Push Efisiensi! Prabowo Klaim Selamatkan Rp308 Triliun, Ini Pos yang Dipangkas
astakom.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto ngespill alasan kebijakannya melakukan pemangkasan anggaran atau efisiensi anggaran. Alasannya adalah buat menyelamatkan uang rakyat dari potensi korupsi.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo dalam gelaran "Presiden Prabowo menjawab bersama pakar dan jurnalis." Efisiensi besar-besaran itu dinilai menjadi jalan satu-satunya jalan buat menyelamatkan uang rakyat dari potensi korupsi.
Perlu diketahui, pada tahap awal efisiensi, pemerintah berhasil menghemat dana Rp308 triliun. Presiden Prabowo yakin kalau dana itu tidak cepat-cepat dipotong, dana itu berpotensi menjadi celah korupsi.
"Waktu pertama melakukan efisiensi, kita menghemat Rp308 triliun dari pemerintah pusat. Dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan. Keyakinan saya, itu semua Rp308 triliun ini jika tidak dipotong, ini ke arah korupsi," kata Prabowo, dikutip Sabtu (21/3/2026).ICOR Indonesia ada di level 6,5
Langkah ini dikaitkan dengan indikator ekonomi Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yang menunjukkan tingkat efisiensi investasi suatu negara. Presiden Prabowo mengatakan bahwa ICOR Indonesia ada di level 6,5 jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Thailand (4), Malaysia (4) bahkan Vietnam (3,6).Angka yang tingginya dari indikator ICOR untuk Indonesia ini menunjukkan kalau negara masih butuh modal yang jauh besar untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi dibandingkan negara lain.
APBN hampir Rp3.700 triliun
Diketahui APBN mendekati angka Rp3.700 triliun. Presiden Prabowo menilai dari situ ada ketidakefisienan sekitar 30 persen."Jadi angka ini artinya 30 persen lebih tidak efisien dari Thailand, Malaysia, Filipina, atau Vietnam. Kalau saya pakai ini sebagai dasar, berarti mendekati GDP kita yang Rp3.700 triliun atau USD230 miliar. 30 persen dari itu maka USD75 miliar, ini tidak efisien," lanjutnya.
Pos-pos penghematan
Presiden Prabowo mengatakan kalau efisiensi yang udah dilakukan pemerintah masih tahap awal. Dalam penilaiannya, masih banyak space untuk penghematan, terutama belanja rutin yang nggak esensial. Beberapa anggaran yang dipotong adalah pos untuk seremonial, beli alat tulis kantor, sampai pengeluaran untuk rapat dan seminar di luar kantor.Presiden Prabowo juga menyoroti soal kebiasaan pengadaan barang seperti komputer dan perlengkapan kantor yang dilakukan hampir setiap tahun. Selain itu, hal yang jadi spotlight adalah maraknya kegiatan kajian yang dinilai tidak menyentuh persoalan utama seperti kemiskinan dan lapangan kerja.
Ini antisipasi pemerintah hadapi potensi krisis
Untuk mengantisipasi potensi krisis, Presiden Prabowo mengatakan pentingnya pengendalian konsumsi dan efisiensi di berbagai sektor. Presiden memberikan contoh seperti sejumlah kebijakan yang diterapkan di negara lain, yaitu pengurangan hari kerja hingga penerapan kerja dari rumah (work from home/wfh)."Saya lihat negara-negara lain umpamanya hari kerja dari 5 jadi 4, Filipina, Pakistan. Kemudian work from home, bekerja dari rumah. Waktu Covid kita lakukan cukup berhasil. Saya kira kita bisa lakukan itu juga. Mungkin 75 persen karyawan atau pegawai bisa kerja dari rumah," kata Prabowo.










