Analis Ragukan Keterlibatan Institusi dalam Insiden Kriminal Penyiraman Andrie Yunus
astakom.com, Jakarta – Kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis HAM KontraS, Andi Yunus, terus menyita perhatian publik.
Samar-samar sudah mulai ada riak suara yang mendorong spekulasi menyudutkan aparat keamanan dan institusinya terlibat dalam peristiwa kriminal penyiraman air keras kepada aktivis advokasi kontraS tadi.
Menyikapi polemik bias narasi tersebut, Redaksi astakom.com coba melalukan penelusuran dengan mengutip dialog 2 pengamat dri stasiun TV nasional yang ditayang beberapa waktu lalu.Tentu ini jadi tantangan tersendiri bagi instutusi dan aparat kemanan negara yang merasa instansinya 'terbawa-bawa' untuk mendisclaimer dugaan liar tersebut.
Masing-masing Soleman B Ponto mantan analis intelejen dan Reza Indragiri selaku pengamat kriminolog.
Berikut analisa mereka
Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, memberikan pandangan skeptisnyaIa ragu akan keterlibatan aparat secara institusional dalwm insiden yang mengakibatkan luka kulit hampir 20% pada korban Andrie Yunus.
Sosok yang juga mantan Kepala BAIS hampir 1 dekade lalu ini menilai, bahwa menuduh institusi intelijen atau TNI sebagai perancang serangan tersebut adalah langkah yang terlalu prematur,
"Kurang berdasar pada pola operasi intelijen yang lazim (resmi, inisoatif institusi)" ujarnya, dikutip redaksi astakom.com pada Sabtu (21/03/2026).
Ponto menekankan bahwa pola serangan menggunakan air keras tidak mencerminkan cara kerja profesional (oknum) sebuah lembaga intelijen negara.
Menurutnya, jika sebuah institusi resmi terlibat, operasi yang dilakukan biasanya bersifat lebih terukur tanpa meninggalkan jejak yang memicu kegaduhan publik yang tidak perlu.
"Terlalu gegabah jika langsung menuding intelijen. Pola ini lebih terlihat seperti tindakan oknum atau pihak ketiga yang ingin mengail di air keruh," ujar Ponto dalam tayangan talkshow televisi tersebut.
Analisis Kriminolog
Dari kacamata kriminologi, Analis Reza Indragiri pada sebuah tayangan Youtube menyampaikan, bahwan intelegensi manusia memang memiliki kecepatan kodrati dalam menyelesaikan persoalan. Namun justru itu bisa menjerumuskan.Analis Kriminolog Reza Indragiri melihat polemik diskursus publik yang dianggap terlalu cepat menympulkan keterlibatan aparat keamanan atau institusi kemanan dalam insiden Andrie Yunus tadi dengan pendekatan Anchoring bias atau Bias jangkar.
Ancoring bias, pada penerapanya pasca terjadi penyerangan air keras yang rekamanya kemudian beredar luas, maka dalam hitungan kurang dari 1 detik isi kepala banyak orang akan mengatakan bahwa institusi kemanan (dia menyebut TNI) terlibat.
"Bias jangkar (Ancoring bias) tadi seolah tidak terelakkan. Karena uniknya, banyak media melakukan narasi bahwa korban baru saja melakukan rekaman untuk siaran tentang de-militerisme" ujar Reza Indragiri dikuti astakom.com Sabtu (21/03/2026) dalam tayangan Youtube tadi
Dosen yang juga analis kriminolog ini kemudian melanjutkan, bahwa kata 'militerisme' tadi seolah menggembok otak publik untuk mengasosiasikan peristiwa kriminal tesebut dilakukan aparat keamanan.
"Dalam situasi yang tidak pasti. Sehingga bagi kita (publik) yang sebatas pemirsa media, tidak melakukan Confirmation bias (bias confirmasi)"
Presepsi dalam polemik publik
Jika presepsi publik tadi benar-benar terperangkap pandangan ancoring bias, maka akan tercipta opin eeperti kaca mata kuda."Kita terperangkap pada sebuah lorong kognitif, yang tidak memberi kesempatan kepada kita (publik) untuk mencari tahu adakah kemungkinan peristiwa (penyiraman air keras) digalangi dan di eksekusi oleh pihak selain tentara (aparat keamananan)" ujar Reza Indragiri seolah mewanti-wanti publik.
Dengan kondisi analisa demikiqn tadi, Analis Reza Indragiri meyakini bahwa hal itu bukan pijakan yang tepat (bagi publik dan aparat) untuk mengungkap kasus penyiraman air keras tersebut segamblang-gamblangnya.
Presiden Prabowo: Aparat atau Non Aparat, Pelaku Harus di Usut Sampai Aktornya
Dilansir dari pemberitaan astakom.com sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus merupakan tindakan terorisme.
Presiden Prabowo menekankan bahwa insiden tersebut harus diusut hingga tuntas.
“Ya pasti lah, ini terorisme, ya kan? Tindakan biadab. Harus kita kejar, harus kita usut, harus kita usut,” tegas Presiden Prabowo saat diskusi bersama jurnalis, pakar, dan pengamat di Hambalang, Jawa Barat, Selasa (17/3/2026).
Presiden Prabowo juga memastikan pengusutan kasus tersebut tak hanya berhenti di pelaku lapangan saja, tetapi juga pihak yang mendalanginya dan membiayainya.(aRsp)











