Eskalasi Serangan Iran dan Kawasan Teluk Jadi Guncangan Baru bagi Ekonomi Global

Editor: AR Purba
Senin, 2 Maret 2026 | 17:37 WIB
Eskalasi Serangan Iran dan Kawasan Teluk Jadi Guncangan Baru bagi Ekonomi Global
Perlahan, dampak psikologis dan sistemik pada market atas eskalasi di Iran sudah terasa. Riak volatilitas makro ekonommi getaran mulai menyentuh bursa saham dari Wall Street hingga Asia. [Ilustrasi: astakom.com/aRsp-JJ]

astakom.com, ekbis- Sejak 28 Februari 2026, konflik yang melibatkan serangan langsung jilid 2 terhadap Iran baru-baru ini telah memicu kepanikan di pasar global.

Sehari setelah serangan Amerika-Israel ke Iran, Media-media internasional seperti Reuters dan The Guardian dalam seri Liputan khususnya "What is the strait of Hormuz and why is it crucial for oil supplies?

Dikutip astakom.com pada Senin (02/03/2026) mengurai prediksi tentang penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang akan berdampak pada harga komoditas kawasan dan negara- negara Eropa.

Media London Inggris, Reuters dalam salah satu tajuk utama berita eknominya di investing.com (02/03/2026) menulis "Wall Street futures slide as Middle East conflict escalateslainya", melaporkan bahwa pasar bereaksi seketika setelah kabar penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran.

Dampak lanjutan dari krisis Selat Hormuz dianggap sangat berpotensi dapat melumpuhkan arus perdagangan energi dunia dalam sekejap.

Selat Hormuz urat nadi ekonomi kawasan, terputus?

Ketidakpastian ini diperparah dengan status Iran sebagai negara produsen minyak mentah terbesar keempat di OPEC dan ke3 terbesar dunia.

Analis Ekonomi- energi Bob McNally, yang juga antan penasihat energi Gedung Putih mengungkapkan stetmen analisnya kepada media ekonomi setempat, "Pasar seringkali meremehkan kemampuan Iran untuk (mampu melakukan) mengganggu lalu lintas Selat Hormuz dengan ranjau dan rudal jarak pendek." Senin (02/03/2026), Ia menyebut situasi ini sebagai ancaman nyata bagi stabilitas harga komoditas harga energi; minyak dan gas.

Lebih lanjut, penyelesaian diplomatik segera diperlukan. Analis menilai gangguan pasokan bukan lagi sekadar ancaman teoritis, melainkan risiko nyata yang dapat menyeret ekonomi dunia ke dalam jurang resesi jika harga energi tetap berada di level tinggi dalam waktu berkelanjutan

Dampak khusus bagi negara kawasan Timur Tengah

Bagi negara-negara di kawasan Teluk (GCC), konflik ini menjadi ancaman bagi upaya diversifikasi ekonomi mereka. Khususnya bagi negara-negara kawasan teluk yang sedang melakukan pengembangan ekonomi disektor lain non migas.

Laporan dari Columbia University's Center on Global Energy Policy menyebutkan bahwa meski negara seperti Arab Saudi dan UEA mungkin mendapat keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga minyak, namun stabilitas jangka panjang mereka terancam.

Serangan terhadap infrastruktur sipil dan bandara, seperti yang terjadi di Qatar, merusak reputasi kawasan sebagai pusat perjalanan dan investasi global yang aman. Selain itu, negara tetangga seperti Turki kini menghadapi tekanan inflasi tambahan dan risiko keamanan pasokan gas alam, di mana Iran merupakan pemasok utama mereka.

Dampak ekonomi bagi Amerika

Di dalam negeri, Amerika Serikat menghadapi dilema ekonomi yang serius dalam konteks kausalitas stabilitas ekonomi- politik (ekopol) dalam negerinya.

Di tengah tahun pemilu paruh waktu (midterm elections). Lembaga riset independent di Amerika Serikat Stimson Center memaparkan, serangan terhadap Iran memicu kekhawatiran domestik akan lonjakan harga BBM di pompa bensin (pump prices), dan hal itu dapat memperburuk krisis biaya hidup.

Ketergantungan suplei BBM setempat dan pasar globak pada harga patokan dunia membuat konsumen Amerika tetap rentan. Ketidakpastian juga melanda market trading Amerika. Di informasikan CNBC Internasional pada pembukaan pasar Senin (02/03/2026), volatilitas di bursa saham Wall Street akhir-akhir ini cenderung unpredictable,

Karena kekhawatiran akan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut jika inflasi kembali melonjak karena disebabkan keterlibatan AS dalam perang Iran berkepanjangan. (aRsp)

Gen Z Takeaway
Konflik Iran vs Amerika–Israel naik level, pasar global langsung panik mode on. Ancaman penutupan Selat Hormuz bikin harga minyak berpotensi ngeroket dan inflasi bisa comeback brutal. Negara Teluk, Eropa, sampai Turki kena imbas energi, sementara AS deg-deg-an jelang pemilu karena harga bensin bisa naik. ntinya: ini bukan cuma perang regional, tapi trigger yang bisa goyang ekonomi dunia kalau krisisnya lanjut.

AS Serang Iran Berita ekonomi Ekonomi Global harga minyak mentah Iran AS selat hormuz

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB