Alasan Prabowo Bernegosiasi di BoP, Kini Iran Resmi Berperang! RI Tawarkan Mediasi hingga ke Teheran
astakom.com, Jakarta — Pemerintah Indonesia menegaskan jalur diplomasi sebagai “pegangan utama” di tengah memanasnya konflik Timur Tengah, setelah eskalasi militer antara Iran dan koalisi AS–Israel pecah usai perundingan nuklir Washington–Teheran menemui jalan buntu.
Sikap itu disampaikan Kementerian Luar Negeri RI melalui cuitan akun X resmi @Kemlu_RI pada Sabtu (28/2). Indonesia menyatakan “sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran” yang berdampak pada eskalasi militer, sekaligus menyerukan semua pihak menahan diri serta mengedepankan dialog dan diplomasi.
Kemlu juga menegaskan kembali prinsip penghormatan kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara, serta pentingnya penyelesaian damai.
Dalam pernyataan yang sama, pemerintah menyampaikan kesiapan memfasilitasi dialog untuk memulihkan kondisi keamanan, bahkan menyebut Presiden Prabowo Subianto bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi apabila disetujui kedua belah pihak.
Di saat bersamaan, eskalasi terbaru di kawasan dipicu serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran yang memicu kepanikan di sejumlah kota, dan muncul dalam konteks kegagalan putaran perundingan nuklir di Jenewa.
Pernyataan Kemlu ini menjadi relevan dengan langkah Prabowo yang dalam beberapa pekan terakhir aktif berada di meja perundingan Board of Peace (BoP) sebuah platform internasional yang difokuskan pada stabilisasi dan pemulihan pascakonflik, terutama terkait Gaza. Pada 19 Februari 2026, Prabowo menghadiri pertemuan perdana BoP di Washington, D.C., dan menegaskan komitmen Indonesia dalam stabilitas global serta rekonstruksi Gaza.
Dalam forum itu, pemerintah menjelaskan BoP sebagai kanal kolaborasi internasional untuk mengonsolidasikan komitmen anggota dalam pembangunan kembali Gaza termasuk potensi dukungan finansial maupun operasional seraya menegaskan konsistensi Indonesia mendorong Solusi Dua Negara.
Indonesia sendiri tercatat menandatangani piagam BoP dan menyatakan keikutsertaan sebagai ruang untuk “mempengaruhi dari dalam” agar agenda tetap mengarah pada kepentingan rakyat Palestina dan kerangka two-state solution bukan sekadar simbol politik.
Kini, ketika konflik Iran–AS/Israel pecah, pemerintah berupaya menarik garis tegas: Indonesia tetap mendorong perdamaian lewat diplomasi, sekaligus menjaga agar misi kemanusiaan dan agenda stabilisasi termasuk yang terkait Gaza tidak tersandera eskalasi perang regional. Penutupan akses kemanusiaan ke Gaza yang dilaporkan terjadi di hari yang sama turut menambah urgensi jalur diplomasi dan stabilisasi.
Kemlu juga mengingatkan dampak rambatan krisis terhadap stabilitas kawasan dan keamanan dunia. WNI di wilayah terdampak diminta tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, serta menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.
GenZTakeAway
Headline bisa dibikin panas Indonesia ikut blok ini, Indonesia pro itu. Cara paling aman biar kalian bisa pantau tiga hal ini.
- Apakah RI mengirim dukungan militer tempur? (kalau tidak, berarti RI tidak “ikut perang”)
- Apakah pernyataan RI konsisten: de-eskalasi, dialog, kedaulatan, damai?
- Apakah fokus RI masih nyambung ke misi kemanusiaan & solusi politik (two-state)











