Harga Pangan Lagi Drama: Cabai, Gula Pasir dan Minyak Goreng Ikut Terkerek
astakom.com, Jakarta - Harga pangan strategis nasional versi PIHPS Bank Indonesia kembali bergerak fluktuatif. Sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan harga, terutama kelompok cabai dan minyak goreng, sementara beberapa bahan pokok lain justru mengalami penurunan tipis per hari ini Senin (11/5/2026).
Komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain, bawang merah ukuran sedang naik 1,4% atau Rp650 menjadi Rp47.000 per kg. Beras kualitas bawah II naik 0,34% atau Rp50 menjadi Rp14.550 per kg. Beras kualitas medium I naik 0,31% atau Rp50 menjadi Rp16.150 per kg.
Beras kualitas medium II naik 0,31% atau Rp50 menjadi Rp16.000 per kg. Cabai merah besar naik 6,6% atau Rp3.350 menjadi Rp54.100 per kg. Cabai merah keriting naik 6,91% atau Rp3.350 menjadi Rp51.850 per kg.
Cabai rawit hijau naik 3,27% atau Rp1.600 menjadi Rp50.550 per kg. Cabai rawit merah naik 6,54% atau Rp4.150 menjadi Rp67.650 per kg. Daging sapi kualitas 2 naik 0,07% atau Rp100 menjadi Rp139.250 per kg.
Minyak goreng kemasan bermerek 1 naik 0,21% atau Rp50 menjadi Rp23.850 per kg. Minyak goreng kemasan bermerek 2 naik 0,44% atau Rp100 menjadi Rp23.000 per kg.
Komoditas yang harganya turun
Sementara itu, komoditas yang mengalami penurunan harga diantaranya:
Bawang putih ukuran sedang turun 0,64% atau Rp250 menjadi Rp39.000 per kg. Daging ayam ras segar turun 0,77% atau Rp300 menjadi Rp38.700 per kg. Gula pasir lokal turun 0,26% atau Rp50 menjadi Rp19.200 per kg.
Minyak goreng curah turun 0,48% atau Rp100 menjadi Rp20.550 per kg. Telur ayam ras segar turun 0,96% atau Rp300 menjadi Rp31.000 per kg.
Pangan dengan harga stabil
Adapun sejumlah komoditas terpantau stabil atau tidak mengalami perubahan harga, seperti beras kualitas bawah I di Rp14.550 per kg, beras kualitas super I Rp17.400 per kg, beras kualitas super II Rp16.900 per kg, daging sapi kualitas 1 Rp147.800 per kg, dan gula pasir kualitas premium Rp20.200 per kg.
Dilansir dari redaksi astakom.com, minyak goreng merek MinyaKita langka dalam beberapa hari ini. Bahkan ada juga yang ngejual minyak goreng rakyat MinyaKita dengan harga yang gak sesuai HET atau Harga Eceran Tertinggi.
MinyaKita langka dan harganya naik
Berdasarkan sidak yang dilakuin Ombudsman minyak goreng rakyat MinyaKita di Pasar Induk Kramat Jati, dan Pasar Senen stok MinyaKita kosong. Jadinya di kedua pasar itu minyak goreng merek ini tergolong langka.
Sementara itu, di Pasar Raya Johar Baru, Anggota Ombudsman RI, Abdul Ghoffar menemukan harga MinyaKita mengalami lonjakan harga atau lebih tinggi dari HET (Harga Eceran Tertinggi) sekitar Rp19 ribu/liter, dari harga yang ditetapkan pemerintah (HET) yaitu Rp15.700/liter.
Kelangkaan juga terjadi di Sumatera Utara. Sebagian warga yang masih dapet MinyaKita harus mengeluarkan uang lebih dari biasanya. MinyaKita kebanyakan dipatok harga Rp20ribu/liter, meskipun tidak semua tapi kebanyakan menjual dengan harga segitu.
Dalam pantauan Mendag
Menteri Perdagangan Budi Santoso bilang kalau kenaikan harga minyak goreng MinyaKita masih dalam kendali.
Mendag juga bilang kalau nggak ada kelangkaan stok minyak goreng di pasaran. Bahkan dia bilang kalau kenaikannya masih rendah dibandingkan kenaikan minyak goreng merek ini tahun lalu.
"Sekarang (harga di pasar) Rp 15.900-an, sekarang HET-nya Rp 15.700-an. Harga maksudnya harga? Kalau dibandingkan setahun yang lalu malah Rp 16.800-an. Ya artinya sebenarnya Minyakita itu tidak naik dibanding tahun sebelumnya," ungkap Budi, di Sarinah, Jakarta, dikutip oleh astakom.com pada Senin (11/5/2026).
"Yang berkurang memang Minyakita-nya. Tapi minyak yang lain-lain banyak, enggak ada kelangkaan, enggak ada," jelasnya.(Shnty/aRsp)
Gen Z Takeaway
Harga pangan lagi unstable, cabai makin all time high sementara MinyaKita malah jadi rare item di beberapa pasar. Banyak warga ngeluh karena harga minyak rakyat ini dijual di atas HET sampai Rp20 ribuan per liter. Meski begitu, pemerintah claim stok minyak goreng overall masih aman dan belum masuk fase langka total.










