Rilis Peringatan Hari Pers se-Dunia oleh UNESCO: Lindungi Jurnalis dan Soroti Pers Global Terancam!

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: AR Purba
Minggu, 3 Mei 2026 | 20:52 WIB
Rilis Peringatan Hari Pers se-Dunia oleh UNESCO: Lindungi Jurnalis dan Soroti Pers Global Terancam!
UNESCO: Lindungi Jurnalis, Soroti Pers Global Terancam! (Ilustrasi kebebasan pers jurnalis gemini)

astakom.com, Jakarta – Hari ini 3 Mei 2026 ingatan insan pers dunia mengingatnya sebagai “HAri Kebebesan Pers se-Dunia”. Yup,  tanggal 3 Mei dua hari berselang setelah peringatan hari buruh internasional.

DAlam rilisnya pada peringatan hari kebebasan per se-dunia tadi, UNESCO masih mencatat masih maraknya aktifitas intimidasi dan pengungkungan aktifitas jurnalisme di berbagai penjuru dunia. Bahkan ada serangan fisik hingga intimidasi terhadap para pewarta dalam kegiatan jurnalisme semakin sering terjadi.

Berdasarkan laporan terbaru dari UNESCO pada Minggu, (3/5/2026) terkait tren global kebebasan berekspresi, terungkap kalau sejak tahun 2012, kebebasan berekspresi secara global telah mengalami penurunan sebesar 10 persen.

Ancaman kebebasan Pers secara global

Fenomena ini menyorot betapa pentingnya menjamin perlindungan bagi para jurnalis dan menyadarkan kita akan tantangan yang mereka hadapi setiap hari di lapangan.

Penurunan seperti ini sebelumnya hanya tercatat terjadi pada masa-masa krisis besar seperti Perang Dunia I, menjelang Perang Dunia II, serta di era Perang Dingin pada akhir 1970-an.

Alarm self sensor & tekanan hukum

Pada Minggu, (3/5/2026) UNESCO mengungkap hasil analisis berdasarkan data dari Varieties of Democracy (V-Dem), ialah basis data global yang memantau kondisi demokrasi dan kebebasan sipil di berbagai negara.

Temuan tersebut mengungkapkan kalau praktik sensor diri di kalangan jurnalis menunjukkan peningkatan sebesar 69% dalam periode 2012 hingga akhir 2025.

Yang paling memprihatinkan, bentuk sensor dengan dampak paling besar justru berasal dari diri jurnalis itu sendiri, sebagai akibat dari tekanan yang terus meningkat di lingkungan kerja mereka.

Jurnalis dan media kini semakin kerap menghadapi berbagai bentuk tekanan hukum, mulai dari tuduhan pencemaran nama baik hingga penerapan aturan dan regulasi yang berpotensi membatasi kebebasan kerja jurnalistik.

Ancaman nyata bagi kalangan Jurnalis perempuan

Selain itu, kekerasan terhadap jurnalis di ruang digital, khususnya yang menargetkan jurnalis perempuan, menunjukkan peningkatan signifikan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan International Center for Journalists (ICFJ) bersama UN Women dan UNESCO, tercatat bahwa 75% jurnalis perempuan pernah mengalami kekerasan daring.

Terlepas dari hal tersebut, sekitar 42% dari mereka melaporkan kalau intimidasi daring tersebut merambah ke ancaman atau kekerasan fisik di dunia nyata, angka yang menunjukkan lonjakan tajam dari 20% pada tahun 2020.

Optimisme di tengah krisis Informasi

Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, masih ada perkembangan positif yang patut dicatat.

Dari hasil survei global UNESCO pada tahun 2025 terhadap 194 negara, hampir separuhnya telah mengadopsi kerangka hukum untuk mengakui keberadaan media komunitas.

Gak hanya itu, banyak dari negara-negara ini juga menyediakan dukungan finansial, menandakan komitmen yang kian nyata terhadap keberagaman media.

Kemajuan signifikan juga tampak dalam hal akses informasi, di mana sebanyak 139 Negara Anggota PBB telah menerapkan jaminan hukum untuk memastikan hak publik dalam mengakses informasi.

Di sisi lain, kemajuan dalam teknologi digital dan kecerdasan buatan semakin mendorong pertumbuhan jurnalisme investigasi lintas batas serta memperkuat kolaborasi internasional.

Upaya melindungi jurnalis dan menjaga keutuhan informasi tetap menjadi pilar utama dalam mendukung perdamaian dan keamanan  global.

"Ruang redaksi di seluruh dunia berjuang untuk menutupi biaya mereka dan menghadapi ancaman eksistensial. Namun, dengan media sosial dan kecerdasan buatan yang menyebarkan disinformasi dengan kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, media sosial telah menjadi garis pertahanan terakhir bagi warga negara melawan manipulasi dan perpecahan. Informasi yang bebas dan akurat adalah barang publik. Saya menyerukan kepada Negara-negara Anggota dan semua mitra kami untuk berinvestasi dalam jurnalisme sebagai pengungkit perdamaian,” ucap Khaled El-Enany.(nAD/aRsp)

Gen Z Takeaway

​Dunia jurnalistik lagi nggak baik-baik saja: kebebasan bicara turun drastis, dan jurnalis perempuan makin rentan kena online abuse yang berujung ke kekerasan fisik. Di era gempuran hoaks AI dan medsos, jurnalisme yang kredibel adalah "benteng terakhir" kita biar nggak gampang kemakan manipulasi dan perpecahan. Support jurnalisme lokal dan komunitas itu krusial banget buat menjaga demokrasi tetap sehat!

UNESCO Hari Kebebasan Pers Sedunia Kebebasan Pers Terancam UN Women jurnlaisme Pers

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB