Hadapi Global Tension, RI Justru Berpotensi Raup Cuan? Ini Penjelasannya!

Editor: Shintya
Minggu, 5 April 2026 | 14:51 WIB
Hadapi Global Tension, RI Justru Berpotensi Raup Cuan? Ini Penjelasannya!
Hadapi Global Tension, RI Justru Berpotensi Raup Cuan? Ini Penjelasannya! (astakom/ilustrasi pexels)

astakom.com, Jakarta - Ketegangan yang terjadi antara Iran, Amerika Serikat dan Israel menimbulkan banyak kekhawatiran di kalangan negara- negara dunia.

Bagaimana tidak, jalur utama distribusi perdagangan energi global, yaitu Selat Hormuz, sudah sebulan lebih aksesnya dibatasi. Di beberapa negara harga energi mulai naik. Harga minyak mulai dilakukan penyesuaian, harga komoditas lain ikut terkerek naik akibat keterbatasan akses distribusi.

Melihat dari POV lain (Point of View), ternyata ada skenario baik nih buat Indonesia yang punya komoditas melimpah. Jadi ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, bikin harga komoditi terdongkrak naik.

Dilansir dari podcast yang tayang di YouTube, Fuad Bawazier  Menteri Keuangan era Soeharto menyebutkan bahwa konflik geopolitik yang tidak kita harapkan ini membawa keuntungan untuk negara.

"Bahwa perang ini, kita tidak mengharapkan perang. Terus terang aja kita banyak diuntungin. Itu harga batu bara nikel timah itu naik semua, alhamdulillah kita punya komoditi banyak," kata Fuad Bawazier dikutip dari podcast Cuap Cuap Cuan pada Minggu (5/04/2026).

Meningkatkan penerimaan negara

Kenaikan harga komoditas ini dimanfaatkan sama pemerintah Indonesia untuk meningkatkan volume produksi batu bara lewat penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Bahkan pemerintah mulai mengkaji penyesuaian kebijakan soal pajak ekspor batu bara untuk meningkatkan penerimaan negara.

Dilansir dari redaksi Astakom.com, beberapa waktu lalu Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui soal tarif baru Bea Keluar (BK) khusus untuk komoditas batu bara dan nikel.

Purbaya sempat mengusulkan skema tarif berjenjang untuk batu bara, yaitu mulai dari 5 persen sampai 11 persen. Angka itu pastinya akan disesuaikan dengan fluktuasi harga di pasar perdagangan internasional. Namun, untuk keputusan pastinya Purbaya belum ngespill. Dia juga bilang kalau level-taxnya harus dirapatkan dulu.

Implementasi kebijakan berpeluang dipercepat

"Harusnya kalau besok jadi, ya 1 April. Kalau besok jadi. Belum tahu, kan masih dirapatkan dulu level tax-nya seperti apa. Yang pasti kan masih angka besar," kata Purbaya.

Implementasi kebijakan ini punya peluang untuk dipercepat sama pemerintah, kalau harga komoditas fosil masih menunjukkan tren penguatan. Hal itu mungkin saja dilakukan untuk mengoptimalkan pendapatan negara.

"Kita lihat seperti apa kondisi industrinya, tetapi kalau kepepet bisa (lebih cepat). Artinya, kalau ini harganya tinggi terus, kita bisa share (segera menerapkan BK) untuk menaikkan income kita," kata Purbaya.

Strategi pemerintah ini dilakukan di saat harga batu bara sekarang lagi tinggi-tingginya. Bahkan tertinggi dalam 1,5 tahun terakhir meskipun sempat jatuh sebesar 4,1 persen ke angka USD 140,5 per ton, beberapa hari lalu. Dalam satu bulan terakhir, harga komoditas fosil ini melonjak sekitar 20,09 persen.

Strategi pemerintah dongkak harga nikel

Sementara itu untuk nikel, pemerintah punya strategi supaya harga nikel di pasar global terdongkrak naik dengan cara mengurangi target produksi bijih nikel tahun ini.

Dalam skema terbarunya, pemerintah akan memangkas produksi bijih nikel menjadi sekitar 260 juta ton. Angka ini turun sekitar 31 persen dibandingkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun lalu, 2025 yang mencapai 379 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, kebijakan ini tak lain untuk mengatasi kelebihan pasokan atau oversupply di pasar global yang dinilai menekan harga jual nikel selama ini.

Keputusan ini juga diambil untuk memposisikan Indonesia sebagai pengendali harga, karena Indonesia menguasai 65 persen produksi nikel dunia artinya Indonesia merupakan produsen dominan, tapi selama ini tidak punya kendali atas harga nikel di pasar global.

Harga nikel mulai naik

"Nah oleh karena itu, kita coba untuk mengontrol. Ini kita yang punya barang tapi kita nggak bisa ngapa-ngapain gimana? Oh ternyata oversupply kemarin sekitar 250 ribu ton Ni. Jadi kita berusaha untuk ke sana," kata Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, dikutip pada Minggu (5/4/2026).

Pengendalian produksi ini terlihat memberi hasil yang cukup memuaskan. Soalnya harga nikel mulai menunjukkan tren positif atau naik setelah pemerintah mengurangi laju eksploitasi.

"Ini harga udah berapa tahun harganya US$ 14-15 (ribu). Kemarin diumumkan Pak Bahlil kan (harga) naik. Nikel sudah naik sebetulnya kan untuk nikel, untuk komoditas nikel dari US$ 14.800-an, sekarang kan US$ 17 (ribu) something lah. Kemarin sempat juga nyentuh US$ 18 (ribu) sekian," tambahnya.

Dilansir dari data Investing, per awal April harga nikel berjangka senilai USD17.059,00. Sementara itu harga timah global (LME) per awal April 2026 bergerak di kisaran US$45.000 - US$55.000 per ton, naik seiring dengan tingginya permintaan untuk industri AI. (shnty/aRsp)

Gen Z Takeaway

Ketegangan Iran-AS-Israel bikin distribusi minyak global ke-disrupt, harga energi & komoditas ikut naik. Tapi dari POV lain, Indonesia justru dapet benefit karena harga batu bara, nikel, dan timah lagi bullish. Pemerintah lagi capitalize momentum lewat pajak ekspor & kontrol produksi buat boost pendapatan negara.

selat hormuz Ekonomi Global harga batubara harga nikel Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba),

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB