Live-Action Moana Perkenalkan Tampilan Baru Maui, Publik Beri Respons Beragam
astakom.com, Jakarta - Disney akhirnya merilis trailer resmi live-action Moana yang langsung jadi perbincangan global. Film adaptasi dari animasi ikonik ini menghadirkan Dwayne Johnson kembali sebagai Maui, lengkap dengan tampilan realistis yang mencuri perhatian.
Trailer yang dirilis oleh Walt Disney Studios itu memperlihatkan petualangan Moana dalam versi dunia nyata, dengan visual laut, makhluk mitologi, hingga karakter ikonik yang di-upgrade secara sinematik.
Namun di balik hype tersebut, respons publik terbelah dari yang nostalgia berat, sampai yang mengkritik tampilan Maui yang dianggap kurang “kena”.
Lebih realistis, tetap ikonik
Sutradara Thomas Kail menegaskan bahwa pendekatan karakter Maui memang dibuat berbeda dari versi animasi.
“Maui looks more like Dwayne, but I think that the spirit is the same,” ujar Kail dalam wawancara dengan media internasional.
Artinya, karakter Maui sengaja dibuat lebih mendekati fisik asli Dwayne Johnson, tanpa menghilangkan esensi karakternya sebagai demigod yang karismatik.
Visual epik + nostalgia, tapi tuai kritik
Trailer juga menampilkan karakter ikonik seperti HeiHei, Pua, dan Te Fiti dengan sentuhan CGI modern. Cerita masih mengikuti alur klasik, namun dengan tambahan adegan baru yang memperkuat emosi dan world-building.
Meski begitu, tidak semua respon positif. Sejumlah media luar menyoroti detail visual, terutama wig Maui yang dianggap kurang natural.
Bahkan, dalam laporan media hiburan internasional, muncul komentar tajam dari netizen
“This is a cosplay gone wrong,” tulis salah satu reaksi yang dikutip media luar negeri pada Jumat, (27/3/2026).
Selain itu, tone warna dan penggunaan CGI juga disebut terlalu “soft” dibanding ekspektasi visual epik dari Disney.
Produksi besar, representasi Jadi sorotan
Film ini dijadwalkan rilis global pada Juli 2026 dan menjadi salah satu proyek live-action ambisius Disney.
Aktris pendatang baru Catherine Laga'aia dipilih sebagai Moana, yang disebut-sebut sebagai langkah penting untuk menjaga autentisitas budaya Pasifik.
Disney sendiri sejak awal menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar remake, tapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya Polinesia yang jadi fondasi cerita.













