astakom.com, Jakarta – Pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, yang baru saja menegaskan posisinya buat tetap menolak pengakuan kedaulatan Palestina meskipun dirinya sudah fix bergabung dalam Board of Peace (Dewan Perdamaian).
Lewat pernyataan resminya pada Kamis (29/1/2026), Netanyahu memberikan peringatan keras bahwa fokus utamanya saat ini adalah melucuti seluruh kekuatan senjata Hamas sebelum proyek pembangunan ulang di Gaza dimulai.
Meskipun Presiden AS Donald Trump punya rencana besar lewat dewan baru ini, Netanyahu memberikan syarat mati bahwa rekonstruksi wilayah hanya bisa diproses jika demiliterisasi total sudah terjadi, sebuah langkah yang dinilai banyak pihak bakal sangat sulit karena Hamas diprediksi nggak akan mau lay down their arms begitu saja.
“Seperti yang saya sepakati dengan Presiden Trump hanya ada dua kemungkinan: ini akan dilakukan dengan cara mudah, atau akan dilakukan dengan cara sulit, tetapi dalam hal apa pun, itu akan terjadi,” kata Netanyahu tentang pelucutan senjata, seperti dikutip dari Times of Israel, Jumat, (30/1/2026).
“Saya sudah mendengar pernyataan bahwa kita akan mengizinkan rekonstruksi Gaza sebelum demiliterisasi. Itu tidak akan terjadi,” tegas Netanyahu.
“Negara Palestina di Gaza tidak akan terjadi,” tegas Netanyahu sekaligus dan memuji upayanya untuk “berulang kali” menghentikan pembentukan negara tersebut.
Dalam implementasi rencana 20 poin Trump, pembukaan gerbang perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir memang bakal segera dilakukan, namun dengan pemeriksaan yang super strict oleh pihak militer Israel bagi siapapun yang masuk atau keluar.
“Kami tidak akan mencegah siapa pun untuk pergi,” tambahnya.
“Israel akan mempertahankan kendali keamanan atas seluruh wilayah dari Sungai Yordan hingga laut, dan itu berlaku untuk Jalur Gaza juga,” katanya.
Sang Perdana Menteri juga menolak mentah-mentah ide masuknya pasukan asing dari Turki maupun Qatar ke wilayah Gaza, meskipun kedua negara tersebut sudah mendapatkan kursi dalam dewan pengawas bentukan Trump yang baru saja diresmikan di Davos, Swiss, pekan lalu.
Syarat Mutlak Rekonstruksi, Demiliterisasi atau Cara Keras
Netanyahu mengirim sinyal ke kancah global dengan menyebut bahwa pelucutan senjata di Gaza hanya punya dua opsi, lewat jalur yang mudah atau jalur yang sulit.
Baginya, pembangunan kembali wilayah tersebut tanpa adanya pembersihan senjata kelompok bersenjata adalah hal yang mustahil dan nggak bakal terjadi di bawah pengawasannya.
Strategi ini diambil demi memastikan kepentingan politik serta keamanan nasional Israel tetap berada di level tertinggi sebelum aliran dana bantuan internasional mulai masuk ke kantong-kantong proyek rekonstruksi.
Kontrol Ketat Perbatasan Rafah dan Mobilitas Pendatang
Terkait akses mobilitas warga, pintu perbatasan Rafah dijanjikan bakal terbuka kembali untuk dua arah dalam waktu dekat dengan kuota terbatas sekitar 50 orang ditambah anggota keluarga per hari.
Namun, jangan harap ada akses terbuka lebar untuk arus logistik atau barang, karena setiap individu yang melintas wajib melewati skrining menyeluruh dari pihak keamanan Israel.
Netanyahu menegaskan bahwa meskipun ia nggak bakal menghalangi orang yang mau pergi, pengawasan keamanan di Rafah tetap menjadi harga mati yang nggak bisa diganggu gugat.
Tolak Kehadiran Militer Turki dan Qatar di Jalur Gaza
Satu hal lagi yang bikin suasana makin awkward adalah penolakan tegas Netanyahu terhadap keterlibatan militer dari negara-negara regional seperti Turki dan Qatar di tanah Gaza.
“Saya mendengar bahwa kita akan membawa tentara Turki dan tentara Qatar ke Gaza. Itu juga tidak akan terjadi,” tambah Netanyahu.
Walaupun kedua negara tersebut sudah sah menjadi bagian dari badan pengawas pascaperang bentukan Trump, Netanyahu menjamin bahwa kaki-kaki tentara dari Ankara maupun Doha nggak akan pernah menginjakkan kaki di sana.
Hal ini menunjukkan betapa protektifnya Israel dalam menjaga dominasi keamanan di wilayah konflik tersebut tanpa mau berbagi kontrol dengan pihak asing.
Iuran Board of Peace Demi Kursi Pengawas
Lembaga Board of Peace yang baru saja diresmikan Trump di sela-sela pertemuan Davos pekan lalu memang bukan organisasi “kaleng-kaleng”.
Setiap negara anggota yang mau bergabung dan punya hak suara diwajibkan menyetor iuran fantastis sebesar USD1 miliar atau setara dengan Rp17 triliun.
Investasi besar ini diharapkan menjadi motor penggerak pembangunan Gaza, meskipun secara politik, perbedaan visi antara Israel dan beberapa anggota dewan lainnya soal masa depan Palestina masih menjadi api dalam sekam yang bisa meledak kapan saja.
Gen Z Takeaway
Netanyahu baru aja join “geng” perdamaiannya Trump, tapi dia tetep strict ogah akui Palestina. Dia Cuma mau Gaza dibangun kalau senjata Hamas udah habis dibersihin, baik pake cara halus atau kasar. Intinya, dia tetep pengen Israel yang pegang kendali penuh soal keamanan, dan gak mau ada tentara luar macam Turki atau Qatar ikut campur. Vibe perdamaiannya makin rumit nih!

