BRIN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Desa Lewat Inovasi Iptek

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 5 Juni 2026 | 20:02 WIB
BRIN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Desa Lewat Inovasi Iptek
BRIN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Desa Lewat Inovasi Iptek. [BRIN]

astakom.com, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkomitmen untuk mendekatkan hasil risetnya dengan kebutuhan nyata di tingkat desa.

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan kalau fokusnya mendorong desa menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru lewat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia menyatakan kalau ekonomi desa adalah fondasi penting bagi stabilitas pertumbuhan ekonomi negara. Berbeda dengan industri yang tidak memanfaatkan kekayaan alam, ekonomi desa merupakan ekonomi berbasis sumber daya yang menitikberatkan pada penciptaan nilai tambah dari potensi lokal yang sudah ada.

“Transformasi ekonomi hanya bisa berjalan baik jika diiringi dengan transformasi sosial. Ketika transformasi ekonomi tanpa diiringi transformasi sosial, terjadilah ketimpangan dan kesenjangan. Itulah yang kami sebut growth without development atau modernization without development,” ucap Arif, dalam kegiatan BRIN Goes to Villages dengan tema “BRIN Menyapa Desa: Transformasi 5 Pilar Inovasi Mewujudkan Desa Mandiri dan Sejahtera”, di Gedung B.J Habibie, dikutip oleh astakom pada Jumat, (05/06/2026).

Dorong research for impact

Ia menegaskan kalau BRIN saat ini gak sekadar memprioritaskan riset demi pengembangan pengetahuan (research for knowledge). Lebih dari itu, lembaga ini berkomitmen memperkuat riset yang mampu menghadirkan dampak nyata (research for impact) bagi masyarakat.

“Research for impact bagaimana bisa memberikan dampak bagi masyarakat, desa, industri, pemerintah, publik, dan juga lingkungan,” paparnya.

Solusi konkret limbah plastik

Arif menjelaskan berbagai terobosan teknologi hasil rilisan BRIN yang sudah diadopsi di lapangan. Ia menyoroti FASPOL, teknologi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif, yang sejauh ini pemanfaatannya sudah menjangkau hingga 84 desa.

“Saya memasukkan sendiri minyak dari hasil pengolahan plastik itu, kemudian nelayan bisa melaut dengan lebih baik,” jelasnya pada saat menjelaskan bagaimana teknologi tepat dapat menjawab persoalan konkrit di lapangan.

Menjaga tradisi dan kearifan lokal

Pentingnya kearifan lokal sebagai fondasi sosial masyarakat juga turut disorot oleh Arif. Ia mencontohkan bagaimana sistem sawah terintegrasi di Lombok yang menghubungkan ekosistem hutan, laut, dan sawah, serta adat penangkapan paus di Lamalera, NTT, mampu mempertahankan keberlanjutan alam dari generasi ke generasi.

“Desa bukan sekadar ekonomi, tetapi modal sosial yang sangat kuat yang harus terus kita dorong. Melalui forum ini, kita memulai bersama-sama memperkuat desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, sebagai pusat pembangunan di Indonesia,” tutur Arif.

Gugus tugas desa inovasi

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Hendrian, mengungkapkan kalau program tersebut menjadi wujud nyata dari hilirisasi riset. Langkah ini, lanjutnya, diwujudkan melalui pembentukan Gugus Tugas Desa Inovasi.

Konsep Desa Inovasi merujuk pada tata kelola pembangunan desa yang digerakkan secara partisipatif dan inovatif, serta menjunjung tinggi transparansi maupun akuntabilitas. Dalam praktiknya, program ini mengombinasikan pemanfaatan iptek dan keterbukaan informasi dengan nilai-nilai kearifan lokal setempat.

“Program ini diposisikan sebagai wadah audiensi dan diseminasi guna menyelaraskan hasil riset dari para periset dengan kebutuhan konkret masyarakat di lapangan,” ucap Hendrian.

Menurutnya,penguatan ekosistem inovasi di tingkat desa menjadi tujuan krusial dari program ini. Ujung dari upaya tersebut adalah demi mewujudkan masyarakat desa yang mandiri secara ekonomi dan sejahtera. Agenda ini pun ditujukan sebagai wadah penguatan jejaring kolaborasi antara BRIN dengan sejumlah instansi, mulai dari Kementerian Desa dan PDT, Kementerian UMKM, sampai Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH.

Melalui sinergi ini, pemerintah berharap dapat memfasilitasi adopsi teknologi tepat guna yang bermanfaat langsung bagi warga desa.

“Kami menekankan, kegiatan BRIN Goes to Villages ini bukan sekadar agenda seremonial belaka, melainkan sebagai titik tolak transformasi nyata bagi kemandirian desa berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Jarak antara inovasi hasil riset dan desa harus diperpendek demi melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang tangguh,” papar Hendrian.

Ia menekankan pentingnya komitmen jangka panjang berupa dukungan penuh dari kementerian, pemda, hingga aparatur desa di tanah air. Melalui kolaborasi tersebut, penerapan program desa inovasi diyakini dapat memberikan kontribusi konkret bagi peningkatan taraf hidup masyarakat perdesaan guna menyongsong cita-cita “Desa Inovasi, Indonesia Inovasi.” (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Inisiatif BRIN ini membuktikan kalau masa depan inovasi itu gak cuma milik masyarakat urban atau industri korporat berskala besar. Lewat konsep "Desa Inovasi", teknologi keren kayak FASPOL (alat pengubah limbah plastik jadi BBM) langsung dibawa ke lapangan buat solve masalah nyata masyarakat. Movement dari research for knowledge ke research for impact ini jadi bukti nyata kalau riset iptek bisa berkolaborasi harmonis dengan kearifan lokal demi menciptakan kemandirian ekonomi yang inklusif sekaligus ramah lingkungan—sebuah esensi pembangunan berkelanjutan yang kita butuhkan banget saat ini.

BRIN Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ekonomi Desa IPTEK

Infografis

Terkini