Comeback Setelah 6 Tahun! Indonesia Sertakan 14 Perupa ke Venice Biennale 2026

Pewarta: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 6 Mei 2026 | 09:24 WIB
Comeback Setelah 6 Tahun! Indonesia Sertakan 14 Perupa ke Venice Biennale 2026
Comeback Setelah 6 Tahun! Indonesia Gaspol Bawa 14 Perupa ke Venice Biennale 2026 (pexels)

astakom.com, Jakarta - Setelah vakum selama enam tahun, Indonesia akhirnya balik lagi ke panggung seni rupa paling prestisius dunia, Venice Biennale 2026. Comeback ini bukan sekadar formalitas, tapi jadi langkah serius buat ngegas eksistensi seni rupa Indonesia di level global.

Kehadiran Indonesia kali ini terasa beda. Bukan cuma soal partisipasi, tapi juga strategi menggabungkan seniman muda dari berbagai daerah dengan nama-nama besar yang sudah punya rekam jejak kuat di kancah seni kontemporer.

Total ada 14 perupa yang dikirim, dengan komposisi yang inklusif dan representatif. Mulai dari seniman daerah, penyintas wilayah terdampak bencana, hingga perupa difabel, semuanya dikurasi untuk membawa perspektif yang lebih luas tentang Indonesia.

Momentum ini juga jadi sinyal kalau Indonesia ingin tampil lebih konsisten di panggung internasional. Bukan cuma hadir, tapi juga pengin punya posisi dan suara yang lebih kuat dalam percakapan seni global.

Comeback panggung global

Menteri Kebudayaan Fadli Zon memastikan Indonesia kembali hadir dengan paviliun nasional setelah sempat absen cukup lama.

“Pada tahun ini juga saya menyampaikan, saya umumkan bahwa Indonesia akan kembali dalam Venice Biennale 2026 dengan paviliun Indonesia,” kata Menbud dikutip astakom.com pada Rabu (06/05/2026).

Ajang ini dikenal sebagai salah satu pameran seni kontemporer terbesar di dunia, dengan partisipasi puluhan negara dan jadi ruang penting untuk menampilkan identitas budaya masing-masing.

Lineup lintas generasi

Dari total 14 perupa, setengahnya merupakan wajah baru dari berbagai daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, hingga Papua, termasuk juga keterlibatan seniman difabel.

Sementara tujuh lainnya adalah nama-nama yang sudah established, termasuk Agus Suwage, yang dikenal luas di ranah seni rupa kontemporer.

Kombinasi ini bikin paviliun Indonesia punya energi baru sekaligus fondasi kuat—fresh tapi tetap berkelas.

Tema dan residensi

Paviliun Indonesia mengusung tema “Printing the Unprinted”, yang berfokus pada narasi-narasi yang selama ini belum banyak terekspos.

Para perupa juga akan menjalani residensi selama dua bulan di Eropa, termasuk pengembangan karya dan mentorship di Florence, sebagai bagian dari proses kreatif yang lebih matang.

Diplomasi budaya naik level

Partisipasi ini bukan cuma soal pameran, tapi juga strategi memperluas jaringan dan memperkuat posisi Indonesia dalam peta seni global.

“Kita berharap ini juga membawa jaringan dan juga wajah seni rupa sebagai bagian dari ekspresi budaya yang penting, wajah Indonesia di tengah-tengah berbagai ekspresi budaya dunia lainnya di Venice Biennale,” ujar Fadli Zon.

Kembalinya Indonesia ke ajang ini setelah absen sejak 2020 jadi langkah penting untuk memulihkan eksistensi seni rupa nasional di level internasional.

Venice Biennale bukan sekadar pameran, tapi juga arena diplomasi budaya yang mempertemukan ide, identitas, dan pengaruh antarnegara. (deA/aNs/aRsp)

Gen Z TakeawayIni bukan cuma soal seni—ini tentang gimana Indonesia mulai berani “show up” lagi di panggung global dengan cerita yang lebih beragam dan inklusif. Dari seniman daerah sampai maestro, semuanya bawa suara masing-masing. Intinya: ini momen Indonesia nggak cuma ikut, tapi siap diperhitungkan.

Perupa Venice Biennale Venice Biennale 2026 Seni Rupa Perupa Indonesia

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB