Stok Obat RI Aman 6 Bulan, BPOM Siapkan Langkah Cegah Kenaikan Harga
astakom.comJakarta — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan persediaan obat nasional tetap terjaga untuk jangka waktu enam bulan ke depan meski situasi geopolitik di Timur Tengah terus memanas. Kepastian ini disampaikan Kepala BPOM, Taruna Ikrar, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kepada wartawan pada Senin (20/4/2026).
Kondisi tersebut merupakan hasil koordinasi antara pemerintah dan pelaku industri farmasi nasional dalam menjaga pasokan obat di dalam negeri.
Meski demikian, BPOM mengingatkan bahwa situasi ini bersifat jangka pendek dan sangat dipengaruhi oleh dinamika global.
Jika konflik berkepanjangan, tekanan terhadap harga dan distribusi obat berpotensi meningkat.
Tekanan geopolitik global
Kondisi global saat ini bikin industri farmasi ikut terdampak, terutama karena banyak komponen obat masih bergantung pada produk turunan minyak bumi. BPOM menyebut lebih dari 50 persen kemasan obat berasal dari petrokimia yang sensitif terhadap harga energi dunia.
"Kita tahu bahwa geopolitik terjadi sekarang ini yang berhubungan dengan harga obat, kita paham itu. Dan pada umumnya ada dua obat itu produknya. Kemasannya itu lebih 50% itu merupakan petrokimia. Artinya residu-residu dari bahan yang diproduksi dari minyak," kata Taruna pada wartawan pada Senin (20/4/2026).
Ketergantungan ini membuat biaya produksi obat mudah terdorong naik saat harga minyak global berfluktuasi.
Situasi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga obat di dalam negeri.
Ketergantungan bahan baku
Ketergantungan terhadap petrokimia juga terjadi pada bahan aktif obat. BPOM mencatat sekitar 30 persen obat kimia yang beredar di masyarakat merupakan turunan dari minyak bumi.
"Kemudian beberapa obat juga sekitar 30% dari obat kimia yang beredar itu adalah juga turunan dari petrokimia, yang berhubungan misalnya bahan baku parasetamol dan ibuprofen," ujar Taruna.
Dan juga di sisi lain, ketergantungan impor masih sangat tinggi. Lebih dari 90 persen bahan baku obat, termasuk intermediate product dan biosimilar, masih berasal dari luar negeri.
"Nah, jadi kesimpulannya geopolitik internasional yang sekarang ini pasti berpengaruh… bahkan biosimilar itu lebih 90% kita impor. Jadi tentu ini akan berdampak kepada harga obat," sambungnya.
Strategi BPOM tekan harga
Untuk mengantisipasi kenaikan harga, BPOM menyiapkan strategi utama melalui pembaruan aturan kemasan agar industri lebih fleksibel tanpa mengorbankan keamanan produk.
"Nah, ada dua strategi yang Badan POM lakukan… yang berhubungan dengan kemasan," kata Taruna.
BPOM akan memberi ruang bagi industri untuk mengganti material kemasan, seperti dari plastik ke botol atau dari strip ke kertas dan karton. Hal ini dinilai penting karena biaya kemasan bisa mencapai sekitar 30 persen dari harga obat.
"Yang penting kepastian aman, kestabilan itu tetap terjamin… aturan ini kalau tidak diubah akan mempengaruhi harga obat," ujarnya.
Selanjutnya pemerintah juga akan melakukan negosiasi dengan negara pemasok bahan baku guna menjaga stabilitas pasokan dan harga.











