Tiongkok Dikepung Banjir Ekstrem: 21 Tewas, 8 Provinsi Setempat Berstatus Waspada
astakom.com, Jakarta - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu hujan lebat berkepanjangan di wilayah selatan dan tengah Tiongkok telah menelan sedikitnya 21 korban jiwa.
Selain memicu bencana, cuaca ekstrem ini turut melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat, ditandai dengan ditutupnya sekolah dan tempat usaha, terhentinya layanan transportasi, serta gangguan pasokan listrik di berbagai kawasan.
Provinsi terdampak dan status tanggap darurat aktif
Menurut Badan Meteorologi Tiongkok, 8 provinsi di Tiongkok Jiangxi, Anhui, Hunan, Hubei, Guizhou, Guangxi, Guangdong, dan Hainan menghadapi potensi ancaman serius bencana akibat hujan lebat, yang meliputi risiko tanah longsor, banjir bandang, hingga banjir di kawasan urban.
Dikutip dari AsiaOne pada Rabu (20/5/2026), pemerintah Tiongkok telah mengaktifkan prosedur tanggap darurat dan menyalurkan dana bantuan bencana senilai 150 juta yuan atau setara Rp390,57 miliar ke berbagai wilayah terdampak.
Rekaman video yang tersebar di platform Douyin memperlihatkan situasi di Kota Jingzhou, Provinsi Hubei, di mana warga terpaksa menerjang banjir dengan kedalaman setinggi lutut.
Kondisi mencekam: banjir hingga mobil terperosok
Di tengah kepungan banjir, beberapa warga terlihat memanfaatkan situasi dengan menangkap ikan yang terbawa arus ke jalanan. Sementara itu, sejumlah kendaraan tampak nyaris tenggelam di kawasan yang diapit oleh area permukiman dan pusat pertokoan.
Menurut laporan penyiar pemerintah CCTV, sebanyak 10 orang tewas setelah mobil pikap yang mengangkut 15 pekerja pertanian terperosok ke dalam sungai yang meluap di Guangxi akibat hujan deras.
Di lokasi berbeda, cuaca ekstrem berupa banjir dan hujan lebat merenggut nyawa 4 warga di Guizhou, 4 di Hunan, serta 3 orang lainnya di sebuah desa dataran rendah di Hubei.
Selain korban tewas, otoritas setempat melaporkan kalau proses pencarian masih berlangsung terhadap sejumlah orang yang dinyatakan hilang.
Ahli setempat jelaskan tingginya curah hujan
Menurut laporan media pemerintah, operasional sekolah, pusat bisnis, dan layanan transportasi di sejumlah daerah terdampak terpaksa dihentikan sementara.
Otoritas setempat mulai mengevakuasi penduduk di sejumlah wilayah di Hubei dan Hunan.
Menurut para ahli meteorologi Tiongkok, curah hujan ekstrem yang membentang lebih dari 1.000 kilometer ini disebabkan oleh akumulasi kelembapan tinggi yang berasal dari pertemuan massa udara dari Teluk Benggala, Laut Tiongkok Selatan, dan Samudra Pasifik.
Mitigasi di tengah bencana
Sistem cuaca yang bergerak lamban ini memicu akumulasi curah hujan yang sangat tinggi. Pusat Meteorologi Nasional Tiongkok memprediksi kondisi cuaca buruk tersebut akan bergeser ke arah timur dan selatan dalam dua hari mendatang.
Mulai Rabu, wilayah tengah dan hilir Sungai Yangtze diperkirakan akan menghadapi curah hujan dengan intensitas tertinggi.
Di sisi lain, otoritas Guangxi merespons gempa bermagnitudo 5,2 yang terjadi Senin lalu dengan mengevakuasi sekitar 7.000 warga.
Pemerintah setempat juga telah menyiapkan 99 lokasi penampungan darurat guna menampung lebih dari 4.000 penduduk terdampak. (nAD/arsp)
Gen Z Takeaway
Bencana ini menjadi pengingat nyata bagi kita bahwa krisis iklim bukanlah isu masa depan, melainkan ancaman yang terjadi saat ini. Bagi Gen Z, fenomena cuaca ekstrem yang melumpuhkan Tiongkok ini bukan sekadar berita mancanegara, melainkan panggilan untuk lebih peduli pada isu lingkungan dan pentingnya mitigasi bencana yang adaptif. Stay safe dan selalu update dengan informasi dari otoritas resmi di mana pun kalian berada, karena keamanan adalah prioritas utama saat alam sedang tidak bersahabat.












