Israel Kembali Gempur Teheran Pasca Wafatnya Khamenei, Target Berikutnya Siapa?
astakom.com, Jakarta - Militer Israel menyatakan bahwa mereka melakukan serangan besar-besaran di tengah kota Teheran, Iran pada hari Minggu tanggal (1/2/2026).
Serangan terjadi setelah Angkatan Udara Israel melakukan operasi besar-besaran yang membunuh pemimpin utama Iran, sehingga memperbesar kekhawatiran akan ketidakstabilan yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Israel Incar Sisa Komando di Jantung Ibu Kota
“Selama sehari terakhir, angkatan udara Israel melakukan serangan untuk membuka jalan menuju Teheran," ujar militer Israel melansir dari Channel News Asia dikutip oleh astakom pada Senin, (2/3/2026).Beberapa jam setelah AS dan Israel mengungkapkan bahwa serangan udara telah membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa tokoh berusia 86 tahun tersebut telah meninggal.
Menurut konstitusi Iran, Pemimpin Tertinggi ditunjuk oleh Majelis Pakar, sebuah lembaga yang terdiri dari 88 ulama yang bertugas mengawasi dan secara teori memiliki kemampuan untuk mengganti tokoh tersebut.
Pemimpin Tertinggi memiliki kekuasaan paling besar di Iran, bertindak sebagai komandan utama angkatan bersenjata dan menentukan arah kebijakan luar negeri, yang sebagian besar didasarkan pada konfrontasi dengan Amerika Serikat dan Israel.
Majelis Pakar Segera Tunjuk Pengganti Khamenei
Seorang penasihat Khamenei, pejabat keamanan Iran yang tertinggi, Ali Larijani, mengatakan bahwa dewan kepemimpinan sementara akan dibentuk sesuai dengan konstitusi sampai pemimpin baru dipilih.Dua sumber dari Amerika Serikat dan seorang pejabat Amerika yang tahu soal ini mengatakan, Israel dan Amerika Serikat memilih waktu serangan mereka pada hari Sabtu agar sesuai dengan pertemuan yang dilakukan Khamenei dengan para pembantu utamanya.
"Orang dalam di Iran mengatakan pemerintah akan segera berupaya menunjuk pengganti Khamenei untuk menandakan stabilitas dan keberlanjutan,” ucap sumber itu.
Dalam pukulan lain terhadap kepemimpinan Iran, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Abdolrahim Mousavi tewas dalam serangan tersebut, kata stasiun televisi Iran TV. Setelah Iran membalas dengan serangan udara di wilayah Teluk, Anwar Gargash, penasihat presiden dari Uni Emirat Arab dan juga anggota kekuatan minyak AS, meminta Teheran untuk "kembali sadar", mengatakan bahwa perang ini bukan berlangsung dengan negara-negara tetangga Arab di Teluk.
Sampai saat ini, UEA masih menanggung beban paling berat akibat balasan dari Iran. Presiden Donald Trump pada hari Minggu memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menyerang Iran dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya jika Iran membalas serangan terhadap AS.
Gertakan Donald Trump
"Iran baru saja menyatakan bahwa mereka akan menyerang dengan sangat keras hari ini, lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya," ucap Trump pada sebuah postingan di Truth Social.“Lebih baik mereka tidak melakukan itu, karena jika mereka melakukannya, Kami akan menyerang menyerang mereka dengan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya,” ucap Trump.
Parlemen Iran Janjikan Balasan yang Mengerikan
Dalam pernyataan yang ditujukan kepada Trump dan pihak-pihak yang mendukungnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyampaikan pesan."Kami akan menyerang kalian dengan pukulan yang begitu mengerikan sehingga kalian sendiri akan terpaksa memohon ampun, Saya katakan kepada Trump dan Netanyahu serta agen dan proksi mereka, saya ulangi, saya katakan kepada kedua penjahat kotor ini dan kepada semua agen mereka: kalian telah melanggar garis merah kami, dan kalian harus membayar harganya,” ucap Qalibaf.
Pusat keamanan maritim Oman mengungkapkan bahwa kapal tanker minyak bernama Skylight, yang berbendera Palau, mengalami serangan sekitar lima mil laut dari wilayah Musandam, Oman.
Empat orang mengalami luka dan seluruh awak kapal yang jumlahnya 20 orang dievakuasi.













