Resilien! Indonesia Peringkat 2 Paling Tahan Krisis Energi Dunia 2026

Pewarta: Shintya
Editor: AR Purba
Rabu, 22 April 2026 | 12:06 WIB
Resilien! Indonesia Peringkat 2 Paling Tahan Krisis Energi Dunia 2026
Resilien! Indonesia Peringkat 2 Paling Tahan Krisis Energi Dunia 2026 [ilustrasi/Pertamina]

astakom.com, Jakarta - Di tengah ketegangan eskalasi timur tengah yang masih dalam status siaga, hal tersebut masih terasa memicu fluktuasi harga komoditas termasuk harga energi, ternyata Indonesia dinilai sebagai negara yang relatif tahan terhadap guncangan ketidakpastian harga energi global, khususnya minyak dan gas.

Perusahaan jasa keuangan dan perbankan multinasional asal Amerika Serikat (AS) JPMorgan merilis laporan berjudul Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026.

Dalam laporan itu, Indonesia menduduki posisi ke dua sebagai salah satu negara yang relatif tahan terhadap guncangan dan fluktuasi harga energi global.

Temuan ini berdasarkan hasil analisis dari 52 negara konsumen energi terbesar yang mewakili sekitar 82 persen dari konsumsi energi dunia. Salah satu indikator utama dalam hasil laporan tersebut adalah total insulation factor. 

Indonesia tergolong resilien hadapi krisis

Ketersediaan total insulation faktor adalah ukuran seberapa besar porsi energi suatu negara yang tidak bergantung pada minyak dan gas global.

Indonesia mencatat angka sekitar 77 persen, dan termasuk yang tertinggi di antara negara-negara yang dianalisis.

Angka itu menunjukkan bahwa Indonesia resilien atau tangguh. Ketahanan ini didukung oleh ketersediaan energi domestik, khususnya batubara dan gas.

Dengan ketergantungan impor yang relatif lebih rendah, Indonesia nggak terlalu rentan sama lonjakan harga energi global dibanding negara-negara lain.

Tetap hadapi risiko

Meski demikian, Indonesia tetap menghadapi risiko, terutama karena jadi konsumer minyak dengan volume yang masih cukup besar dan sebagian kebutuhan konsumsi energinya masih impor.

Hal ini bikin perekonomian tetap sensitif dan sedikit banyak terpengaruh oleh pergerakan harga energi dunia. Sementara itu, diketahui, negara paling rentan adalah Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan sejumlah negara Eropa yang bergantung pada impor energi.

Fyi, ketahanan Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global ini juga direspon dengan langkah strategis pemerintah untuk memproduksi energi mandiri.

Indonesia kejar mandiri energiBerdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia saat ini terus ngepush energi baru terbarukan terutama untuk biofuel untuk mengejar mandiri energi.

Dilansir dari redaksi astakom.com, sebagai langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak harga minyak dunia, pemerintah menyiapkan kebijakan soal energi minyak Biodiesel 50 (B50).

Biodiesel B50 adalah campuran bahan bakar diesel yang terdiri dari 50 persen Biodiesel (biasanya FAME atau kombinasi FAME–HVO) dan 50 persen diesel fosil.

Rencana penerapan B50 pada Juli 2026

Biodiesel dalam campuran tersebut berasal dari bahan baku nabati seperti minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) maupun limbah minyak goreng yang diolah melalui proses kimia menjadi bahan bakar.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan implementasi kebijakan B50 akan mulai diterapkan secara luas pada 1 Juli 2026 mendatang.

Udah  melalui uji teknis

Kebijakan itu diterapkan setelah pemerintah melakukan serangkaian uji teknis pada berbagai moda transportasi dan mesin industri. Pemerintah menguji penggunaan B50 pada alat berat, kapal, kereta api, sampai truk logistik.

Bahlil mengklaim hasil evaluasi selama hampir enam bulan terakhir menunjukkan performa positif pada mesin-mesin yang diuji.

"B50 sudah hampir enam bulan kita melakukan uji pakai di beberapa peralatan seperti alat berat, kapal, kereta api, kemudian truk dan sekarang masih bergulir terus. Tetapi sebentar lagi akan final dan sampai dengan hari ini uji cobanya alhamdulillah cukup baik," kata Bahlil di Jakarta, dikutip pada Rabu (22/4/2026).(Shnty/aRsp)

Gen Z Takeaway

Di tengah global energy chaos, Indonesia ternyata cukup “immune” alias tahan banting karena ketergantungan impor energi lebih rendah—insulation factor-nya tembus 77%. Support utamanya dari resource lokal kayak batubara, gas, plus renewable push yang lagi digaspol, termasuk program B50. Tapi tetap harus aware, karena konsumsi minyak masih tinggi jadi harga global tetap bisa ngefek walau nggak separah negara lain.

energi global minyak dunia B50 E20 Kemandirian Energi BBM

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB