Emiten Indonesia Sudah Ada yang Umumkan Force Majeure akibat Penutupan Selat Hormuz!

Editor: Shintya
Sabtu, 7 Maret 2026 | 13:45 WIB
Emiten Indonesia Sudah Ada yang Umumkan Force Majeure akibat Penutupan Selat Hormuz!
Emiten Indonesia Sudah Ada yang Umumkan Force Majeure akibat Penutupan Selat Hormuz! (astakom/Dok. Chandra Asri)

astakom.com, Jakarta - Di tengah dinamika geopolitik global yang punya potensi besar mempengaruhi distribusi energi dan rantai pasok skala internasional, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menyampaikan force majeure kepada para pelanggannya.

Perusahaan memberikan klarifikasi kalau pemberitahuan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif menyusul perkembangan situasi di kawasan Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu jalur logistik global.

Emiten petrokimia punya Prajogo Pangestu itu mengambil langkah preventif dan bentuk mitigasi atau meminimalisir resiko yang lebih besar di kemudian hari juga transparansi atas kondisi eksternal di luar kendali Perusahaan, dengan mengumumkan force majeure.

Force majeure sendiri merujuk ke kondisi atau situasi luar biasa di luar kendali manusia yang membuat kewajiban dalam kontrak tidak bisa dijalankan.

Langkah mitigasi risiko

Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporasi Chandra Asri Group, Suryandi, bilang kalau penyampaian force majeure merupakan prosedur umum dalam praktik bisnis global saat terdapat potensi gangguan termasuk jalur logistik internasional.

"Langkah ini kami ambil sebagai bentuk transparansi dan pencegahan timbulnya kerugian yang besar kepada mitra usaha serta pemangku kepentingan. Pemberitahuan force majeure tidak serta-merta mencerminkan penghentian operasional Perusahaan, melainkan bagian dari mitigasi risiko atas dampak situasi eksternal yang semakin berkembang," kata Suryandi dalam keterbukaan informasi, dikutip pada Sabtu (7/3/2026).

Operasional TPIA masih berjalan

Meski begitu, Suryadi bilang sampai saat ini kegiatan operasional TPIA masih berjalan sebagaimana mestinya. Perusahaan juga terus memantau perkembangan situasi global secara cermat, dan melakukan evaluasi berkala terhadap potensi implikasi yang dapat menimbulkan gangguan operasional langsung dan tidak langsung.

Potensi gangguan pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah ini dan kabar force majeure ini memicu penurunan saham TPIA sebanyak 8,15 persen ke angka Rp5.350 pada perdagangan Rabu (4/3/2026).

Imbas pada saham 

Data dari IDX, respons pasar atas pengumuman force majeure tersebut memberikan sentimen negatif, akibatnya menekan kinerja saham Chandra Asri di pasar modal. Dalam empat hari terakhir dari hari Kamis (5/3/2026), harga saham TPIA turun sekitar 23 persen ke level Rp5.350.

Diketahui pada perdagangan kemarin Jumat (6/3/2026), pasar terkoreksi cukup dalam di emiten-emiten Prajogo Pangestu. Barito Pacific (BRPT) turun 6,42%, Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) menukik sebanyak 6,44%, Barito Renewables Energy (BREN) menunjukkan minus sebanyak 3,08%, Chandra Daya Investas (CDIA) turun 2,79%, dan Chandra Asri Pacific (TPIA) melemah diangka 1,4%.

Gen Z Takeaway 
Chandra Asri declare force majeure ke pelanggan sebagai langkah antisipasi kalau konflik di sekitar Selat Hormuz ganggu jalur logistik global. Meski operasional masih normal, market langsung react, saham TPIA sempat drop lebih dari 8% dan terkoreksi sekitar 23% dalam beberapa hari. Sentimen geopolitik ini juga ikut drag saham grup Prajogo Pangestu lainnya di bursa.

Berita ekonomi Ekonomi Global emiten saham Prajogo Pangestu PT Chandra Asri Pacific saham TPIA selat hormuz

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB