astakom.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump udah menekan negara-negara lain buat mengirimkan kapal perang guna memastikan Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran.
“Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu, dan kami akan membantu, sangat banyak!” demikian tulisan Trump pada postingan di Truth Social, dikutip oleh astakom pada Senin, (16/3/2026).
Dalam postingan sebelumnya, Trump meramalkan bahwa banyak negara akan membantu AS dalam menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz, khususnya negara-negara yang terkena dampak dari upaya Iran untuk menutup jalur tersebut.
Dampak Konflik Terhadap Pasokan Energi Global
Sekitar 1/5 pasokan minyak dan gas alam cair global umumnya melewati Selat Hormuz, sebuah jalur laut sempit yang terletak antara Iran dan Oman.
Rute pelayaran penting tersebut terhambat akibat konflik antara AS dan Israel dengan Iran. Sejumlah kapal terhambat dan tidak dapat melintas, yang mengakibatkan lonjakan harga minyak hingga 40 persen.
“AS juga akan berkoordinasi dengan negara-negara tersebut agar semuanya berjalan cepat, lancar, dan baik,” sambung Trump.
Keterlibatan Negara Lain dalam Keamanan Selat Hormuz
Presiden AS menyatakan harapannya agar China, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan juga mengirimkan kapal ke area tersebut, di mana beberapa kapal tanker dilaporkan telah diserang sejak AS dan Israel memulai perang mereka melawan Iran dua minggu yang lalu.
“Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke wilayah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman dari negara yang telah sepenuhnya kehilangan pengaruhnya.” ucapnya.
“Sementara itu, Amerika Serikat akan membombardir habis-habisan garis pantai, dan terus menembak jatuh perahu dan kapal Iran dari perairan. Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka Selat Hormuz, menjadikannya aman dan bebas!” demikian tulisannya.
Kemampuan Iran buat memberhentikan lalu lintas di rute tersebut bisa memberikan kekuatan tawar yang signifikan terhadap AS dan sekutunya.
Respons Militer dari Negara-negara Barat?
Sebaliknya, negara-negara Barat memperkuat kekuatan militer di Mediterania timur selama konflik, dengan penekanan pada keamanan Siprus setelah drone milik Iran menyerang pangkalan militer Inggris di pulau tersebut pada 2 Maret lalu.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey sedang mengevaluasi pilihan penempatan militer lebih lanjut di wilayah Teluk setelah Iran memperbesar serangan terhadap kapal-kapal.
“Inggris sedang berdiskusi dengan sekutu dan mitra mengenai berbagai opsi untuk memastikan keamanan pelayaran di kawasan tersebut,” ucap juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris.
Angkatan Laut Prancis telah mengerahkan sekitar dua belas kapal perang, termasuk kelompok kapal induk, ke Laut Mediterania, Laut Merah, dan mungkin ke Selat Hormuz, sebagai bagian dari upaya dukungan pertahanan untuk sekutu yang terkena dampak konflik.
Pejabat Prancis menyatakan bahwa Paris telah berbincang dengan negara-negara di Eropa, Asia, dan negara-negara Arab Teluk dalam seminggu terakhir untuk merancang rencana agar kapal perang nantinya mengawasi kapal tanker yang melewati Selat Hormuz.
Konsekuensi dari Serangan Militer di Iran
Konflik antara Iran, AS, dan Israel dimulai pada 28 Februari setelah Washington dan Tel Aviv melakukan serangan besar-besaran yang bersifat provokatif terhadap instalasi militer Iran.
Serangan itu juga membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan telah memicu peningkatan ketegangan di kawasan. Iran menanggapi serangan itu dengan serangan gelombang rudal dan drone menuju Israel. Pertikaian juga menjalar ke Lebanon, Dubai, dan Abu Dhabi.
Kedua kota terakhir menjadi sasaran serangan karena selama ini menjadi pusat operasi militer AS di kawasan Teluk.

