Good Signal Buat Investor! Moody’s Pede: Ekonomi RI Masih Strong, Bertahan di Level Baa2
astakom.com, Jakarta - Moody's Ratings, lembaga pemeringkat kredit internasional baru-baru ini bilang kalau lembaganya yakin Indonesia bisa jaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Statement itu disampaikan Moody’s dalam keterangannya yang dikutip pada Jumat (6/2/2026).
Moody’s menaksir pertumbuhan ekonomi Indonesia masih resilien atau tangguh meskipun ada sedikit catatan pada indikator fiskal.
Pertumbuhan itu akan ditopang oleh kebijakan moneter yang mendukung stabilitas harga."Pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa berada di kisaran 5 persen pada jangka pendek dan menengah," kata Moody’s dikutip dari siaran persnya.
Diprediksi ekonomi Indonesia nggak akan membebani fiskal
Moody's memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan nggak bakal bikin keuangan negara keteteran, karena defisit anggaran masih aman dan dijaga di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB)."Kami berharap utang pemerintah Indonesia tetap berada di bawah rata-rata negara-negara peers, dengan catatan bahwa kebijakan fiskal dijalankan secara prudensial," katanya.
Ekonomi RI masih solid dan dipercaya buat tetep di level Baa2
Moody’s menilai ekonomi Indonesia masih tumbuh solid dan fiskalnya aman, jadi utang jangka panjang negara dianggap cukup terpercaya, makanya peringkat utangnya dipertahankan di Baa2.Level Baa2 itu merupakan bagian dari kategori investment grade, yang menunjukkan profil kredit yang kuat dengan tingkat risiko moderat bagi investor.
"Penegasan peringkat ini mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia," kata Moody’s.
OJK akan terus berupaya menjaga stabilitas keuangan negara
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat keputusan Moody’s menahan rating utang negara di Baa2 sebagai bukti ekonomi Indonesia masih kuat walau situasi global lagi nggak pasti.Bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi tetap aman, negara juga terapkan kebijakan makro dengan disiplin, dan sektor keuangan masih stabil.
Ke depan, OJK bakal fokus jaga stabilitas sistem keuangan sambil dorong pembiayaan dan kepercayaan investor lewat kebijakan yang hati-hati sepanjang 2026.
"Seluruh agenda tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, mendukung pembiayaan program prioritas pemerintah, serta memperkuat kepercayaan pelaku pasar dan investor,” kata Friderica selaku Pjs Ketua Dewan Komisioner OJK, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (6/2/2026).









