Menkes Tegaskan: Kanker Bisa Disembuhkan, Jangan Takut Skrining

Editor: AR Purba
Kamis, 5 Februari 2026 | 20:30 WIB
Menkes Tegaskan: Kanker Bisa Disembuhkan, Jangan Takut Skrining

astakom.com, Jakarta — Kanker bukan lagi vonis menakutkan jika ditemukan sejak dini. Dengan kemajuan teknologi medis saat ini, tingkat kesembuhan kanker tergolong tinggi, selama masyarakat berani melakukan deteksi dini.

Namun di tengah ketersediaan layanan dan teknologi, ketakutan untuk memeriksakan diri masih menjadi tantangan utama dalam penanganan kanker di Indonesia.

Hal tersebut ditegaskan Menteri Kesehatan RI Budi G. Sadikin saat membuka puncak peringatan Hari Kanker Sedunia di SQuare One Function Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (4/2/2026).

Menurut Menkes, banyak kasus kanker baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut akibat penundaan pemeriksaan.

“Kanker bisa disembuhkan, sama seperti penyakit lainnya. Masyarakat tidak perlu takut untuk memeriksakan diri. Jika diketahui di stadium satu, kesembuhan sangat mungkin terjadi. Apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini, harapan kesembuhan juga semakin tinggi,” ujar Menkes Budi.

70 Persen kematian akibat keterlambatan penanganan

Senada dengan Menkes, Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Murti Utami, yang akrab disapa Ami, memaparkan bahwa keterlambatan deteksi masih menjadi persoalan besar. Ia menyebutkan, sekitar 70 persen kematian akibat kanker di Indonesia disebabkan oleh keterlambatan penanganan.

“Terdapat sekitar 400 ribu kasus baru setiap tahunnya. Ini bukan sekadar angka, melainkan tentang masa depan keluarga yang terdampak. Saat ini, kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks) masih menjadi beban tertinggi,” jelas Ami.

Selain berdampak pada kesehatan, kanker juga menjadi beban ekonomi nasional. Penyakit ini termasuk kategori katastropik dengan pembiayaan tinggi. Negara tercatat mengalokasikan anggaran sebesar Rp5,9 triliun untuk perawatan kanker.

“Beban ini tidak hanya dirasakan oleh negara, tetapi juga berdampak secara ekonomi pada masyarakat,” tambahnya.

Target 40 juta skrining, realisasi masih jauh

Untuk menekan angka kematian dan pembiayaan tersebut, Kementerian Kesehatan meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara. Melalui program Cek Kesehatan Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan skrining terhadap 40 juta perempuan berusia di atas 30 tahun.

Namun hingga kini, partisipasi masyarakat masih jauh dari target. Menkes mengungkapkan, baru sekitar 4 juta orang yang datang untuk menjalani skrining. Hambatan utamanya adalah rasa takut dan penyangkalan (denial).

“Dari 4 juta yang diskrining, ditemukan sekitar 1.700 kasus kanker yang membutuhkan pengobatan. Mayoritas kasus ini berpotensi selamat jika ditangani segera. Mari kita dorong seluruh sasaran untuk datang ke Puskesmas, jangan menunggu sakit,” tegas Menkes.

Penyintas Jadi bukti nyata deteksi dini

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengapresiasi langkah pemerintah dalam menyediakan alat skrining hingga ke pelosok daerah. Sebagai penyintas kanker, Linda menegaskan bahwa deteksi dini memberikan peluang besar untuk sembuh.

“Saya mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk datang ke Puskesmas terdekat. Jika kanker payudara ditemukan pada tahap awal dan diobati secara medis, Anda pasti akan sehat kembali. Saya adalah buktinya,” pungkas Linda.

Gen Z Takeaway
Masalahnya bukan teknologinya—tapi takut cek. Data sudah jelas: kalau kanker ketahuan dari awal, peluang sembuh tinggi. Program gratis sudah ada, Puskesmas makin siap. Jadi, jangan nunggu sakit dulu baru sadar.

Kanker Bisa Disembuhka Kemenkes Kementrian Kesehatan menkes

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB