OTW Armuzna! Kemenhaj Matangkan Layanan Makanan Siap Saji Jemaah Indonesia
astakom.com, Jakarta - Menjelang fase puncak haji di Armuzna, Kementerian Haji dan Umrah memastikan pemenuhan kebutuhan pangan bagi jemaah asal Indonesia agar dapat berjalan optimal.
Langkah optimalisasi layanan ini diambil demi memastikan stamina, kesehatan, serta kenyamanan jemaah tetap terjaga selama mengikuti seluruh rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Memasuki hari ke-28, Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff menyampaikan kalau seluruh operasional ibadah haji 1447 H/2026 M berlangsung lancar berkat kesiapsiagaan para petugas di setiap pos layanan.
“Alhamdulillah, hingga hari ke-28 operasional haji, layanan bagi jemaah terus berjalan dengan baik. Fokus kami saat ini adalah memperkuat kesiapan menjelang Armuzna, termasuk konsumsi yang menjadi bagian penting dalam menjaga stamina dan kesehatan jemaah,” ucap Maria dikutip oleh astakom.com pada Selasa, (19/05/2026).
Kesiapan operasional jelang fase krusial
Data terbaru menunjukkan, sebanyak 179.463 jemaah yang terbagi dalam 464 kelompok terbang (kloter), dengan didampingi 1.851 petugas, telah bertolak menuju Arab Saudi.
Di sisi lain, dilaporkan sebanyak 175.682 jemaah yang tergabung dalam 455 kelompok terbang (kloter), beserta 1.820 petugas pendamping, kini telah berada di Makkah.
Mengenai kedatangan gelombang kedua di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, tercatat sebanyak 10- kelompok terbang (kloter) yang membawa 72.904 jemaah dan 759 petugas telah mendarat.
Kelancaran juga terlihat pada kedatangan 12.180 jemaah haji khusus di Tanah Suci, yang kini dilaporkan telah mulai melaksanakan rangkaian ibadah mereka sesuai lini masa yang ditetapkan panitia.
Maria menerangkan kalau tahapan Armuzna adalah periode krusial dengan mobilitas tinggi. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan layanan yang responsif, aman, dan terencana dengan matang, terutama dalam hal pasokan katering bagi jemaah.
“Fase Armuzna adalah fase yang sangat padat dan kompleks. Oleh karena itu, layanan konsumsi harus dipastikan berjalan dengan baik. Bagi kami, Konsumsi bukan hanya menyediakan makanan, tetapi bagian penting dari ikhtiar menjaga kesehatan dan stamina jemaah agar dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk,” ucap Maria.
Strategi praktis lewat menu 'ready to eat'
Pasokan makanan bagi jemah dipastikan aman melalui skema katering siap santap (Ready To Eat) yang disiapkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sejak menjelang berlangsungnya puncak haji hingga pasca Armuzna.
Kebijakan tersebut diambil karena makanan siap santap dinilai lebih cepat didistribusikan, praktis dikonsumsi oleh jemaah, serta ketahanan hidangan di tengah mobilitas yang padat. Selain itu, aspek standar gizi, higienitas, dan keamanan pangan juga menjadi prioritas utama pemerintah.
“Makanan siap santap ini disiapkan dengan cita rasa nusantara agar lebih sesuai dengan selera jemaah Indonesia. Selain aman dan higienis, kami ingin makanan yang diterima jemaah juga familiar dan nyaman dikonsumsi,” tegas Maria.
Rincian porsi dan jadwal distribusi
Di sepanjang fase Armuzna, jemaah haji asal Indonesia dijadwalkan menerima total 15 kali porsi makan dengan cita rasa nusantara yang dipasok langsung oleh pihak syarikah.
Di samping itu, jemaah juga akan mendapatkan 6 porsi makanan tambahan yang dialokasikan pada fase sebelum Armuzna (7-8 Zulhijah) dan setelah Armuzna (13 Zulhijah), yang jatuh pada 24, 25, dan 30 Mei 2026.
Kemenhaj juga terus menggelar inspeksi berkala dan koordinasi intensif guna menjamin seluruh pasokan makanan siap saji telah terdistribusi ke hotel-hotel jemaah Indonesia pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau 23 Mei 2026, tepat sebelum mobilisasi jemaah ke Armuzna dimulai.
“Pengawasan dilakukan mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga distribusi. Kami memastikan makanan yang diterima jemaah layak, higienis, aman dikonsumsi, dan mendukung kebutuhan fisik jemaah selama fase puncak haji,” tutur Maria.
Imbauan petugas: jaga stamina & hidrasi
Menjelang fase puncak haji, Maria mengingatkan para jemaah untuk senantiasa menjaga pola makan, meningkatkan konsumsi air putih, makan tepat waktu, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak mendesak.
“Jaga kesehatan, hemat tenaga, makan tepat waktu, dan ikuti Arah petugas. Semoga seluruh jemaah haji Indonesia diberikan kesehatan, kemudahan, dan kelancaran dalam menjalani puncak ibadah haji,” papar Maria. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Fix no debat, puncak haji (Armuzna) itu butuh energi ekstra karena mobilitasnya yang tinggi banget. Makanya, Kemenhaj langsung gerak cepat nyiapin skema katering Ready To Eat (siap santap) yang praktis, higienis, dan pastinya punya cita rasa lokal biar jemaah Indonesia tetap fit, gak ribet, dan bisa fokus ibadah tanpa takut kangen rumah.











