Menag Nasaruddin Umar Ungkap 2,67 Juta Siswa Madrasah Sudah Kenyang Makan Bergizi Gratis, Pesantren Siap Jadi SPPG!!
astakom.com, Jakarta – Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam Rapat Koordinasi Terbatas Rakortas tingkat menteri mengenai Tata Kelola Penyelenggaraan MBG di Jakarta pada Kamis (29/1/2026).
Beliau membocorkan kalau saat ini sebanyak 2,67 juta siswa yang bernaung di bawah Kementerian Agama sudah resmi menikmati manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Data paling update per 28 Januari menunjukkan ada sekitar 17.112 madrasah yang sudah terdaftar sebagai penerima, dan angka ini dipastikan bakal terus bertambah mengingat masih ada jutaan murid lain yang masuk daftar tunggu.
Fokus utama dari pergerakan “sat-set” ini adalah untuk memastikan gizi anak bangsa tetap terjaga sekaligus menggerakkan ekonomi lokal di sekitar lembaga pendidikan keagamaan.
Di sisi lain, sebanyak 3.264 pondok pesantren juga sudah aktif menerima asupan nutrisi dari program keren ini.Menag menjelaskan kalau pesantren dengan jumlah santri lebih dari 1.000 orang didorong buat “naik kelas” menjadi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mandiri, tujuannya biar jalur distribusi makanan nggak delay dan lebih efisien.
“Meskipun secara keseluruhan penerima masih sedikit, sekitar 20%, tapi pemerintah akan terus melakukan pendataan madrasah dan pesantren agar dapat secara rata menerima MBG.” Ujar menagKemenag juga sudah menyiapkan infrastruktur digital berupa Dashboard MBG buat memantau laporan secara real-time supaya datanya akurat dan nggak ada yang “main-main”.
Selain itu, aspek kehalalan makanan jadi harga mati dengan adanya sertifikasi halal yang sudah diuji petik di lima provinsi percontohan demi menjamin kualitas konsumsi siswa tetap syar’i dan higienis.Skema Ramadhan, Tetap Kenyang Pas Puasa Tanpa Skip Gizi
Menjelang bulan suci Ramadhan, Menko Pangan Zulkifli Hasan memastikan program ini nggak bakal wacana.“Program MBG tetap berjalan selama bulan Ramadhan, hanya saja ada penyesuaian di beberapa sekolah.” Ucapnya.
Format pemberian makanan buat siswa muslim di madrasah bakal dimodifikasi menjadi paket makanan kering atau bahan pangan bergizi agar bisa dibawa pulang buat buka puasa atau sahur.
Sementara buat para santri di pondok pesantren, jadwal makannya cuma digeser ke sore hari pas waktu berbuka.
Khusus buat siswa non-muslim, mereka tetap dapet jatah makan seperti biasa tanpa ada perubahan jadwal, jadi semua tetep dapet hak yang sama dan inklusif banget
Guru Madrasah Jadi Garda Terdepan Keamanan Pangan
Biar kualitas makanan nggak low-vibe, Kemenag sudah melakukan Training of Trainers (ToT) buat para guru dan tim UKS/M di seluruh provinsi.Para pendidik ini dilatih kemampuan alias jago ngecek rasa, bau, dan tekstur makanan biar standar keamanannya tetap top tier.
“Fokus utama ToT dan pelatihan ini adalah edukasi gizi dan kemampuan uji organoleptik bagi guru. Ini dilakukan agar kualitas makanan yang diterima siswa tetap terjaga standar keamanannya.” Ujar Menag.
Konsep Ekonomi Syariah, Pesantren Jadi Mandiri dan Berdaya
Nasaruddin Umar juga ngenalin konsep Skema MBG Berbasis Ekosistem Pondok Pesantren yang memanfaatkan sumber daya lokal kayak pertanian dan peternakan di sekitar lokasi.Dengan modal gabungan dari dana investasi dan dana sosial (Zakat, Infaq, Shadaqah), SPPG di pesantren diharapkan bisa mandiri secara finansial.
“Konsep program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan gizi anak bangsa, tetapi juga menggerakkan ekonomi kerakyatan di lingkungan sekitar lembaga pendidikan.” Jelas Menag
Jadi, program ini nggak cuma bikin perut kenyang, tapi juga bikin ekonomi warga sekitar pesantren makin stonks karena bahan bakunya diambil dari hulu ke hilir secara terintegrasi.
Target Anti-Stunting, Kolaborasi Lintas Lembaga Makin Solid
Tantangan soal integrasi data antar-kementerian memang masih ada, tapi Kemenag optimis target penurunan angka stunting bisa tercapai sebelum akhir tahun anggaran.Kolaborasi bareng Inkopontren dan Badan Gizi Nasional terus dipererat buat mastiin pengawasan standar nutrisi tetap berada di level tertinggi.
Dengan kebijakan afirmatif yang nyentuh wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), pemerintah pengen mastiin kalau akses gizi yang layak adalah hak semua anak bangsa tanpa terkecuali.











