Presiden Prabowo Ngespill Dugaan Mafia Ekspor: Batu Bara sampai Sawit Diduga Ada 'Main'
astakom.com, Jakarta - Praktik curang ekspor-impor yang selama ini cuma jadi “bisik-bisik industri” akhirnya dibongkar terang-terangan sama Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidatonya di DPR, kemarin (20/05/2026), Presiden Prabowo ngespill kalau Indonesia diduga kehilangan sampai Rp15.400 triliun gara-gara manipulasi perdagangan yang berlangsung puluhan tahun.
Nilainya nggak main-main, bahkan setara ratusan miliar dolar AS yang harusnya bisa dipakai buat ngebut pembangunan nasional.
Presiden Prabowo menyebut modus yang dipakai meliputi under-invoicing, under-counting, sampai transfer pricing. Praktik ini bikin nilai ekspor yang dilaporkan jadi lebih kecil dari angka aslinya.
“Selama 34 tahun apa yang terjadi? Yang terjadi adalah apa yang disebut under-invoicing. Under-invoicing sebenarnya fraud atau penipuan,” kata Presiden Prabowo di pidato Rapat Paripurna DPR terkait KEM dan PPKF RAPBN 2027, dikutip oleh astakom.com pada Kamis (21/05/2026).
Presiden Prabowo bongkar skemanya
Skemanya, juga dispill Presiden Prabowo lho. Disinyalir praktek ini dilakukan lewat perusahaan luar negeri yang masih terafiliasi dengan pelaku usaha di Indonesia.
Barang dijual ke perusahaan sendiri di luar negeri dengan harga jauh lebih murah di atas kertas, padahal harga real-nya lebih tinggi. Efek dominonya bikin pemasukan negara ikut zonk karena nilai ekspor dan pajak jadi kelihatan lebih kecil.
“Yang dijual oleh pengusaha-pengusaha tidak dilaporkan yang sebenarnya. Banyak di antara mereka membuat perusahaan di luar negeri. Dia jual dari perusahaan dia di dalam negeri ke perusahaan dia di luar negeri yang harganya jauh di bawah harga yang sebenarnya,” kata Presiden Prabowo.
Tercatat di luar negeri
Menurutnya, manipulasi kayak gini mungkin bisa “dimainin” di dalam negeri, tapi nggak bisa ngibul di negara tujuan karena semua transaksi tetap tercatat. Presiden Prabowo bahkan ngasih contoh pengiriman batu bara yang jumlahnya dilaporkan lebih sedikit dari kondisi sebenarnya.
“Kita bisa bohong, di pelabuhan Indonesia kita kirim 10.000 ton batu bara. Yang dilaporkan hanya 5.000 ton. Bisa di Indonesia, (tapi) di sana tidak bisa, di sana dicatat,” tegasnya.
Orang nomor satu di Indonesia juga bilang praktik ini nggak cuma terjadi di satu sektor, tapi nyebar ke berbagai komoditas strategis mulai dari kelapa sawit, batu bara, sampai paduan besi. Ia menyebut manipulasi dokumen ekspor itu sebagai “penipuan di atas kertas” yang bikin kekayaan negara perlahan bocor selama puluhan tahun.
Berbenah Bea Cukai
Selain itu, Presiden Prabowo turut menyinggung praktik penyelundupan lewat pelabuhan tikus yang masih jadi PR lama negara. Karena itu, ia mendorong pembenahan besar-besaran di lembaga strategis, terutama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
“Kita harus berani mengatakan yang merah-merah, yang putih-putih. Kita harus berani mengatakan apa adanya. Kita harus perbaiki lembaga-lembaga pemerintah kita. (Direktorat Jenderal) Bea Cukai harus kita perbaiki,” tegas Prabowo.
Di akhir pidatonya, Presiden RI ngajak semua pihak buat stop denial dan mulai jujur soal masalah yang selama ini bikin kekayaan negara bocor diam-diam. Menurutnya, kalau dana ratusan miliar dolar itu benar-benar bisa diamankan dan dipakai optimal, Indonesia bisa punya power ekonomi yang jauh lebih gahar di level global.
“Bayangkan kalau 908 miliar dolar kita nikmati, kita pakai, negara apa Indonesia ini,” kata Presiden Prabowo.
Menkeu Purbaya ikut speak up
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga ikut buka suara soal dugaan permainan data ekspor tersebut. Saat datang ke Istana buat makan siang bareng Presiden dan sejumlah menteri, Purbaya mengaku membawa laporan perusahaan crude palm oil (CPO) yang diduga melakukan manipulasi harga ekspor.
“Ini ada beberapa catatan perusahaan CPO yang mana yang lakukan manipulasi harga,” kata Purbaya, dikutip oleh astakom.com, pada Kamis (21/05/2026).
Akibatnya penerimaan negara ikut turun
Menurut dia, ada perusahaan yang menjual produk ke Amerika Serikat dengan harga tercatat jauh lebih rendah dibanding harga sebenarnya di pasar tujuan. Akibatnya, laba perusahaan di Indonesia terlihat kecil dan penerimaan negara ikut turun.
“Ada itu beberapa perusahaan besar kelihatan sekali melakukan, ekspor ke Amerika misalnya. Jadi harganya di sini berapa itu, cuma seperempat atau sepertiga apa yang di AS. Kemudian di sini jadi rugi. Jadi income lebih rendah kan, nilai ekspor juga lebih rendah di sini,” ungkap Menkeu.
Purbaya juga ngasih bocoran kalau praktik under invoicing bukan cuma terjadi di sektor CPO.
“Ini baru CPO nanti ada batu bara juga,” katanya. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Presiden Prabowo Subianto nge-spill dugaan praktik curang ekspor kayak under invoicing dan transfer pricing yang bikin negara diduga kehilangan sampai Rp15.400 triliun selama puluhan tahun. Modusnya, harga barang ekspor dibikin kelihatan lebih murah lewat perusahaan luar negeri biar pajak dan nilai ekspor turun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga bilang indikasi permainan data ini udah kelihatan di sektor CPO sampai batu bara.










