Evakuasi Kelar, MV Hondius yang Terkena Hantavirus Berlayar Kembali ke Belanda
astakom.com, Jakarta - MV Hondius, kapal pesiar mewah yang sempat terpapar wabah hantavirus, akhirnya bertolak dari Tenerife, Spanyol, menuju Belanda pada Senin, (11/5/2026).
Keberangkatan ini dilakukan sesaat setelah proses evakuasi terhadap 6 penumpang terakhir serta sejumlah awak kapal berhasil diselesaikan.
Evakuasi fnal di Tenerife
Setibanya di Pelabuhan Granadilla de Abona, kapal ekspedisi kutub tersebut menurunkan seluruh penumpang yang tersisa 6 orang warga negara asing asal Australia dan Selandia Baru beserta 19 kru dan 2 dokter.
Persinggahan singkat ini menandai selesainya masa perjalanan bagi kelompok penumpang tersebut sebelum kapal melanjutkan operasionalnya.
Selanjutnya, kapal tersebut bertolak menuju Belanda dengan menyisakan 25 kru serta masing-masing 1 tenaga medis, yakni dokter dan perawat, di atas kapal.
Kementerian Luar Negeri Belanda menyatakan kalau proses evakuasi berlanjut dengan pengangkutan para penumpang dan kru dari Tenerife ke bandara melalui jalur darat.
Dari bandara tersebut, mereka diterbangkan ke Belanda menggunakan 2 pesawat yang telah disiapkan.
Koordinasi repatriasi global
"Misi berhasil, kami baru saja menyelesaikan operasi dan kapal telah berlayar," ucap Menteri Kesehatan Spanyol Monica Garcia dilansir dari Reuters pada Selasa, (12/5/2026).
Berdasarkan keterangan Kementerian Luar Negeri Belanda, kru pesawat dijadwalkan menyelesaikan masa karantina di negara tersebut.
Masa Karantina
Adapun bagi para penumpang, perjalanan akan dilanjutkan menuju Australia.
Garcia menegaskan kalau otoritas Australia akan mengambil kendali penuh dalam menetapkan lokasi karantina bagi mereka.
Pendaratan ini menjadi tahap akhir dari operasi evakuasi kompleks yang berhasil memulangkan 94 orang ke negara asal mereka.
Misi penyelamatan ini rampung tepat 9 hari setelah kasus infeksi virus pernapasan pertama kali terdeteksi di atas kapal, atau 41 hari sejak MV Hondius bertolak dari Argentina Selatan.
Sejak wabah melanda kapal tersebut, tercatat 3 orang meninggal dunia, yakni pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman.
Virus ini umumnya menyebar melalui hewan pengerat liar, namun pada kasus langka, penularan antarmanusia dapat terjadi melalui kontak erat.
Dilema kesehatan mental di laut
Dalam konferensi pers di Tenerife, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menjelaskan kalau langkah evakuasi kapal dilakukan untuk menyeimbangkan perlindungan keamanan publik dengan kesehatan mental penumpang.
Pilihan ini diambil sebagai alternatif agar penumpang tidak perlu menjalani masa karantina di atas kapal.
"Bahkan ada beberapa penumpang yang mengalami gangguan mental. Sangat sulit untuk tinggal selama berminggu-minggu di dalam kontainer kecil. Ini adalah pilihan terbaik dan satu-satunya yang kami miliki," ucap Tedros.
Sebelumnya, Kapten Kapal Jan Dobrogowski memberikan apresiasi atas sikap sabar serta kedisiplinan yang ditunjukkan oleh seluruh penumpang dan awak kapal selama situasi tersebut berlangsung.
"Saya tidak bisa membayangkan berlayar melewati situasi ini dengan kelompok orang yang lebih baik, baik tamu maupun kru," ucap Dobrogowski pada sebuah video yang diposting dalam web Oceanwide Expeditions, operator kapal pesiar itu.
Menurut data terbaru WHO, telah ditemukan 7 kasus terkonfirmasi hantavirus Andes dan 2 kasus suspek.
2 kasus yang belum terverifikasi tersebut mencakup 1 pasien yang telah meninggal dunia serta 1 pasien di pulau terpencil Tristan da Cunha yang tidak terjangkau oleh fasilitas pengujian medis.(nAD/aRsp)
Gen Z Takeaway
Trapped di kapal pesiar gara-gara virus pernapasan dari tikus (Hantavirus) jelas bukan vacation goals. Setelah drama 41 hari di laut dan evakuasi ketat di Spanyol, kru dan penumpang MV Hondius akhirnya bisa bernapas lega—meski harus lanjut karantina lagi. Mental health tetap jadi prioritas utama WHO dalam misi penyelamatan lintas negara ini.












