Pemerintah Ngebut! Rehabilitasi Sumatera Pascabencana Tunjukkan Progres Signifikan
astakom.com, Jakarta — Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, yang juga menjabat Ketua Pengarah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, mengatakan bahwa proses pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera mengalami perkembangan yang signifikan
“Pemerintah pusat bersama kementerian dan lembaga telah bekerja keras dan progresnya bagus di lapangan. Namun ada beberapa hal yang perlu terus kita kawal. Kita berkomitmen membangun daerah terdampak menjadi lebih baik dan lebih tangguh,” ujar Menko PMK Pratikno dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Menko PMK memaparkan sejumlah langkah konkret yang sedang berjalan, seperti pembangunan infrastruktur pengendali risiko oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU), termasuk pendirian bendungan baru yang sebelumnya belum ada di kawasan terdampak bencana.
Perkembangan terbaru di 3 provinsi
Sementara itu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian selaku Ketua Pelaksana Satgas menyampaikan perkembangan terbaru kondisi di daerah terdampak.
Ia menjelaskan dampak bencana meliputi gangguan infrastruktur, layanan dasar, serta aktivitas sosial dan ekonomi di sejumlah wilayah.
Di Sumatera Barat, kata dia, dari 16 kabupaten/kota terdampak, lima daerah telah mendekati kondisi normal secara menyeluruh. Layanan rumah sakit daerah, sarana pendidikan, serta akses jalan nasional telah kembali berfungsi, dan aktivitas ekonomi masyarakat mulai pulih.
Di Sumatera Utara, lanjutnya, sebanyak 11 kabupaten/kota telah mendekati kondisi normal. Sementara di Aceh, terdapat delapan kabupaten/kota yang masih memerlukan perhatian khusus, sembilan kabupaten/kota mendekati normal, dan satu kabupaten/kota telah kembali normal.
Percepat rekonstruksi rumah dan infrastruktur
Mendagri juga menyampaikan bahwa pemerintah terus mempercepat rekonstruksi rumah dan infrastruktur terdampak, serta memastikan distribusi bantuan berjalan efektif.
Penguatan kawasan rawan bencana turut dilakukan melalui pembangunan infrastruktur pengaman, termasuk pemanfaatan material lokal untuk memperkuat kawasan strategis.











