Kemenkes-BPOM Otw Terapkan Peraturan Label Nutri-Level Biar Publik Tak Asal Pilih Makanan!
astakom.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI resmi menerapkan label Nutri-Level pada produk makanan dan minuman kemasan sebagai upaya menekan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih yang selama ini jadi pemicu penyakit kronis.
Kebijakan ini disiapkan melalui keputusan menteri, sementara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih merampungkan aturan teknis yang kini dalam proses harmonisasi di Kementerian Hukum.
Aturan masuk tahap akhir
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa regulasi tersebut sudah disusun dan kini memasuki tahap finalisasi sebelum diterapkan lebih luas.
“Kemenkes sudah menyusun keputusan Menteri Kesehatan dan BPOM juga sudah menyusun Peraturan BPOM yang sekarang diharmonisasi di Kementerian Hukum,” ujar Budi dikutip dari media pada Rabu, (15/4/2026).
Pada tahap awal, penerapan label Nutri-Level masih bersifat sukarela. Pemerintah memberikan masa transisi sekitar satu hingga dua tahun sebelum kebijakan ini diberlakukan secara wajib.
“Sekarang masih masa transisi, nantinya pencantuman Nutri-Level masih kita minta pelaku usaha lakukan sendiri. Secara bertahap akan kita wajibkan,” pungkasnya dikutip dari media pada Rabu, (15/4/2026).
Konsumsi GGL picu penyakit
Konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih selama ini dikaitkan dengan meningkatnya berbagai penyakit tidak menular seperti Diabetes Melitus, hipertensi, penyakit jantung, stroke, obesitas, hingga kanker. Kondisi ini juga berdampak pada meningkatnya beban pembiayaan kesehatan nasional, termasuk program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Label bantu pilih sehat
Melalui sistem Nutri-Level, produk akan diberi kategori dari A hingga D. Kategori A ditandai warna hijau tua sebagai pilihan paling sehat, sedangkan D berwarna merah yang menunjukkan kandungan GGL tinggi. Skema ini dirancang agar konsumen bisa langsung memahami kualitas gizi produk tanpa perlu membaca tabel informasi yang lebih detail.
Pemerintah menekankan bahwa kebijakan ini menjadi bagian dari upaya edukasi agar masyarakat lebih sadar dan bijak dalam mengatur pola konsumsi.
"Lebih baik kita mencegah agar tetap sehat. Kita harus mengatur konsumsi makan kita, terutama GGL. Ini sifatnya lebih edukasi masyarakat, jadi masyarakat diharapkan bisa membeli minuman atau makanan yang sehat,” ujar Budi dikutip dari media pada Rabu, (15/4/2026). (deA/aRsp)
Gen Z takeaway
Sekarang gak ada lagi alasan buat gak tahu mana yang lebih sehat. Semua sudah dibuat simpel dan kelihatan jelas di kemasan. Tinggal keputusan ada di lo, mau mulai lebih aware atau tetap cuek sama apa yang dikonsumsi setiap hari.











