Gencatan Senjata Cuma Wacana? Seharian Israel Serang Lebanon, 254 Orang Meninggal
astakom.com, Jakarta – Israel telah menggempur sejumlah titik di Lebanon, termasuk ibu kota Beirut, dalam serangan hebat yang menurut Badan Pertahanan Sipil Lebanon telah mengakibatkan setidaknya 254 jiwa melayang dan melukai lebih dari 1.165 orang
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kalau Lebanon gak akan terlibat dalam gencatan senjata.
Melansir dari Al Jazeera, Kamis (9/04/2026), serangan itu diungkapkan sebagai pemboman terberat yang dilakukan Israel di Lebanon semenjak dimulainya agresi rezim tersebut atas negara Arab itu pada awal Maret, bersamaan dengan agresi bersama AS dan Iran.
Lebanon Justru Digempur Habis-habisan
Menteri Kesehatan Rakan Nassereddine menyatakan kalau Lebanon mengalami "eskalasi berbahaya" usai Israel melakukan "lebih dari 100 serangan udara" di seluruh wilayah.
"Ambulans masih mengangkut korban ke rumah sakit. Kami mendesak organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon,” ucap Nassereddine kepada Al Jazeera.
Panic Attack warga sipil & krisis medis
Portal berita Al-Mayadeen yang berlokasi di Lebanon melaporkan kalau rezim Israel udah menyerang kawasan pemukiman padat penduduk, mulai dari ibu kota Beirut dan pinggiran selatannya hingga wilayah Saida dan Nabatieh di selatan serta Bekaa di Lebanon timur.
Palang Merah Lebanon menyatakan kalau 100 ambulansnya telah disiagakan untuk merespons serangan itu dan tim mereka sedang berusaha membawa korban cedera ke rumah sakit
“Kami dapat mendengar serangkaian ledakan besar, dalam, dan menggelegar yang berasal tidak hanya dari pinggiran selatan tetapi juga dari banyak bagian lain kota,” ucap Malcolm Webb dilansir dari Al Jazeera, pada Kamis, (9/4/2026).
“Banyak lokasi berada di tempat-tempat yang tidak diduga akan terjadi pemogokan. Hal itu menyebabkan kepanikan dan kekacauan di jalanan. Anak-anak menangis. Orang-orang berteriak – banyak orang terluka, berlarian di jalanan mencoba menuju rumah sakit. Yang lain meninggalkan mobil mereka di tengah kemacetan.” sambungnya.
Rumah sakit yang berlokasi di Lebanon memberikan panggilan mendesak untuk penggalangan darah karena kewalahan dalam menangani jumlah korban, menurut sumber-sumber yang dekat dengan gerakan perlawanan Lebanon, Hizbullah, yang telah jadi sasaran utama serangan Israel dalam beberapa minggu terakhir akibat dukungannya terhadap perjuangan Iran melawan agresi AS-Israel.
Israel Manfaatkan Celah 'Operasional'
Serangan sengit tersebut berlangsung hanya beberapa jam setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) menyetujui syarat-syarat gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan, yang juga meliputi penghentian tindakan agresif Israel terhadap Lebanon.
Kepala Staf rezim Israel, Eyal Zamir menyatakan, usai serangan pada Rabu kemarin kalau rezim terus melancarkan serangan ke Lebanon dan akan memanfaatkan setiap kesempatan operasional yang ada.
Agresi Israel terhadap Lebanon telah merenggut nyawa ratusan orang dan mengakibatkan hampir satu juta orang terpaksa meninggalkan kediaman mereka dalam lebih dari sebulan serangan yang tidak pandang bulu.
Tindakan agresi itu tidak menghentikan Hizbullah, karena kelompok ini telah menunjukkan bahwa mereka akan tetap mendukung Iran dan perlawanan di kawasan dalam perjuangan melawan AS dan Israel.
Israel tutupi kegagalan diplomasi
Di sisi lain, Hassan Fadlallah, anggota blok Loyalitas kepada Perlawanan di parlemen Lebanon, menyatakan kalau rezim Israel berupaya "menghindari keputusan gencatan senjata terkait Lebanon untuk menutupi kegagalannya dalam agresi terhadap Iran."
Ia mengungkapkan kalau Israel, setelah tidak berhasil mencapai tujuannya, terpaksa menerima keputusan AS untuk mengakhiri perang.
Fadlallah menyatakan kalau "kejahatan Israel di Lebanon tidak dapat menghapus citra kekalahannya di hadapan Iran" atau mundurnya pasukan Israel di hadapan perlawanan Lebanon sebelum mencapai Sungai Litani. (nAD)aRsp)
Gen Z Takeaway
POV: When the group chat agrees to stop fighting, but one person still sends 'savage' voice notes. Gencatan senjata AS-Iran beneran kerasa fake buat warga Lebanon yang justru ngalamin hari paling berdarah. Ini bukti kalau diplomasi global itu seringkali penuh celah dan nggak selalu seindah judul beritanya. Major trust issues vibes banget liat gimana "damai" cuma berlaku di satu tempat sementara tempat lain makin chaos. Stay safe for everyone in the region, humanity should come first!












