APBN Defisit Rp135,7 Triliun di Triwulan I 2026, Purbaya Sebut Masih Terkendali
astakom.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Februari 2026 dalam gelaran konferensi pers APBN kita, Rabu (11/3/2026).
Dilaporkan defisit APBN sampai Februari tahun ini sebesar Rp135,7 triliun atau 0,53% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, defisit kesinambungan primer tercatat Rp493,8 triliun atau setara dengan 12,8% dari pagu APBN. Menurut Purbaya angka itu masih terkendali dan masih dalam desain APBN 2026."Angka ini masih sangat terkendali dan masih dalam koridor desain APBN 2026," kata Purbaya di bilangan Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Penerimaa negara
Diketahui, penerimaan negara pada Februari 2026 telah terkumpul Rp358 triliun dari target yang ditetapkan sepanjang tahun ini.Dari penerimaan pajak pada Februari 2026 mencapai Rp290 triliun. Adapun, penerimaan dari cukai tercatat sebesar Rp44,9 triliun. Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp68 triliun.
Penurunan penerimaan ini menurut Purbaya dipicu oleh pergerakan harga komoditas. Di sisi lain cukai mencatat pertumbuhan positif sebesar 7% secara tahunan (yoy).
Pemicu APBN defisit
Purbaya menjelaskan, sejak awal tahun APBN memang selalu defisit. Hal ini karena pemerintah terus mendorong belanja negara sepanjang awal tahun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi."Kenapa tahun ini defisit karena desain APBN kita defisit, karena kita dorong belanja lebih besar sejak awal tahun,” tutur Purbaya.
Selain karena pemasukan yang seret, defisit APBN juga dipicu kondisi ketidakpastian global.
Pengaruh ketidakpastian global
Menurut Purbaya ketidakpastian ini terlihat dari respons atau sentimen risk off di pasar keuangan global, perubahan perilaku investor yang lebih memilih aset safe haven sampai kenaikan yield US Treasury."Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global, ditandai volatilisasi tinggi pada indeks pasar baik VIX maupun MOVE, pergeseran investor ke aset safe haven, penguatan indeks dolar AS, DXY, serta kenaikan yield US Treasury yang 10 Tahun," kata Purbaya.
Selanjutnya eskalasi di Timur Tengah yang mempengaruhi jalur perdagangan selat Hormuz yang punya dampak ke perekonomian Indonesia.
Pengaruhi sektor perdagangan sampai fiskal
Dari sektor perdagangan, kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan nilai impor energi Indonesia, sehingga dapat menekan surplus neraca perdagangan sekaligus memengaruhi neraca pembayaran.Selanjutnya mempengaruhi kondisi pasar keuangan. Perubahan sentimen global menjadi lebih berhati-hati dapat mendorong keluarnya arus modal asing dari pasar domestik. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan pada pasar saham, pasar obligasi, juga nilai tukar rupiah.
Dari sisi fiskal mempengaruhi kenaikan harga energi dapat menambah beban subsidi pemerintah serta meningkatkan kewajiban pembayaran bunga utang.
Dengan pengaruh yang telah dipaparkan di atas, Purbaya menilai kondisi yang terjadi sekarang ini tidak semuanya berdampak negatif buat Indonesia.
Pemerintah terus pantau kondisi geopolitik
Dia bilang lonjakan harga komoditas global berpotensi meningkatkan penerimaan negara lewat ekspor komoditas utama seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit.Perkembangan geopolitik terus diawasi pemerintah supaya bisa menyesuaikan kebijakan anggaran negara kalau situasi global berubah. Demi menjaga ekonomi Indonesia agar tetap aman dan masyarakat tidak terlalu terdampak.
"Pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik secara ketat agar instrumen APBN dapat merespons secara tepat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat," jelasnya.










