Penularan dan Angka Kematian Akibat TBC Tinggi! Kemenkes Gencarkan Deteksi Dini dan CKG

Editor: Dhea Vallerina Riyon
Rabu, 8 April 2026 | 11:17 WIB
Penularan dan Angka Kematian Akibat TBC Tinggi! Kemenkes Gencarkan Deteksi Dini dan CKG
Darurat TBC! Kemenkes Gaspol Deteksi Dini dan CKG Selamatkan Nyawa (astakom/freepik)

astakom.com, Jakarta – Pemerintah mempercepat langkah eliminasi tuberkulosis (TBC) di Indonesia menyusul tingginya angka penularan dan kematian akibat penyakit tersebut. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan upaya deteksi dini hingga inovasi kesehatan menjadi kunci utama dalam menekan laju kasus.

Dalam kegiatan Temu Media Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin P. Octavianus mengungkapkan situasi TBC di Indonesia masih mengkhawatirkan. Ia menyebut, setiap menit dua orang terinfeksi dan setiap empat menit satu orang meninggal dunia akibat TBC.

“Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan,” ujarnya dikutip dari laman resmi kemenkes apda Selasa, (7/4/2026).

Indonesia masih jadi penyumbang kasus tinggi

Indonesia mencatat lebih dari 1 juta kasus TBC setiap tahun, menjadikannya sebagai salah satu negara dengan beban tertinggi di dunia. Bahkan, Indonesia berkontribusi sekitar 10 persen dari total kasus global menurut World Health Organization.

Data menunjukkan pada 2024 terdapat sekitar 118.000 kematian akibat TBC pada individu tanpa HIV dan 8.100 kematian pada penderita dengan HIV. Kondisi ini mempertegas bahwa TBC masih menjadi ancaman serius yang membutuhkan penanganan cepat dan terintegrasi.

Deteksi dini dan CKG jadi strategi utama

Sebagai respons, pemerintah mendorong langkah agresif melalui deteksi dini secara masif, salah satunya lewat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang ditargetkan menjangkau 130 juta masyarakat pada 2026.

Selain itu, strategi lain yang diperkuat meliputi pelacakan kontak erat, pemberian terapi pencegahan TBC, hingga penguatan peran masyarakat dan kader kesehatan di lapangan.

“Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa,” tegas Benjamin.

Inovasi dan dukungan global terus diperkuat

Perwakilan WHO di Indonesia, Setiawan Jati Laksono menilai upaya penanganan TBC membutuhkan komitmen jangka panjang, termasuk dari sisi pendanaan dan kebijakan.

“TB masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan,” ujarnya.

WHO juga menyoroti berbagai tantangan, seperti kasus yang belum terdiagnosis, TBC resistan obat, serta faktor risiko seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok.

Meski demikian, harapan tetap terbuka melalui inovasi yang terus berkembang, mulai dari lebih dari 100 alat diagnostik, 29 jenis obat TBC, hingga 18 kandidat vaksin yang saat ini dalam tahap pengembangan.

“Ini saatnya bertindak sekarang,” tegasnya. (deA/aRsp)

Gen Z Takeaway

Kasus TBC di Indonesia masih tinggi dan bahkan mematikan tiap beberapa menit. Tapi kabar baiknya, pemerintah lagi ngebut lewat program cek kesehatan gratis dan inovasi medis. Intinya, makin cepat terdeteksi, makin besar peluang sembuh—jadi jangan cuek sama gejala dan penting banget buat cek kesehatan dari sekarang.

Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) Deteksi dini CKG tbc

Infografis

Terkini