Khawatir Bocor ke Iran, Israel Kunci Sistem Pelacak Roket

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 8 Mei 2026 | 13:14 WIB
Khawatir Bocor ke Iran, Israel Kunci Sistem Pelacak Roket
Khawatir Bocor ke Iran, Israel Kunci Sistem Pelacak Roket (Ilustrasi Gemini)

astakom.com, Jakarta – Militer Israel dilaporkan telah memblokir akses otoritas lokal dan petugas penghubung cadangan terhadap sistem darurat sipil pemantau jatuhnya roket.

Dilansir dari TRT World pada Jumat (08/05/2026), langkah ini diambil guna mengantisipasi kebocoran data ke pihak Iran, meski akhirnya memicu gelombang protes dari jajaran pejabat di wilayah utara Israel.

Dilema Petugas di Garis Depan

Laporan harian Yedioth Ahronoth pada Kamis, (7/5/2026) menyebutkan kalau sistem bernama "Shual" tersebut merupakan hasil pengembangan Komando Pertahanan Dalam Negeri.

Teknologi ini dirancang khusus untuk menyinkronkan manajemen darurat di antara para petugas penanggulangan krisis.

Mengenal Shual: otak digital manajemen krisis

Teknologi ini memiliki kemampuan untuk memproyeksikan area jatuhnya roket guna memberikan peringatan dini yang lebih akurat. Selain itu, sistem tersebut juga berfungsi sebagai panduan bagi tim penyelamat dalam memobilisasi bantuan ke lokasi terdampak pasca-serangan.

Laporan tersebut juga menyoroti kegunaan sistem dalam mendeteksi material peledak aktif yang mengancam keamanan. Selain itu, perangkat ini memungkinkan pengerahan unit penyelamat secara kilat dan membantu proses pendataan korban jiwa secara lebih efektif.

Laporan itu memaparkan kalau pemblokiran akses dilakukan guna mengantisipasi kebocoran data strategis kepada pihak-pihak yang terafiliasi dengan Iran. Diduga, kelompok tersebut tengah memantau titik jatuhnya roket untuk mengevaluasi presisi serangan serta memaksimalkan dampak kerusakan pada operasi mendatang.

Di sisi lain, para pejabat di wilayah utara Israel melontarkan protes keras karena pembatasan tersebut memaksa mereka bertugas di tengah ancaman serangan tanpa dukungan perangkat keselamatan yang krusial.

Blind Spot di tengah hujan roket

Otoritas setempat mengaku kesulitan memetakan skala dan arah serangan akibat pemutusan akses tersebut.

Hal ini terlihat saat hujan roket Hizbullah menghantam permukiman Baram, Dovev, dan Tzivon baru-baru ini, di mana petugas tidak mampu memastikan apakah ledakan tersebut berasal dari hantaman langsung atau hasil intersepsi sistem pertahanan udara.

Ketegangan di perbatasan antara Israel dan Hizbullah dilaporkan masih terus memanas.

Meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sejak 17 April dan diperpanjang hingga 17 Mei mendatang, aksi saling serang lintas batas tetap terjadi dan mengabaikan komitmen tersebut.

Gencatan senjata yang rapuh

Berdasarkan data resmi yang dilansir dari Anadolu Ajansi pada Jumat (08/05/2026), eskalasi serangan Israel ke Lebanon sejak 2 Maret telah mengakibatkan jatuhnya sedikitnya 2.715 korban jiwa dan 8.353 korban luka.

Selain itu, krisis kemanusiaan ini memaksa lebih dari 1,6 juta orang atau setara dengan seperlima total penduduk Lebanon untuk meninggalkan kediaman mereka.

Saat ini, Israel menduduki sejumlah area di Lebanon selatan, yang mencakup wilayah-wilayah pendudukan lama selama beberapa dekade serta area baru hasil eskalasi perang 2023-2024.

Dalam konflik terbaru, pasukan Israel dilaporkan telah merangsek hingga radius 10 kilometer (6,2 mil) melintasi perbatasan selatan Lebanon. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

​Israel lagi gatekeeping sistem "Shual" mereka karena takut intelijen Iran mengintip data presisi roket buat serangan balik. Masalahnya, langkah ini bikin petugas lapangan di wilayah utara ngerasa "buta" saat kerja karena nggak punya akses ke real-time map titik jatuh ledakan. Security vs. safety bener-benar lagi diuji di sini, apalagi tensi sama Hizbullah makin panas meski statusnya lagi gencatan senjata.

iran israel Roket UpdateTimur Tengah eskalasi timur tengah

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB