astakom.com, Jakarta- Pada sebuah Talkshow di stasiun Tv Nasional, cendikiawan muda NU Islah Bahrawi atau sosok yang biasa disapa Cak Islah ini menekankan tidak ada yat-ayat suci agama manapun, semisal Al Qur’an, Alkitab, Taurat dan sebagainya yang mengajarkan kekerasan.
Karena apa? Yang menjadi korban adalah peradaban manusia.”Mau Iran, mau Israel, (Amerika) silakan berperang dengan motivasi politik, dengan motivasi apapun, tapi jangan pernah masukkan agama,” kutip astakom.com dari penggalan video talkshow itu pada Sabtu (15/03/2026).
Mengulik sejarah, Ia juga mengingatkan soal pertikaian di Timur tengah hari ini bukan hanya terjadi hari ini. Semua perang-perang pembantaian, termasuk juga pembantaian Sayyidina Husein di Karbala dan sebagainya, itu kan sebenarnya atas nama kepentingan politik (kekuasan).
Kekhawatiran akan adanya oknum atau phak-pihak yang didalam negeri Indonesia yang seolah ingin menarik-narik eskalasi di Iran kearah ‘benturan identitas’ bukan tanpa alasan. Pantauan redaksi astakom.com, 2 pekan lebihb sejak arogansi Amerika-Israel menyerang Iran, seketika ramai di postingan-postingan liar di medsos yang ‘membawa-bawa’ agama dalam eskalasi tersebut.
Jangan juga menyalahkan faham agama
Intelektual muda NU yang ‘siswa tamu’ diluar negeri ini juga meluruskan soal faham Islam Syiah yang mayoritas dipedomanin masyarakat Iran. “Termasuk orang yang hari ini mengkafir-kafirkan Syiah sebelumnya. Saya bukan Syiah, tapi gara-gara ngomong begini saya sering dituduh Syiah. Saya ini Islam aja, nggak usah dibagi-bagi dalam sekte, meskipun saya NU” tegasnya.
Seolah menghimbau agar kalangan Islam Indonesia dan dunia jangan terpolarisasi dan membesar-besarkan perbedaan pemahaman.
Lepas dari apapun motif serangan sporadis Amerika-Israel, Cak Islah menekankan agar publik, utamanya kelompok-kelompok agamawan menjadikan ajaran agama untuk meligitimasi kekerasan atas nama agama. “Jangan kemudian dilegitimasi dengan berbagai sitiran seolah-olah itu perintah Tuhan. Itu bukan perintah Tuhan, itu perintah ambisinya sendiri (Amerika- Israel- Iran).”
Doktrin agama diplintir
Selain dari sisi maraknya pelintiran doktrin agama pada eskalasi Amerika-Iran-Israel,cendikiawan yang pernah mengenyam pendidikan pesantren dan studi luar negeri (California) ini melihat prilaku negara-negara kolonial dahulu sebagai bibit konflik ‘tangan dan produk warisan kolonial yang terus tumbuh sebagi bibit konflik. Ia mengungkpa, bahwa perkara arogansi Israel ini penyerobotan tanah wilayah Pelestina oleh kelompok Yahudi Zionis. Juga terjadi pada konflik turunan dinegara-negara lain.
“Tanah orang lain diputuskan oleh orang lain untuk dibagi-bagi. Dan hari ini semua berkecamuk. Perang India dan Pakistan itu juga produk kolonial itu. Karena dibagi-bagi oleh penjajah. Termasuk juga apa yang terjadi di Israel dan berbagai tanah Arab di Timur Tengah ini”.
“Ini kan hasil perjanjian Sykes-Picot, setelah itu Arthur Balfour, setelah itu kemudian berusaha dinetralisir oleh Abraham Accord dan sebagainya. Sudah terlambat.” lanutnya.
Tidak ada teror-pembantaian atas nama agama!
Di Indonesia juga banyak kelompok-kelompok teror yang mengatasnamakan agama seolah-olah dia dihalalkan oleh Tuhan untuk membinasakan orang lain.
Cak Islah dalam Talkshow itu juga menyinggung bagaimana perang AS-Israel-Iran akan berakhir dan siapa yang akan menjadi pemenangnya?
“Dalam perang nggak ada yang menang. Jangan pernah berharap ada kesimpulan benar dan salah dari satu perang. Yang ada adalah jumlah kematian dan serdadu yang terpaksa tersungkur.” ungkapnya, mengutip Ernest Hemingway
Dibagian pengalaman lainya, Ia juga menyampaiakan tentang ajaran para intelektual agama selayaknya tidak ada yang mengajarkan kekerasan-pembantaian. “Guru-guru saya di Amerika ada orang Yahdi (bukan Yahudi Zionis) Mengajarkan saya apa? Mengajarkan saya tentang filsafat dan sejarah Islam. Dan semuanya berkesimpulan tidak ada yang bisa dibenarkan dari pembataian semcam Holocaust, Tapi (mereka) tidak juga membenarkan pembantaian orang-orang di Gaza” tegasnya.
Sekali lagi ia menegaskan agar eskalasi Timur tengah tidak ada hubungannya dengan agama. “Kemanusiaan itu al-insaniyyatu qabl ad-tadayyun. Kemanusiaan itu beyond dari semua agama. Orang sebelum mengenal agama, menjadi manusia dulu.” (aRsp)

