Pakistan Jadi Mediator AS-Iran, Bakal Damai atau Lanjut War?

Editor: Nur Nadiah Islamiyah
Selasa, 31 Maret 2026 | 16:16 WIB
Pakistan Jadi Mediator AS-Iran, Bakal Damai atau Lanjut War?
Pakistan Jadi Mediator AS-Iran, Bakal Damai atau Lanjut War? (Astakom / Pemerintah Pakistan)

astakom.com, JakartaPakistan memperkuat usaha diplomatiknya untuk menjadi penghubung utama dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Usaha tersebut sejalan dengan hubungan strategis Pakistan dengan Iran dan AS yang menjadi dasarnya.

Walaupun belum terlihat indikasi bahwa konflik akan mereda, pemerintah Pakistan di Islamabad mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Turki, Mesir, dan Arab Saudi pada hari Minggu (29/03/2026) untuk mempersiapkan kemungkinan dialog antara Washington dan Teheran.

Usai pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan bahwa Pakistan akan "merasa terhormat untuk menyelenggarakan dan mendukung dialog yang produktif antara kedua pihak dalam waktu dekat."

Misi Diplomasi: Pakistan Kumpulkan Negara Arab Demi Dialog AS-Iran

"Pakistan sangat senang bahwa baik Iran maupun AS telah menyatakan kepercayaan mereka kepada Pakistan untuk memfasilitasi pembicaraan tersebut," ucap Dar, tanpa memberikan rincian lebih lanjut, dilansir dari DW News dikutip oleh astakom pada Selasa, (31/3/2026).

Sampai saat ini, belum diketahui apakah negosiasi akan berlangsung secara langsung atau tidak. Baik AS maupun Iran juga belum memberikan konfirmasi mengenai kapan negosiasi akan dilaksanakan. Kedua negara malah mengeluarkan pernyataan yang saling berlawanan terkait apakah negosiasi akan benar-benar dilaksanakan.

Pada Minggu (29/3/2026), Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengecam bahwa rencana negosiasi yang akan diadakan di Pakistan sebagai "alasannya" untuk invasi. Sementara 2.500 marinir AS sudah tiba di Timur Tengah, Qalibaf mengungkapkan bahwa mereka akan "Dihancurkan sepenuhnya."

Deadlock! Iran Tolak Mentah-mentah 15 Poin Rencana Damai Trump

Sebelumnya, Iran menolak rencana perdamaian AS yang terdiri dari 15 poin yang disampaikan melalui Pakistan, dengan sebutan "terlalu berlebihan, tidak rasional, dan tidak realistis."

Rencana itu meminta Iran untuk menghentikan pengayaan nuklir, menutup fasilitas nuklir, dan mengizinkan pelayaran di Selat Hormuz.

Ancaman Infrastruktur vs 2.500 Marinir: Tensi yang Tak Kunjung Padam
Pada Senin, (30/3/2026) Kementerian Luar Negeri Iran menolak pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai adanya negosiasi yang tengah berlangsung antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik

"Kami belum melakukan negosiasi langsung apa pun," ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei pada konferensi pers.

Trump terus-menerus menunjukkan kalau ada beberapa bentuk pembicaraan yang terjadi antara AS dan Iran. Namun, dalam salah satu postingan terbarunya di Truth Social, Trump juga mengancam akan "memusnahkan" infrastruktur energi Iran jika Iran tidak segera mencapai "kesepakatan" dan membuka Selat Hormuz.

Stabilisator Kawasan: Alasan Pakistan Nekat Jadi Penengah
Islamabad berusaha memperkuat kembali pentingnya diplomatiknya dengan berperan sebagai mitra dialog yang dapat dipercaya, menggunakan hubungan yang dimilikinya dengan Washington, Teheran, dan negara-negara Teluk, ungkap Raza Rumi, seorang analis asal Pakistan yang tinggal di AS, kepada DW.

"Konflik AS-Iran secara langsung mengancam stabilitas ekonomi Pakistan, mengingat ketergantungannya pada aliran energi dan kiriman uang dari negara-negara Teluk," ucapnya.

Pakistan perlu waspada dalam menyeimbangkan diplomasi mengingat adanya perjanjian pertahanan dengan Arab Saudi dan koneksi budaya serta perbatasan sepanjang 900 kilometer dengan Iran.

"(Peran) mediator memberi kesempatan bagi Pakistan untuk tampil sebagai aktor stabilisator sekaligus melindungi diri dari dampak perang regional yang meluas," sambung Rumi.

Selama periode kedua Trump menjabat sebagai presiden, hubungan antara AS dan Pakistan mengalami perbaikan. Trump sudah menjamu kepala angkatan darat Pakistan, Asim Munir, dua kali, dan menyebut jenderal itu sebagai "marsekal lapangan kesayangan saya."

Fatemeh Aman, yang merupakan seorang ahli Iran-Pakistan sebelumnya pernah bekerja di Middle East Institute dan Atlantic Council, menyatakan kepada DW kalau Pakistan merupakan salah satu dari sedikit negara yang berhasil menjaga hubungan baik dengan Washington dan Teheran tanpa dipandang sebelah mata.

Dia menyatakan bahwa tujuan Pakistan juga adalah untuk menangani konflik yang berpotensi menimbulkan efek di dalam negerinya dalam waktu dekat.

Gen Z Takeaway
​Honestly, situasi Pakistan jadi mediator ini beneran definisi living on the edge. Di satu sisi, mereka pengen jadi "hero" yang nyelamatin ekonomi kawasan, tapi di sisi lain, AS dan Iran malah lempar-lemparan ancaman yang bikin anxiety. Trump sibuk sama 15 poinnya di medsos, sementara Iran nganggep itu cuma alasan buat invasi. Intinya, diplomasi ini lagi di tahap toxic relationship—banyak drama, saling tolak, tapi Pakistan tetep berusaha buat "nyomblangin" lagi biar nggak berujung war total. Moga aja Pakistan berhasil jadi stabilisator beneran sebelum semuanya makin chaos!

iran Iran AS Negosiasi AS - Iran Negosiasi Damai pakistan Pakistan News

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB