Presiden Prabowo Pernah Prediksi Perang AS-Iran: Wajar Indonesia Aktif Beri Perhatian Demi De-Eskalasi Global
astakom.com, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto, pernah menyampaikan prediksi bahwa perang dunia ketiga bisa terjadi jika Iran sampai diserang.
Pernyataan itu ia ungkap dalam diskusi bersama enam pemimpin redaksi di Hambalang pada April 2025.
Dalam pernyataannya, Presiden Prabowo menjelaskan bahwa Amerika Serikat (AS) sudah siap menyerang Iran, tetapi ada Rusia yang siap membela Iran jika hal itu terjadi.
“Yang bisa memicu perang dunia ketiga, Saya pelajari tiap malam, saya lihat, oh this is very dangerous time. Amerika siap mau nyerang Iran, Rusia mengatakan jangan nyerang iran, kalau nyerang Iran berhadapan dengan saya, Rusia” ujar Presiden Prabowo, pada Minggu (6/4/2026).
Nonblok tak menjamin aman
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo juga menegaskan meskipun Indonesia menganut politik luar negeri nonblok, hal itu tidak serta-merta menjamin keselamatan apabila perang global pecah.
“Kita sudah nonblok, kita sudah benar. Tapi kalau terjadi perang nuklir, kita nonblok saja kita akan kena,” ujarnya.
Ia bahkan menyampaikan ilustrasi yang cukup lugas. Negara-negara yang memiliki senjata nuklir mungkin terdampak lebih cepat, tetapi negara non-nuklir seperti Indonesia pun tetap berpotensi terkena dampaknya, meski dalam skala waktu berbeda.
“Dan untuk itulah saya selalu mengajak, mari kita rukun, mari kita mengatasi persoalan bersama,” tutur Presiden Prabowo.
Ucapan bela sungkawa atas wafatnya Khamenei
Kini prediksi Presiden Prabowo menunjukkan kebenaran, AS menyerang Iran yang menyebabkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, wafat.
Atas sikapnya, Presiden Prabowo mengirimkan surat resmi belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkia, yang diserahkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di Jakarta sebagai bentuk penghormatan diplomatik dari pemerintah Indonesia.
Presiden Prabowo bersedia jadi mediator AS-Iran
Atas komitmennya mendukung perdamaian, Presiden Prabowo juga menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sebagai upaya meredakan ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Hal ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI yang diunggah di akun resmi X yang menyatakan Presiden Prabowo bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi.
Presiden Prabowo dan pemimpin Pakistan siap ke Iran
Tak hanya Indonesia, Iran juga siap menjadi mediator bagi AS-Iran. Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshidique menyatakan kalau Presiden Prabowo Subianto dan Pemimpin Pakistan Bakalan Berkunjung ke Iran buat menenangkan suasana eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Ia menyatakan mendengar niat tersebut langsung dari Presiden Prabowo pada pertemuan bersama ulama, pimpinan pondok pesantren dan pimpinan organisasi masyarakat islam pada Kamis (5/3/2026).
“Saya bersyukur Perdana Menteri Pakistan bersedia untuk bersama-sama dengan Presiden Prabowo untuk berkunjung ke Teheran. Itu yang diterangkan tadi oleh Presiden,” ucap Jimly.
Presiden Prabowo konsolidasi dengan tokoh nasional
Presiden Prabowo juga menggelar pertemuan Silaturahmi dan Diskusi Kebangsaan bersama mantan Presiden, tokoh Nasional dan anggota Kabinet Merah Putih, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Pertemuan ini menjadi ruang strategis untuk bertukar pandangan serta pengalaman antarpara pemimpin dan tokoh bangsa dalam bingkai kebangsaan, khususnya bahasan mengenai konflik geopolitik dunia saat ini.
Indonesia tangguhkan kegiatan BoP
Di samping itu, Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa diskusi dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) saat ini ditangguhkan sementara (on hold) setelah meningkatnya ketegangan di Kawasan Timur Tengah.
Ia mengungkapkan bahwa seluruh diskusi dan kegiatan BoP saat ini ditangguhkan akibat meningkatnya ketegangan antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran.
Sugiono mengungkapkan hal ini sebagai tanggapan terhadap tuntutan agar Indonesia keluar dari BoP setelah serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
“Ya ini sekarang pembicaraan BoP semuanya on hold, semua apa namanya perhatian shifted teralihkan ke situasi di Iran,” ucap Sugiono di Istana Kepresidenan.











