Alarm Darurat! Menko Muhaimin Spill Fenomena Gunung Es Kekerasan Seksual di Pesantren
astakom.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa kasus dugaan kekerasan seksual di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Pati, Jawa Tengah (Jateng), adalah red flag alias peringatan serius bagi semua orang.
Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Cak Imin menilai kasus tersebut menandakan kondisi darurat kekerasan di lembaga pendidikan maupun pesantren.
“Saya perlu menyampaikan bahwa apa yang terjadi di Pati oleh orang yang mengatasnamakan kiai pesantren palsu, menurut saya harus menjadi alarm. Ini adalah fenomena gunung es yang wajib diwaspadai,” tegas Muhaimin dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip astakom.com pada Sabtu (09/05/2026).
Opsi gercep lintas kementerian
Menko PM nggak mau tinggal diam. Dia siap nge-gas koordinasi lintas kementerian guna memperkuat perlindungan santri.
Cak Imin memastikan akan mem-backup penuh langkah Kemenko PMK, Kementerian Agama (Kemenag), hingga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menciptakan sistem yang lebih aman.
Salah satu langkah yang paling mendesak adalah penyediaan hotline pengaduan yang efektif sampai ke level daerah agar para santri punya tempat mengadu yang terpercaya.
Selain sistem keamanan, Menko Muhaimin menyoroti pentingnya memberikan orientasi hak-hak dasar kepada peserta didik sebelum mereka mulai sekolah atau mondok. Dia menilai banyak kasus terjadi karena korban masih awam soal hak pribadi mereka.
“Problem terjadinya kasus seperti ini karena ketidaksadaran akan hak-hak pribadinya. Mereka awam terhadap haknya dan hakikat dirinya dalam menghadapi pendidikan. Karena itu harus ada orientasi hak-hak peserta didik,” jelasnya.
Evaluasi total dan penutupan
Pemerintah juga mendorong evaluasi total dan meminta para kiai serta ulama di daerah untuk ikut mendeteksi lembaga yang rawan kekerasan. Jika ditemukan indikasi pelanggaran, Menko PM minta lembaga tersebut segera di-cut alias ditutup.
“Pesantren yang rawan seperti itu harus dijadikan standar untuk ditutup. Saya minta para kiai, ulama, dan pengasuh pesantren berkumpul untuk mendeteksi, mengevaluasi, dan merekomendasikan penutupan,” imbuhnya.
Menko Muhaimin memastikan bahwa santri dari pesantren yang ditutup dipindahkan ke lembaga pendidikan yang layak dan aman dengan dukungan pemerintah daerah.
“Santri-santri dari pesantren yang ditutup harus segera disalurkan ke pesantren yang benar dan aman. Pemerintah daerah, kami siap mem-backup,” ujarnya.
Santri disalurkan ke lembaga lain
Menko Muhaimin memastikan masa depan santri dari pesantren yang ditutup tetap aman dan bakal disalurkan ke lembaga yang lebih layak. Baginya, kolaborasi adalah kunci agar tragedi yang menimpa banyak santri yatim piatu di Pati ini tidak terulang lagi di masa depan.
“Makanya saya sebut ini darurat. Mari kolaborasi dan ambil langkah-langkah efektif agar tidak terjadi lagi,” pungkas Cak Imin.
Untuk diketahui, kasus yang mencuat di Pati, Jateng itu menjadi sorotan setelah puluhan santri perempuan diduga menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan pimpinan pesantren. Sebagian korban bahkan disebut berasal dari kalangan yatim piatu dan keluarga kurang mampu. (aNs)
Gen Z Takeaway
Kasus di Pati bener-bener jadi major red flag sampai Menko PM Muhaimin Iskandar atau Cak Imin turun tangan buat nge-spill kalau ini cuma fenomena gunung es yang wajib kita notice. Pemerintah lagi mode gercep buat nge-gas koordinasi lintas kementerian demi bikin sistem safety yang lebih secure, termasuk nyiapin hotline pengaduan dan bakal langsung nge-cut alias nutup pesantren abal-abal yang nggak aman. Intinya, sekarang lagi darurat perlindungan santri, jadi semua pihak harus kolaborasi biar nggak ada lagi korban yang kena gaslighting atau eksploitasi di lingkungan pendidikan.











