astakom.com, Jakarta – Pemerintah Kuwait mengumumkan pada hari Minggu kemarin bahwa drone “musuh” menyerang tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait dalam serangan terhadap infrastruktur penting.
Kuwait tidak mengungkapkan asal drone dan rudal tersebut, tetapi kemungkinan besar datang dari Iran.
Kuwait Gagalkan Serangan Drone dan Rudal
Melansir dari Anadolu Ajensi pada Senin, (9/3/2026) Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait Kolonel Saud Abdulaziz Al Atwan menyatakan bahwa empat rudal lainnya terdeteksi berada di luar jangkauan ancaman sehingga tidak ada tindakan intersepsi yang dilakukan
“Karena tidak membahayakan wilayah negara, rudal tersebut tidak dicegat,” ucap Al-Atwan dikutip oleh astakom pada Senin, (9/3/2026).
Asal Usul Ancaman: Diduga dari Iran
Di samping risiko rudal, angkatan bersenjata Kuwait juga mendeteksi lima pesawat tak berawak atau drone yang memasuki ruang udara negara itu.
Sistem pertahanan udara berhasil menembak jatuh dua drone, sementara tiga lainnya tidak dapat ditangkap. Insiden itu mengakibatkan kerusakan fisik di berbagai tempat penting.
Kerusakan Akibat Serangan: Bandara dan Infrastruktur Terkena Dampak
Dua drone dilaporkan menyerang perimeter Bandara Internasional Kuwait dan menyebabkan ledakan pada tangki bahan bakar.
Sementara sebuah drone lainnya menabrak gedung Lembaga Publik Jaminan Sosial dan merusak strukturnya.
Kuwait Tingkatkan Kewaspadaan di Perbatasan
Staf Umum Angkatan Bersenjata Kuwait menyatakan bahwa suara ledakan keras yang terdengar di berbagai lokasi negara itu berasal dari operasi sistem pertahanan udara yang sedang menjangkau target-target udara.
Saat ini, pihak militer Kuwait terus meningkatkan tingkat kewaspadaan di seluruh area perbatasan.
Langkah itu diambil sebagai tindakan pencegahan terhadap potensi serangan tambahan di tengah meningkatnya ketegangan konflik di wilayah Teluk setelah serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang lalu.
Serangan itu mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu serangan balasan dari Teheran ke beberapa negara Teluk yang memiliki aset militer AS.

