Undang Mantan Presiden-Eks Menlu, Presiden Prabowo Diskusi Soal Kondisi Geopolitik
astakom.com, Jakarta — Presiden RI Prabowo Subianto ngadain silaturahmi plus diskusi bareng sejumlah mantan Presiden hingga Eks Menteri Luar Negeri (Menlu) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam (3/3/2026).
Pertemuan yang jalan hampir 4 jam itu jadi ruang dialog strategis buat ngebahas update geopolitik global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah.
Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menyebut Presiden Prabowo memaparkan situasi internasional terkini secara komprehensif, sekaligus menyinggung makin melemahnya efektivitas tatanan global.
“Masing-masing kita mencoba memberikan kontribusi pemikiran. Dan Presiden sangat terbuka untuk menanggapi usul-usul pemikiran dari para peserta,” jelas Hassan di kompleks Istana Kepresidenan.
Tantangan Indonesia di tengah konflik global
Menurut Hassan, dalam forum tersebut Presiden Prabowo juga menggambarkan tantangan yang dihadapi Indonesia di tengah pusaran konflik global.
Hassan menambahkan bahwa pembahasan tidak hanya mencakup aspek keamanan dan perdamaian dunia, tetapi juga potensi dampak ekonomi yang luas.
“Didiskusikan tentang implikasinya ini terhadap keseluruhan masalah keamanan dan perdamaian dunia, tapi juga potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia khususnya yang menyangkut supply, oil, minyak, dan gas,” ungkap Hassan
“Kita berhitung semua efeknya terhadap kita dari sisi itu saja, tapi juga dari sisi kalkulasi berapa lama perang ini akan terlangsung,” tambah Hassan.
Pertukaran gagasan dengan tokoh nasional
Hassan turut mengutip dinamika terbaru mengenai potensi eskalasi konflik. Presiden Prabowo, lanjut Hassan, menilai penting untuk membuka ruang komunikasi dan pertukaran gagasan dengan para tokoh nasional.
“Presiden menganggap penting untuk mengomunikasikan permasalahan-permasalahan dihadapi oleh pemerintah, dihadapi oleh Presiden kepada kita yang diminta datang pada malam hari ini. Presiden sangat terbuka dalam menanggapi usul-usul pemikiran dari para peserta,” kata Hassan.
Terkait sikap Indonesia, Hassan menegaskan bahwa konflik tersebut merupakan tindakan sepihak yang tidak memiliki mandat internasional.











