Bukan Gara-Gara Sakuranya, Festival Fujiyoshida Dihentikan Karena Lonjakan Wisatawan
astakom.com, Jakarta - Festival bunga sakura di Taman Arakurayama Sengen, Kota Fujiyoshida, Jepang tengah, resmi tidak digelar pada 2026. Keputusan ini diumumkan oleh pemerintah setempat di tengah meningkatnya tekanan kunjungan wisata di kawasan sekitar Gunung Fuji.
Dikutip dari The Guardian, festival yang biasanya berlangsung selama beberapa pekan tersebut telah diselenggarakan selama sekitar satu dekade terakhir dan rata-rata menarik sekitar 200.000 wisatawan setiap tahunnya.
Namun, di balik panorama sakura dan latar Gunung Fuji yang ikonik, pemerintah kota menilai bahwa kehidupan warga lokal menghadapi tantangan serius seiring meningkatnya aktivitas wisata yang sulit dikendalikan.
Festival berlangsung satu dekade, tekanan wisata kian terasa
Menurut laporan The Guardian, pejabat Kota Fujiyoshida menyatakan tidak akan kembali menyelenggarakan festival bunga sakura Arakurayama Sengen pada tahun ini, meski acara tersebut telah menjadi agenda rutin selama kurang lebih 10 tahun.
Lonjakan jumlah pengunjung setiap musim semi dinilai memberikan tekanan besar terhadap kawasan sekitar taman, baik dari sisi infrastruktur maupun dinamika sosial masyarakat. Festival yang awalnya dirancang untuk merayakan musim semi secara lokal, berkembang menjadi destinasi wisata global dengan tingkat kunjungan yang tinggi.
Pemerintah menilai kapasitas kota kecil tersebut tidak lagi seimbang dengan skala kegiatan festival yang terus membesar.
Wali kota tegaskan perlindungan warga jadi prioritas
Menanggapi pembatalan tersebut, Wali Kota Fujiyoshida Shigeru Horiuchi menyampaikan kekhawatiran pemerintah daerah terhadap dampak yang dirasakan masyarakat.
“Di balik pemandangan indah (Gunung Fuji) terdapat kenyataan bahwa kehidupan tenang warga terancam. Kami merasakan krisis yang kuat,” ujar Horiuchi, dikutip dari The Guardian.
Ia menambahkan, “Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga kami, kami telah memutuskan untuk mengakhiri festival yang telah berlangsung selama 10 tahun ini.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan pembatalan diambil sebagai langkah perlindungan, bukan sekadar kebijakan sementara.
Tantangan pengelolaan wisata di kawasan permukiman
Pihak berwenang Fujiyoshida juga mencatat adanya sejumlah kejadian yang muncul seiring meningkatnya arus wisatawan, sebagaimana dilaporkan The Guardian. Beberapa pengunjung diketahui memasuki area hunian warga tanpa izin untuk menggunakan fasilitas pribadi, sementara kasus pembuangan sampah di kawasan permukiman dilaporkan meningkat.
Selain itu, terdapat insiden ketidaknyamanan yang terjadi ketika warga menyampaikan teguran terkait ketertiban lingkungan.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam menilai bahwa penyelenggaraan festival berskala besar tidak lagi sejalan dengan upaya menjaga kenyamanan, martabat, dan kualitas hidup masyarakat setempat.











