut agar para kapal bisa melintas dengan bebas di sana.
Rating Trump vs pasar minyak
Respon publik yang menolak perang ini bikin posisi Trump dan Partai Republik makin tertekan menjelang pemilu paruh waktu November mendatang, mereka menghadapi posisi bahwa harus mempertahankan mayoritas tipis di Kongres nanti.
Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos selama akhir pekan memperlihatkan rating persetujuan Trump naik tipis jadi 37 persen naik 3 poin dibanding bulan lalu saat angkanya menyentuh titik terendah sepanjang masa kepresidenannya.
Meski begitu, cuma 1 dari 3 warga Amerika yang setuju dengan perang melawan Iran. Ini merupakan angka terendah versi Reuters/Ipsos sejak konflik dimulai, dengan mayoritas warga menilai Trump gagal menjelaskan tujuan perangnya.
Di sisi lain, penghentian serangan AS usai 13 malam berturut-turut melakukan pemboman intensif, ditambah pernyataan Trump soal negosiasi, langsung bikin harga minyak dunia drop parah.
Harga minyak mentah AS anjlok 8,21 persen ke level US$81,98 per barel, sementara minyak mentah Brent merosot 9,31 persen ke angka US$87,77 per barel pada hari itu.
Stok amunisi vs sengketa Selat Hormuz
Ketetapan Trump dalam menunda serangan AS sebenarnya memperlihatkan masukan dari pihak militer kalau pemboman sudah mencapai titik maksimalnya, menurut laporan beberapa media AS dan pejabat yang berbicara kepada Reuters.
Pejabat AS tersebut membeberkan kalau para komandan militer telah memperingatkan Trump kalau mereka mulai kehabisan target. Selain itu, Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, menyatakan kekhawatirannya atas stok amunisi udara yang makin menipis.
Namun, Trump menepis pendapat kalau AS kekurangan amunisi. Ia mengklaim militer sedang bergerak cepat mendirikan kembali persediaan yang sempat terkuras akibat pengiriman ke Ukraina, sembari menambahkan kalau ia mengharapkan peralatan yang lebih canggih.
Sementara itu, media pemerintah Iran melansir dari sumber terinformasi yang menyebut Iran sudah memutar balik 6 kapal pelanggar di hari Senin kemarin karena nekat melintasi Selat Hormuz tanpa izin.
Langkah Trump menggempur kembali pengeboman sebelumnya dimaksudkan untuk menghukum Iran usai Teheran menembaki kapal-kapal yang memakai rute usulan AS yang mengintruksikan kapal berlayar mendekati pantai Oman.
Sebaliknya, Iran bersikeras kalau kapal-kapal cuma boleh melintas di Selat Hormuz yang lebih dekat ke jalurnya, wilayah yang mereka kuasai dan rencanakan untuk ditarik biaya transit.
Aksi pengeboman AS selama dua minggu terakhir ini telah menewaskan puluhan orang di Iran serta merusak jembatan, terowongan di wilayah selatan, hingga target-target militer.
Di pihak lawan, 4 anggota militer AS tewas akibat tembakan balasan ke pangkalan-pangkalan AS di negara tetangga. Iran juga membalas dengan menyerang infrastruktur sipil di negara-negara Teluk.
Sampai saat ini, masih belum jelas power apa yang bisa dipakai Washington untuk melepas cengkeraman ketat Iran di selat strategis tersebut.
Padahal, Washington dan Teheran sudah menyepakati kerangka kerja pada Juni lalu untuk pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung akhir Agustus demi menyelesaikan masalah inti seperti program nuklir Iran.
Sayangnya, kedua negara masih cekcok soal pemaknaan isi memorandum Selat Hormuz, Washington ngotot kalau perjanjian itu mewajibkan Teheran membuka jalur pelayaran bebas, sedangkan Iran merasa isi memorandum itu cuma memberikan wewenang kepada Washington untuk sekadar mengawasi transit. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Intinya, konflik AS-Iran ini makin drama: di panggung depan Trump ngaku lagi chill dan negosiasi damai, tapi di belakang layar aksi saling serang drone dan kunci Selat Hormuz tetap jalan terus. Efeknya langsung berasa ke dompet global—harga minyak sempat anjlok parah. Apalagi publik AS sendiri udah males sama perang dan militer mereka mulai kehabisan amunisi. Stay tuned, karena kepastian damainya masih blur banget!









