Pemerintah Siapkan dan Kaji CNG 3 Kg, Fix Gantikan LPG Subsidi?
astakom.com, Jakarta - Ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau elpiji makin bikin pemerintah gercep cari energi alternatif yang lebih aman buat jangka panjang.
Salah satu opsi yang sekarang lagi diulik serius adalah penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) 3 kg buat jadi substitusi gas melon subsidi yang selama ini dipakai mayoritas rumah tangga.
CNG sendiri sebenarnya bukan teknologi baru. Sejumlah negara kayak Brasil, India, Pakistan sampai kawasan Eropa udah lebih dulu ngegas pakai energi ini karena dinilai lebih hemat, efisien, dan bisa ngandelin cadangan gas domestik tanpa terlalu bergantung pada impor energi global.
Di Indonesia, pemerintah sekarang lagi fokus ngetes pengembangan tabung CNG ukuran 3 kg supaya lebih practical dipakai masyarakat. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bilang uji coba teknologi tersebut saat ini dilakukan di dua lokasi sekaligus, yakni di China dan Indonesia.
Uji coba CNG
“Ada dua (lokasi uji coba). Satu, karena pabriknya itu ada di China dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia,” kata Bahlil dikutip oleh astakom.com pada Kamis (21/05/2026).
Menurut Bahlil, penggunaan CNG sebenarnya sudah berjalan di beberapa sektor seperti hotel, restoran, bahkan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, sejauh ini pemakaiannya masih dominan untuk tabung ukuran besar sekitar 12 kg sampai 20 kg sehingga belum cocok buat kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Karena itu, pemerintah sekarang lagi ngejar pengembangan tabung ukuran kecil setara LPG 3 kg supaya nantinya bisa dipakai lebih luas oleh masyarakat. Meski begitu, tantangan teknologinya nggak sesimpel yang dibayangin.
Mekanismenya masih dikaji
Bahlil menjelaskan tekanan gas dalam tabung CNG jauh lebih besar dibanding LPG biasa, bahkan bisa mencapai 200 sampai 250 bar. Karena alasan safety, pemerintah masih harus melakukan serangkaian pengujian sebelum nantinya teknologi ini benar-benar dilepas ke publik.
“3 kilogram ini daya tekanannya kan besar. Jadi ini harus dicek dulu, kalau sudah lolos uji, baru bisa kita (informasikan),” kata Bahlil.
Pemerintah juga masih terus matengin konsep distribusi sampai mekanisme subsidi untuk CNG rumah tangga. Skema subsidi disebut tetap terbuka supaya harga jual ke masyarakat nantinya bisa lebih murah atau minimal setara LPG subsidi yang sekarang beredar.
RI punya potensi besar buat kembangkan CNG
Di sisi lain, pemerintah melihat potensi CNG cukup menjanjikan karena seluruh bahan bakunya tersedia melimpah di dalam negeri. Indonesia bahkan baru menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang diproyeksikan bisa membantu memenuhi kebutuhan energi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan impor LPG.
Langkah ini dinilai penting apalagi di tengah kondisi geopolitik global yang masih nggak stabil dan bikin rantai pasok energi dunia gampang kena pressure. Saat ini konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton. Artinya, sebagian besar kebutuhan nasional masih harus dipenuhi lewat impor.
Di Eropa banyak yang pakai
Kalau melihat tren global, kawasan Eropa jadi salah satu contoh negara yang sudah lebih advance dalam penggunaan CNG. Italia dikenal sebagai pionir lewat dukungan jaringan SPBG luas dan industri otomotif seperti Fiat. Sementara Jerman juga aktif mengembangkan kendaraan berbasis CNG lewat produsen seperti Volkswagen, Opel, dan Mercedes-Benz melalui jaringan “Erdgas” mereka.
Republik Ceko pun terus memperluas penggunaan CNG lewat ribuan kendaraan dan ratusan bus umum. Secara keseluruhan, Eropa kini memiliki sekitar 1,5 juta kendaraan CNG yang beroperasi sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi karbon. Karena itu, CNG sekarang makin dilirik sebagai energi transisi yang lebih hemat sekaligus lebih ramah lingkungan. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Pemerintah lagi ngetes CNG 3 kg buat jadi alternatif gas melon biar RI nggak terus-terusan bergantung impor LPG. Harga CNG diklaim bisa lebih hemat karena gasnya berasal dari cadangan domestik sendiri. Tapi sebelum dipakai luas, teknologinya masih dites karena tekanan gasnya jauh lebih gede dari LPG biasa.










