Harga Minyak AS & Dubai Merosot 11% Usai Ungkapkan Tunda Serangan ke Timur Tengah
astakom.com, Jakarta – Harga minyak di Amerika Serikat (AS) terdeteksi turun pada Jumat (27/3/2026) seusai Presiden AS Donald Trump menyatakan mau akhiri perang dan tunda batas waktu serangan fasilitas energi ke Iran.
Penurunan harga itu telah tercatat sebagai penurunan mingguan paling besar dalam 6 bulan masa pemerintahan Trump.
Tunda Serangan, Harga Minyak Langsung "Anjlok"
"Meski ada pembicaraan de-eskalasi, minyak diperdagangkan berdasarkan lamanya perang. Kerusakan langsung pada infrastruktur minyak atau konflik berkepanjangan bisa memaksa pasar untuk cepat menyesuaikan harga lebih tinggi,” ucap analis di Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, dikutip oleh astakom pada Jumat, (27/3/2026).Melansir dari Reuters, Future Brent turun 84 sen menjadi US$107,17, per barel (sekitar Rp 1,8 juta per kurs Jumat) pada pukul 03:53 GMT.
Di sisi lain, futures U.S. West Texas Intermediate (WTI) turun mencapai 1,02 dolar ke level menuju US$94,46 per barel sekitar 1,6 juta.
Kedua acuan tersebut diperdagangkan 4,6 persen lebih rendah dalam mingguan meskipun sebelumnya Brent meningkat 5,7 persen dan WTI melonjak 4,6 persen pada Kamis (26/3/2026) karena kekhawatiran peningkatan eskalasi.
15 Poin dari Trump yang Dianggap Gak Adil Sama Iran
Trump sudah menyatakan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran, tetapi di sisi lain, ia juga mengerahkan ribuan tentara ke Timur Tengah dan memikirkan penggunaan pasukan darat untuk menguasai pusat minyak di Pulau Kharg.Pejabat Iran juga sudah menanggapi tawaran yang diajukan Trump melalui Pakistan, terdiri dari 15 poin permintaan gencatan senjata dari AS.
Iran menyatakan kalau permintaan 15 poin tersebut tidak proporsional atau tidak adil. Eskalasi AS-Israel dengan Iran tercatat telah menurunkan pasokan minyak global sebanyak 11 juta barel setiap harinya.
Badan Energi Internasional menyebut situasi ini sebagai krisis yang lebih serius dibandingkan dengan rangkaian peristiwa 1970 dan konflik gas antara Rusia-Ukraina.
Prediksi Analis: Antara Damai atau Harga Tembus 200 Dollar AS
Analis di Macquarie Group menyatakan bahwa jika perang berakhir dalam waktu dekat, harga minyak akan segera menurun dalam beberapa bulan ke depan, meskipun tetap pada level sebelum konflik dimulai.Akan tetapi, harga itu dapat meningkat sampai 200 dollar AS (sekitar Rp 3,3 juta) jika konflik terus berlangsung hingga akhir Juni.
"Setiap hari tekanan pasar terus meningkat. Negara-negara Asia sedang menggunakan cadangan buffer dan mempertimbangkan penyesuaian permintaan,” ucap Mukesh Sahdev, pendiri dan CEO konsultan berbasis di Australia, XAnalysts.
Gak cuma di AS, harga spot untuk minyak mentah Dubai juga dilaporkan menurun lebih dari setengahnya dan berada di titik terendah dalam tiga minggu. Melansir data dari Reuters, pada Jumat (27/3/2026) hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah penjual yang mengumpulkan tawaran, sementara TotalEnergies masih menjadi satu-satunya pembeli.
Minyak Dubai Ikut Drop: Trader Mulai "Panic Selling"
Premium untuk patokan minyak Timur Tengah, yang menetapkan harga bagi jutaan barel minyak yang diimpor Asia, anjlok drastis menjadi sekitar 17 dollar AS per barel (sekitar Rp 288 ribu) pada penutupan pasar hari Kamis lalu.Beberapa pedagang seperti Unipec, Vitol, Shell, dan BP mulai menjual minyak Dubai satu jam sebelum pasar dibuka
Harga minyak Dubai sempat meroket ke 65 dollar AS (sekitar Rp 1,1 juta) per barel minggu lalu, ketika pasokan minyak yang dapat diperdagangkan menyusut.
Kenaikan harga ini membuat refinery minyak di Asia enggan membeli minyak spot dari Timur Tengah dan lebih memilih untuk membeli dari Eropa, Afrika, dan Amerika.













