Pemerintah akan Relokasi Nelayan Terdampak Pembangunan Giant Sea Wall, Menko IPK: untuk Kesejahteraannya

Pewarta: Alfian Tegar
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 5 Mei 2026 | 10:41 WIB
Pemerintah akan Relokasi Nelayan Terdampak Pembangunan Giant Sea Wall, Menko IPK: untuk Kesejahteraannya
Menko IPK, AHY dalam Kick-off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu (Dok. IG @agusyudhoyono)

astakom.com, Jakarta — Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjamin bahwa rencana relokasi nelayan di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa akibat proyek Giant Sea Wall (GSW) tidak akan merugikan warga.

AHY menegaskan bahwa keberadaan GSW di Pantura Jawa diharapkan menjadi solusi ganda, meningkatkan kemakmuran komunitas nelayan serta menyediakan sumber penghidupan baru bagi masyarakat luas.

“Relokasi nelayan (terdampak GSW) ini tentunya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraannya, bukan untuk menggusur tanpa tujuan apalagi membuatnya lebih sengsara,” ungkap AHY saat Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin (04/05/2026).

“Justru dengan ini kita berharap kesejahteraan nelayan itu semakin baik, nilai tukar nelayan semakin tinggi, dan pada akhirnya semakin banyak masyarakat termasuk anak-anak muda kita yang terserap ke lapangan pekerjaan di luar dari profesi nelayan,” tambahnya.

Diintegrasikan dengan KNMP

Dalam keterangannya, AHY menegaskan bahwa proyek tanggul laut raksasa ini akan diintegrasikan dengan program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sesuai dengan visi Presiden Prabowo Subianto.

“Bapak Presiden jelas dalam visi beliau adalah bagaimana mengembangkan dan mengintegrasikan ini semua dengan konsep Kampung Nelayan Merah Putih yang saat ini juga dikelola oleh Kementerian KKP,” tutur AHY.

Pembangunan melalui 15 segmen

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan Ashaf, mengungkapkan strategi percepatan proyek melalui pembagian 15 segmen kerja yang dilakukan secara paralel.

Saat ini, fokus utama masih tertuju pada penyelarasan antara perencanaan dan persiapan teknis sebelum memasuki fase konstruksi fisik.

“Pembangunannya sendiri lebih kurang sekitar 575 km di Pantura Jawa. Tidak kecil atau tidak pendek panjang ini. Kita bagi ke dalam 15 segmen di mana bisa menggunakan kegiatan pembangunan secara paralel,” tutur Didit.

Presiden minta libatkan akademisi

Sebelumnya, astakom.com melansir, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto, mendapat instruksi dari Presiden Prabowo Subianto untuk melibatkan akademisi dalam proyek strategis nasional tanggul laut raksasa (giant sea wall).

Instruksi Presiden Prabowo ini disampaikan pada rapat terbatas (ratas) di Istana Negara, Jakarta, kemarin (20/4/2026), membahas percepatan pembangunan giant sea wall sebagai langkah antisipatif pemerintah melindungi kawasan pesisir utara Jawa. (aLf/aNs)

Gen Z Takeaway

Relokasi nelayan di proyek Giant Sea Wall ini diposisikan bukan sebagai “gusur”, tapi peningkatan kesejahteraan: pemerintah menargetkan pendapatan naik, peluang kerja baru terbuka, dan terintegrasi dengan Kampung Nelayan Merah Putih. Dengan pembangunan dibagi 15 segmen dan dorongan kolaborasi termasuk akademisi, proyek ini diarahkan lebih terstruktur dan berorientasi jangka panjang.

Menteri Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono AHY Giant sea wall Presiden Prabowo Prabowo Subianto

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB