Retail Investor RI Lagi On Fire, OJK Sebut Pasar Saham Mulai Bangkit Lagi
astakom.com, Jakarta - Pergerakan pasar saham di kuartal I 2026 masih naik-turun dan penuh drama. Ketidakpastian ekonomi global jadi salah satu faktor yang bikin bursa saham gampang kena guncangan.
Pressure dari suku bunga global, arus modal asing, sampai tensi geopolitik dunia masih bikin market gerak fluktuatif sepanjang awal tahun. Kendati demikian, pasar saham domestik mulai comeback dan pelan-pelan hijau di awal Mei. Data juga nunjukkin rebound IHSG ikut didorong makin banyaknya investor retail yang mulai masuk pasar.
Friderica Widyasari (Kiki) selaku Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bilang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai perkasa di awal QII pasca kena pressure di kuartal I tahun ini, 2026.
Diketahui, IHSG per awal Mei 2026 terapresiasi sebesar 1,44 persen secara month-to-date.
“Memasuki bulan Mei 2026, IHSG menunjukan tren penguatan dan per 5 Mei ditutup pada level 7.057,11," kata ungkap Friderica, saat acara laporan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kompleks BI Jakarta, kemarin (07/05/2026).
"Indeks telah terapresiasi sebesar 1,44 persen secara month-to-date,” dia melanjutkan.
Optimis IHSG rebound
Kiki bilang kalau penguatan IHSG jadi sinyal positif buat pasar modal domestik di tengah kondisi global yang masih penuh uncertainty.
Di penutupan QI, tepatnya pada 31 Maret 2026, IHSG ditutup di angka 7.048,22 atau terkoreksi 18,49 persen. Tapi secara year on year indeks masih tumbuh positif sebesar 8,26 persen dibandingkan sama periode yang sama tahun lalu.
“Mencermati pasar modal Indonesia, pasar modal dalam negeri bergerak dinamis di triwulan I tahun ini, seiring peningkatan ketidakpastian global,” Friderica menambahkan.
Pengaruh dinamika global
Dia melanjutkan kalau dinamika pasar saham RI masih dipengaruhi perkembangan ekonomi global, mulai dari arah suku bunga internasional, arus modal asing, hingga kondisi geopolitik dunia.
Meski begitu, pasar modal Indonesia dinilai masih ber daya tahan tinggi atau resilien dan juga cukup solid.
Sampe 5 Mei 2026, penghimpunan dana di pasar modal tercatat mencapai Rp59,35 triliun secara year-to-date (ytd). Angka itu kebanyakan berasal dari penerbitan efek bersifat utang dan suku.
“Capaian ini tentu saja menunjukkan terjaganya minat fundraising di pasar modal Indonesia. Yang didominasi oleh penerbitan efek bersifat utang dan/atau sukuk senilai Rp 58,9 triliun,” ungkapnya.
Investor retail banyak yang masuk
Nggak cuma itu, jumlah investor pasar modal Indonesia juga terus naik. Di kuartal I 2026, jumlah investor tembus 24,7 juta single investor identification (SID).
Data ter update per Kamis (7/5/2026), jumlah investor sudah mencapai 26 juta SID.
“Jadi ini juga menunjukkan confidence terhadap pasar modal Indonesia," kata Friderica.
"Dengan banyak masuknya investor-investor retail domestik di pasar modal Indonesia,” ungkapnya. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Meski market global lagi banyak drama, IHSG mulai rebound dan kasih vibe positif buat pasar modal RI. Investor retail lokal juga makin all in, terbukti jumlah SID udah tembus 26 juta. Artinya, confidence ke pasar saham Indonesia masih kuat walau kondisi global lagi shaky.










