Bocor! Netanyahu Lobi Trump Berbulan bulan, Iran Memang Sudah Jadi Target Utama?
astakom.com, Jakarta - Selama ini kita mikir serangan ke Iran itu murni keputusan Trump, tapi ternyata ada "aktor" di balik layar.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan jadi sosok yang memainkan peran kunci sukses nge lobi Presiden AS Donald Trump sampai akhirnya bersedia meluncurkan serangan militer ke Iran.
Strategi 'Bisikan' Netanyahu di Balik Meja Oval
Laporan dari The New York Times membongkar bahwa Netanyahu secara personal turun tangan melobi Trump selama berbulan bulan.Misinya untuk memastikan rencana serangan militer tetap berjalan mulus tanpa terhambat oleh negosiasi atau jalur diplomasi apa pun.
Melansir dari TRT World pada Selasa, (3/3/2026), pada laporan yang publish pada Senin itu memiliki informasi secara langsung atas pembahasan internal, salah satunya pejabat Amerika dan Israel, diplomat,anggota parlemen serta pejabat intelijen.
Keputusan AS untuk menyerang Iran adalah pencapaian besar bagi strategi politik Netanyahu dalam melumpuhkan Iran.
Pada saat bertemu Trump di Ruang Oval pada 11 Februari lalu, Netanyahu dinyatakan memiliki misi jelas, yaitu mempertahankan komitmen Presiden AS terhadap opsi militer, walaupun Washington baru aja start buat ngerundingin nuklir dengan Iran lewat mediasi Oman.
Dalam pertemuan intens selama hampir tiga jam, Trump dan Netanyahu fokus mematangkan timing serangan ke Iran. Keduanya sepakat bahwa pintu diplomasi sudah hampir tertutup rapat, sehingga opsi militer dianggap sebagai satu satunya jalan keluar yang tersisa.
Dari Mar-a-Lago ke Iran: Misi Rahasia Menumpas Elit Teheran
Awal mula isu serangan atas fasilitas rudal Iran ini ternyata sudah ditanam Netanyahu sejak kunjungannya ke Mar-a-Lago pada Desember lalu,Hanya dalam dua bulan, pada lobi tersebut Netanyahu sukses menjaga komitmen penuh dari Trump untuk menyerang seluruh jajaran kepemimpinan Iran, bukan sekadar fasilitas militernya.
Koordinasi antara kedua negara terbukti sangat sinkron. Pada Januari lalu, saat Netanyahu memandang sistem pertahanan udara Israel memerlukan adanya tambahan waktu buat memperkokoh sistem pencegat rudal dan pertahanan udara.
Ia langsung menghubungi Trump untuk meminta penundaan jadwal serangan, tanpa hambatan, Trump langsung menyetujui permintaan tersebut.
Titik Buntu yang Memicu 'Lampu Hijau' Serangan
Di pekan pekan berikutnya, komunikasi militer kedua negara makin intens. Petinggi intelijen Israel berkunjung ke Washington, sementara kepala militer mereka terus menjalin kontak rutin dengan Komando Pusat AS.Meski ada upaya mediasi di Muscat dan Jenewa lewat mediasi Oman yang berakhir tepat dua hari sebelum serangan, laporan itu menyebut gak akan ada ruang real buat tercapainya kesepakatan yang bisa memuaskan Trump, Netanyahu dan para pemimpin secara berbarengan.
Setelah diskusi tersebut, utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner menginformasikan Trump kalau kesepakatan gak mungkin dicapai.
Efek Maduro & Restu JD Vance: Mengapa Trump Memilih 'Go Big and Go Fast'?
Ketetapan Trump dalam mengambil langkah militer juga ikut terpengaruh oleh tingkat kepercayaan dirinya seusai suksesnya penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS pada Januari yang dilaporkan ia lihat sebagai salah satu contoh potensi suksesnya tindakan atas Iran.Di lingkungan dekat Trump, beberapa pihak pernah speak up atas ketidaksetujuan. Wakil Presiden JD Vance, yang terkenal skeptis mengenai invasi militer di Timur Tengah, akhirnya menyatakan bahwa jika Amerika Serikat memilih untuk bertindak, maka sebaiknya dilakukan dengan cara “go big and go fast.”
Serangan yang disebut “Operation Epic Fury” dilaksanakan pada Sabtu dan mengakibatkan tewasnya beberapa pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Sejak operasi berlangsung, enam anggota militer AS dilaporkan meninggal. Trump juga memperingatkan kemungkinan meningkatnya jumlah korban seiring dengan kampanye militer yang diperkirakan akan berlangsung empat hingga lima minggu.













