Wuahh Terbongkar! Dokumen AS Spill, Donasi Jeffrey Epstein ke Militer Israel, Buat Apa?
astakom.com, Jakarta - Dokumen yang baru aja dipublikasikan sama Departemen Kehakiman Amerika Serikat menyatakan kalo miliarder Jeffrey Epstein telah menyumbang dana ke militer Israel dan ngebantuin pendanaan kegiatan permukiman.
Melansir dari Anadolu, pada Selasa, (10/2/2026) pernyataan tersebut nambahin sederet fakta tentang Eipstein yang meninggal dunia pada 2019 lalu di sel penjaranya.
Dikabarkan ia didakwa atas pengoperasian jaringan perdagangan seks yang mengaitkannya anak di bawah umur.
Jejak Dana Gelap Eipstein
Atas tinjauan dokumen pajak yang diajukan Eipstein pada tahun 2005, ternyata dia ngasih dukungan finansial ke militer dan circle pemukiman yang ngerebut tanah Palestina.Dokumen itu merekam bahwasanya pada 3 Maret 2005, Eipstein mendongakkan secara cuma cuma 25.000 dollar AS ke Organisasi Friends of the Israeli Defense Forces.
Parahnya lagi, ia menyumbangkan secara sukarela sebesar 15.000 dollar AS ke Jewish National Bener-bener yang terbukti mendanai kegiatan pemukiman di Tepi Barat, serta 5.000 dollar AS ke National Council of Jewish Women.
Pernyataan Kontroversial Eipstein Terbongkar
Ironisnya, di pesan tersebut, Eipstein menyatakan kalo Palestina gaakan pernah jadi negara Arab yang ekslusif dan gapernah bisa berdiri sebagai negara Arab atau Palestina yang merdeka sendiri.Dokumen lainnya juga mempublish detail mengenai pemakaman Eipstein, berdasarkan kesaksian seseorang yang anonim di dalem dokumen FBI pada 12 Agustus 2012.
Konspirasi Mobil Jenazah
Dinyatakan bahwa saksi tersebut mengatakan para jurnalis dimarahin buat ikut masuk ke kendaraan yang ngebawa kotak kosong, sementara jenazah Eipstein dibawa pake kendaraan lain seusai mobil pertama ninggalin lokasi.Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat Todd Blanche pada 31 Januari, menyatakan kalo lebih dari 3 juta dokumen baru udah di publish ke publik buat bagian dari salah satu penyelidikan Eipstein.
Seret Nama Besar di Eipstein File
Kasus Jeffrey Epstein selaku pengusaha Amerika Serikat, didakwa bahwa ngelola jaringan besar eksploitasi anak di bawah umur, diantaranya ada yang berusia 14 tahun.Ia dinyatakan meninggal di oenjara New York tahun 2019 pas lagi di dalem tahanan.
Dokumen perkara itu melibatkan nama nama dari pejabat internasional, yaitu ada Pangeran Andrew dari Inggris, mantan Presiden AS Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat saat ini Donald Trump, mantan PM Israel Ehud Barak, penyanyi Michael Jackson dan mantan PM GurbenNew Mexico Bill Richardson.













