Gratis! BoP Gak Wajibin Iuran, Indonesia Kontribusi Pakai Pasukan TNI
astakom.com, Jakarta - Menlu Sugiono akhirnya buka suara soal isu setoran dana ke Board of Peace (BoP). Beliau negasin kalau sampai detik ini, Indonesia belum keluar duit sepeser pun buat organisasi bentukan Trump tersebut.
Menurut Menlu, kita tetep bisa jadi anggota inti BoP tanpa harus kasih kontribusi dalam bentuk finansial atau bayar iuran. ia menyatakan kalo BoP sempet nawarin para calon anggotanya buat bayar biaya kontribusi sebesar USD 1 miliar.
Tapi, Sugiono nge spill kalau angka besar itu bukan kewajiban apalagi syarat mutlak buat gabung.Bayar Iuran Bukan Kewajiban?
"Dari awal saya bilang ini namanya bukan iuran keanggotaan. Bukan syarat keanggotaan. Kita sekarang sudah anggota (Board of Peace) jadi tidak perlu bayar juga tidak apa-apa," ucap Sugiono dikutip oleh astakom pada Sabtu, (21/2/2026).Menlu Sugiono juga mengonfirmasi kalau Indonesia sejauh ini belum nyumbang iuran buat rekonstruksi Gaza dana jumbo yang kemarin sempet di spill Presiden AS Donald Trump. Ternyata, iuran buat bangun ulang Gaza ini beda lagi sama biaya keanggotaan USD 1 miliar yang kita bahas tadi. Jadi, ada dua "kantong" dana, dan kita belum isi dua duanya.
9 Negara yang Ikut Bayar BoP
Sampai sekarang, baru ada 9 negara yang join buat kasih komitmen dana buat rekonstruksi dengan total mencapai USD 7 miliar. Negara-negara itu adalah Kazakhstan, Azerbaijan, Uni Emirat Arab, Maroko, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, Uzbekistan, dan Kuwait.Meskipun mereka yang pegang kendali soal pendanaan, Indonesia tetep punya posisi tawar yang unik.
"Jadi kemarin yang dibicarakan ini on top of USD 1 miliar itu. Ada negara-negara lain yang ingin kontribusi di situ, dan sudah ada pledge USD 7 miliar," ucapnya.
Style Khas dalam Gabung BoP
Menlu Sugiono mengungkap kalau tiap member Board of Peace (BoP) itu punya style masing-masing buat berkontribusi. Kalau negara lain milih buat "donasi" lewat dana, Indonesia ambil jalur yang lebih hands-on.Kita bakal berkontribusi lewat pengerahan pasukan sebagai bagian dari International Stabilization Force (ISF). Jadi, ibarat proyek besar, ada yang jadi investor modal, nah Indonesia yang turun langsung jadi "tim lapangan" buat mastiin Gaza kembali stabil.
Menlu negasin kalau misi TNI di ISF ini nggak akan ikut-ikutan urusan pelucutan senjata atau aksi militer baku hantam.
Fokus kita beneran murni buat jagain stabilitas warga sipil dan support penuh semua upaya kemanusiaan di sana. Kita datang sebagai pelindung, bukan buat cari musuh.
"Jadi kontribusinya ada yang dalam bentuk uang, ada yang pasukan," ucapnya.













